Kenal 6 Tahun, Mantan Pegawai Ungkap Sifat Asli Ferdy Sambo

Merdeka.com - Merdeka.com - Ariyanto, mantan Pegawai Harian Lepas (PHL) Propam Polri mengungkap sifat bosnya Ferdy Sambo. Menurut dia, mantan bosnya tersebut memiliki sifat temperamen atau pemarah.

Pengakuan itu disebutkan Ariyanto ketika dirinya jadi saksi dalam sidang kasus obstruction of justice pembunuhan Brigadir J di PN Jakarta Selatan, Kamis (10/11).

Ariyanto ditanyakan oleh Tim Penasihat Hukum Terdakwa Irfan Widiyanto, perihal latar belakang pekerjaan yang menjabat sebagai PHL untuk membantu Ferdy Sambo.

"Bekerja sebagai PHL Propam kurang lebih 2 tahun?" kata salah satu tim penasihat hukum saat sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (10/11).

"Iya sudah 2 tahun," kata Ariyanto.

Namun nyatanya, Ariyanto mengaku telah ikut bekerja melayani Ferdy Sambo kurang lebih enam tahun sedari pangkat Komisaris Besar (Kombes).

"Saya menjadi PHL beliau itu saat beliau masih pangkat Kombes, kurang lebih mengenal 5 sampai 6 tahun," kata Ariyanto.

Kemudian, Ariyanto mengatakan, gambaran sikap Ferdy Sambo yang memiliki sisi temperamen di kala ada anak buah yang salah dalam melakukan pekerjaan.

"Selama bekerja 5 tahun tidak pernah ditegur, tidak pernah ada kesalahan. Sempurna pekerjaan saksi?" kata penasihat hukum.

"Kalau masalah pekerjaan yang tidak sesuai pasti dimarahi," kata Ariyanto.

"Temperamen berarti?" ujar Penasihat Hukum.

"Iya," singkat Ariyanto membenarkan.

Kesaksian Ariyanto

Dalam persidangan Ariyanto sempat menceritakan rangkaian cerita ketika disuruh mengambil DVR CCTV di pos security rumah dinas Ferdy Sambo di Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga Jakarta Selatan.

Berawal dari Ariyanto yang sedang di rumah pribadi Ferdy Sambo di kawasan Jalan Saguling. Lalu bertemu dengan anak buah Ferdy Sambo, Chuck Putranto yang meminta diambilkan DVR CCTV di kawasan rumah dinas Ferdy Sambo.

"Beliau (Chuck) hanya sampaikan nanti ada titipan CCTV dari Pak Irfan untuk diambil," kata Ariyanto saat sidang perkara obstruction of justice atas terdakwa Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria Adi Purnama, di PN Jakarta Selatan, Kamis (10/11).

Arahan dari Ariyanto untuk bertemu dengan Irfan yang dimaksud adalah Terdakwa Irfan Widyanto seorang anggota Bareskrim Polri yang merupakan anak buah AKBP Ari Cahya Nugraha alias Acay.

Setelah mendapat arahan tersebut, Ariyanto langsung menelepon Irfan terkait permintaan mengambil CCTV. Dimana mereka ternyata sudah saling mengenal satu sama lain.

"Mohon izin pak, saya diperintah Pak Chuck untuk menerima CCTV," ujar Ariyanto.

"Irfan bilang apa?" tanya jaksa penuntut umum (JPU).

"Ke sini ambil saja di pos. Pos kompleks Polri Duren Tiga," ujar Ariyanto.

Ariyanto langsung menuju pos yang dekat dengan rumah dinas Ferdy Sambo. Namun begitu, dia mengaku kala itu belum mengetahui peristiwa penembakan terhadap Brigadir J.

Ketika sampai dan bertemu dengan Irfan, Ariyanto langsung ditunjukan DVR CCTV yang telah terbungkus kantong plastik hitam dengan lakban. Barang tersebut lalu diserahkan Chuck yang telah menunggu di rumah pribadi Ferdy Sambo di Saguling.

"Satu kantong plastik segini (diperagakan) lalu dilakban, jadi saya enggak tahu isinya apa. Cuma karena perintahnya suruh bawa, ya saya bawa," kata Ariyanto

"Langsung ketemu Pak Chuck. Saya bilang 'Pak ini titipan dari Pak Irfan'. Kata Pak Chuck 'ya sudah taruh saja di bagasi mobil', seperti itu," tambah Ariyanto.

Ariyanto mengatakan, mobil tersebut adalah Kijang Innova itu berwarna hijau army. Setelah itu, dia tak bertemu lagi dengan Chuck usai DVR CCTV diserahkan.

Dakwaan Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa.

[rnd]