Kenali 7 Modus Penipuan Online yang Seringkali Terjadi

·Bacaan 4 menit
ilustrasi Cek Fakta (Liputan6.com/Trie yas)
ilustrasi Cek Fakta (Liputan6.com/Trie yas)

Liputan6.com, Jakarta- Penipuan online semakin marak terjadi di sekitar kita seiring dengan meningkatnya kegiatan di dunia maya, salah satu motif penipuan online dibungkus dengan informasi hoaks.

Sebab itu, kita perlu mengetahui apa saja ciri-ciri modus penipuan digital yang sering muncul dan cara menghindarinya, agar tak jadi korban penipuan digital.

Dilansir dari cermati, kenali modus penipuan online:

1. Modus penipuan berkedok foto selfie dengan identitas diri

Selfie atau swa foto adalah hal biasa yang dilakukan banyak orang. Bahkan berkat kecanggihan teknologi, swa foto dengan KTP (Kartu Tanda Penduduk) kerap dijadikan sebagai salah satu cara paling cepat dan modern dalam melakukan registrasi layanan online.

Sayangnya, apabila Anda tidak berhati-hati, foto selfie dengan identitas Anda bisa jadi sasaran empuk penipuan digital. Sebaiknya, Anda jangan pernah mengunggah foto selfie dengan memegang kartu identitas seperti KTP, SIM, NPWP hingga Kartu Kredit di platform sosial media (Facebook, Instagram, Twitter, TikTok), maupun website dan aplikasi yang tidak Anda kenal.

2. Modus penipuan via WhatsApp

Modus penipuan melalui aplikasi komunikasi online WhatsApp yang umum terjadi adalah kiriman link hadiah atau voucher diskon. Anda harus waspada dengan hal ini sebab apabila Anda meng-klik tautan link tersebut lalu Anda diarahkan untuk mengisi data diri pribadi sebagai syarat penebusan hadiah, maka itu adalah penipuan.

Apabila tiba-tiba Anda mendapat pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal maupun dari grup atau kerabat yang menyebar link hadiah/promosi/diskon, hiraukan saja. Agar aman, hapus saja link tersebut dan jangan pernah tergoda untuk mengkliknya, karena bisa jadi link tersebut telah disusupi malware atau virus yang bisa menyalin data-data di ponsel Anda.

3. Modus penipuan ganti nomor ponsel atau SIM Swap Fraud

SIM swap fraud adalah modus dimana penipu akan mengambil alih akun media sosial atau akun bank korban dengan menggunakan nomor kartu SIM. Penipu bisanya melakukan penyusuran melalui akun media sosial korban hingga mendapatkan data pribadi seperti nama lengkap, tanggal lahir, nama ibu kandung.

Setelah pelaku sudah memiliki data korban, pelaku mendatangi gerai seluler dan meyakinkan operator seluler untuk melakukan ganti nomor ponsel korban dan mengurus kembali nomor baru. Setelah berhasil mendapatkan nomor baru, penipu akan dengan mudah melakukan transaksi perbankan dan menguasai akun digital lainnya sebab kode OTP akan dikirimkan ke nomor baru yang dimiliki oleh pelaku.

4. Modus penipuan via SMS

Modus penipuan melalui SMS tergolong jadul tapi masih marak terjadi. Pastinya, Anda sendiri sering mendapatkan pesan melalui SMS, yang isinya mulai dari tawaran pinjaman kilat, hingga informasi menang hadiah menggiurkan seperti uang tunai, mobil, motor hingga emas logam mulia.

Umumnya, ciri modus penipuan via SMS ini adalah isi SMS berupa link dengan ajakan untuk mengklik link tersebut atau membalas SMS dengan menyertakan informasi seperti nomor identitas KTP, rekening bank, kode OTP (One-Time Password)(OTP), atau tiga digit nomor Card Verification Value (CVV).

5. Modus penipuan via telepon

Anda jangan gembira dulu apabila mendapatkan telepon dengan kabar menang undian. Waspadai modus penipuan klasik ini, karena zaman now ada banyak modus penipuan dengan cara mengaku dari pihak-pihak perbankan, perusahaan e-commerce (Shopee, Tokopedia, BukaLapak, dll) hingga dompet digital, lalu mengabarkan berita kejutan bahagia bahwa Anda menang sejumlah uang tunai yang akan ditransfer ke rekening bank Anda.

Ciri dari penipuan via telp ini mudah dikenali, yakni menginformasikan Anda menang undian, kemudian syarat menebus undian tersebut adalah Anda diminta untuk memberikan nomor rekening ataupun nomor handphone yang aktif di dompet digital (OVO, Go-Pay, Dana, LinkAJa), dan kode OTP.

6. Modus penipuan via e-mail

Penipuan via email ini juga kerap terjadi hingga saat ini. Cirinya, penipu akan mengirimkan pesan melalui email yang berisikan link website tertentu. Lalu, Anda akan digiring untuk membuka situs tersebut, login dan mengisikan username dan password.

Nah, Anda harus berhati-hati sebab modus penipuan via email ini biasanya berkedok seperti tawaran lowongan kerja, menang undian hadiah, update data perbankan ataupun online shop dan lain sebagainya.

Modus penipuan ini biasa dikenal dengan phishing. Yakni suatu metode pencurian informasi penting seperti username dan password korban yang akan digunakan penipu digital untuk akses ke rekening bank/kartu kredit/dompet digital korban. Jadi, sebaiknya Anda jangan gegabah atau terburu-buru meng-klik email tak dikenal, selalu teliti kembali link URL situs website sebelum login atau transaksi online.

7. Modus penipuan atas nama bank

Modus penipuan mengatasnamakan bank masih kerap terjadi. Cirinya, umumnya penipu akan menghubungi atau mengirimkan pesan singkat melalui SMS/WhatsApp dan menginformasikan kepada nasabah untuk memperbaharui data-data pribadinya.

Modus penipuan phishing untuk mendapatkan data-data seperti username dan password saat transaksi online di internet banking harus Anda waspadai. Penipu akan menyamar dari pihak bank dan mengatakan bahwa Anda wajib untuk segera memperbaharui atau update data Anda agar tidak diblokir oleh pihak bank.

Ingat, hal seperti ini jelas penipuan, Anda harus ketahui bahwa pihak bank tidak pernah menghubungi nasabahnya dari nomor ponsel seperti +62 123 456 789 maupun mengirimkan link yang isinya meminta untuk update data diri.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.