Kenali 7 Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional

·Bacaan 10 menit
Kenali 7 Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional
Kenali 7 Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional

RumahCom – Meskipun rumah masuk dalam kebutuhan primer, tetap saja sebagian dari Anda masih pusing tujuh keliling ketika memutuskan membelinya. Rasanya sudah menabung dari lama tetapi jumlahnya masih belum mencukupi untuk membeli rumah. Persoalannya memang selalu klise harga properti selalu melambung tinggi setiap tahunnya.

Salah satu solusinya mungkin Anda bisa membeli rumah dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Merujuk Otoritas Jasa Keuangan, KPR dari bank dapat membantu Anda memperoleh rumah dengan cara dicicil dalam waktu yang fleksibel, umumnya maksimal 20 tahun atau disesuaikan dengan kemampuan pembayaran dan ketentuan masing-masing bank.

Saat ini dikenal ada 2 jenis KPR. Pertama KPR Subsidi yang diperuntukkan kepada masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan atau perbaikan rumah yang telah dimiliki. Kedua KPR Non Subsidi, yaitu suatu KPR yang diperuntukan bagi seluruh masyarakat.

Ketentuan KPR sendiri ditetapkan oleh bank, sehingga penentuan besarnya kredit maupun suku bunga dilakukan sesuai kebijakan bank yang bersangkutan. Skemanya juga bisa Anda pilih lewat KPR konvensional atau pembiayaan KPR syariah.

Lantas apa perbedaan bank konvensional dan bank syariah terkait produk KPR? Secara garis besar, KPR syariah tidak menerapkan bunga bank yang sifatnya naik turun dan tidak bisa diprediksi, sehingga cicilannya tetap hingga masa berakhirnya KPR. Sementara KPR konvensional memang lebih dipengaruhi resiko bunga yang naik turun. Sehingga memang secara risiko bisa lebih tinggi dibandingkan cicilan KPR syariah.

Namun yang jelas keduanya juga sudah melalui proses pengecekan kemampuan bayar calon konsumen di Bank Indonesia (BI Checking). Sekarang pilihannya ada di tangan Anda, mau memanfaatkan fasilitas yang mana? Jika masih bingung, panduan kali ini akan membantu Anda lebih detail dalam mengenali sistem dan perbedaan bank konvensional dan bank syariah.

  1. Seputar Bank Konvensional dan Bank Syariah
    1. Pengertian Bank Konvensional
    2. Pengertian Bank Syariah

  2. 7 Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional
    1. Sistem Operasional
    2. Sistem Kelola Dana
    3. Sistem Pembagian
    4. Sistem Bunga
    5. Sistem Denda Keterlambatan
    6. Dipantau Dewan Pengawas
    7. Dasar Hukum Berlaku

  3. Hal yang Harus Diperhatikaan Saat Memilih Bank untuk KPR

7 Tips Cicil Rumah yang Efektif dan Cepat Lunas
7 Tips Cicil Rumah yang Efektif dan Cepat Lunas

Mengajukan KPR dan Mengatur Cicilan

7 Tips Cicil Rumah yang Efektif dan Cepat Lunas

1. Seputar Bank Konvensional dan Bank Syariah

Dalam sistem perbankan di Indonesia terdapat dua macam sistem operasional perbankan, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Sumber: Wikipedia
Dalam sistem perbankan di Indonesia terdapat dua macam sistem operasional perbankan, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Sumber: Wikipedia

Dalam sistem perbankan di Indonesia terdapat dua macam sistem operasional perbankan, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Sumber: Wikipedia

Di era digitalisasi saat ini tentunya sudah banyak dari Anda yang melek soal keuangan. Anda pastinya sering menggunakan jasa bank untuk transaksi keuangan. Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan, secara umum bank dapat diartikan sebagai badan usaha yang kegiatan utamanya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan serta menyalurkannya dalam bentuk kredit dan jasa lainnya.

Nah, ternyata dari ribuan bank yang tersebar di seluruh Indonesia, bank-bank tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis ditinjau dari tugas atau fungsinya. Ketiga jenis Bank tersebut adalah Bank Sentral, Bank Umum Konvensional atau Syariah, dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) atau Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Namun dalam sistem perbankan di Indonesia terdapat dua macam sistem operasional perbankan, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Mari bahas satu-persatu supaya Anda bisa memahami perbedaan bank konvensional dan bank syariah

A. Pengertian Bank Konvensional

Sesuai namanya, bank ini menjalankan kegiatannya secara konvensional. Bank ini dapat memberikan seluruh jasa perbankan yang ada. Jenis usaha bank-bank konvensional mencakup:

  • Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro

  • Deposito berjangka, sertifikat deposito, dan tabungan

  • Memberikan kredit/pembiayaan

  • Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah

  • Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga

  • Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek.

Selain dari jenis usahanya, salah satu yang menjadi perbedaan adalah modal yang harus disetor untuk mendirikan bank umum, minimal sebesar Rp3 triliun. Modal ini tentunya tidak boleh berasal dari pinjaman/pembiayaan dari bank/pihak lain di Indonesia apalagi dari dana yang berasal dari pencucian uang.

B. Pengertian Bank Syariah

Sesuai UU No. 21/2008 tentang Perbankan Syariah, bank syariah merupakan bank yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau prinsip hukum islam yang diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia seperti prinsip keadilan dan keseimbangan ('adl wa tawazun), kemaslahatan (maslahah), universalisme (alamiyah), serta tidak mengandung gharar, maysir, riba, zalim dan obyek yang haram.

Selain itu, UU Perbankan Syariah juga mengamanahkan bank syariah untuk menjalankan fungsi sosial dengan menjalankan fungsi seperti lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai kehendak pemberi wakaf (wakif).

Untuk menjamin pemenuhan kepatuhan syariah ada lembaga yang memiliki peran penting adalah Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. DSN-MUI diberikan kewenangan untuk menerbitkan fatwa kesesuaian syariah suatu produk bank. Seluruh produk perbankan syariah hanya boleh ditawarkan kepada masyarakat setelah bank mendapat fatwa dari DSN-MUI dan memperoleh izin dari OJK.

Secara umum terdapat bentuk usaha bank syariah terdiri atas Bank Umum dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), dengan perbedaan pokok BPRS dilarang menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas sistem pembayaran. Secara kelembagaan bank umum syariah ada yang berbentuk bank syariah penuh (full-pledged) dan terdapat pula dalam bentuk Unit Usaha Syariah (UUS) dari bank umum konvensional.

2. 7 Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional

KPR syariah yang ditawarkan oleh bank syariah atau UUS mengadaptasi prinsip syariah yang bebas dari riba.. Sumber: Pixabay
KPR syariah yang ditawarkan oleh bank syariah atau UUS mengadaptasi prinsip syariah yang bebas dari riba.. Sumber: Pixabay

KPR syariah yang ditawarkan oleh bank syariah atau UUS mengadaptasi prinsip syariah yang bebas dari riba.. Sumber: Pixabay

Secara garis besar hal-hal yang menjadi perbedaan bank konvensional dan bank syariah terletak pada sistem bunga bank dengan prinsip bagi hasil bank syariah. Hal ini pula yang membuat produk KPR bank konvensional juga berbeda dengan KPR konvensional.

KPR syariah yang ditawarkan oleh bank syariah atau UUS mengadaptasi prinsip syariah yang bebas dari riba. Perbedaan yang paling signifikan antara KPR/KPA yang ditawarkan oleh bank konvensional dengan KPR syariah terletak pada proses transaksi. Pada KPR/KPA konvensional yang dilakukan adalah transaksi uang, sedangkan KPR syariah melakukan transaksi barang.

Bahkan apabila Anda memilih akad murabahah (jual-beli) maka cicilan yang harus dibayarkan setiap bulan bersifat tetap dan tidak tergantung pada suku bunga Bank Indonesia (BI rate). Tentunya berbeda dengan KPR/KPA di bank konvensional yang suku bunga akan mengikuti naik-turun BI rate. Berikut ini tujuh perbedaan bank konvensional dan bank syariah yang perlu diketahui.

1. Sistem Operasional

Pengoperasian bank syariah disesuaikan dengan prinsip syariat Islam. Prinsip syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa dibidang syariah. Prinsip operasional yang diterapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah prinsip Wadi'ah dan Mudharabah.

Jauh berbeda dengan bank syariah, bank konvensional berdasarkan kepada prinsip sekuler yang terbebas dari nilai-nilai agama. Dengan kata lain aktivitasnya berdiri sendiri, terpisah dari pengaruh agama atau kepercayaan tertentu. Bank konvensional bebas melakukan kegiatan apa saja selama tidak diatur dan melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Sistem Kelola Dana

Dengan falsafah tidak berdasarkan bunga, bank syariah dari sisi operasional menganggap kalau dana masyarakat berupa titipan investasi yang baru akan mendapatkan hasil jika diusahakan terlebih dahulu. Penyaluran dananya akan dilakukan pada sektor usaha yang halal dan menguntungkan.

Sementara itu dengan falsafah berdasarkan bunga, bank konvensional memandang kalau dana masyarakat berupa simpanan yang harus dibayar bunganya pada saat jatuh tempo Penyaluran pada sektor yang menguntungkan tanpa memperhitungkan halal atau tidak

Baca juga: Informasi dan Penjelasan Appraisal Sebagai Taksiran Nilai Properti

3. Sistem Pembagian

Sistem pembagian ini dikenal bagi pelaku bank syariah karena tidak beroperasi dengan sistem riba. Pada mekanisme lembaga keuangan syariah atau bagi hasil, pendapatan bagi hasil ini berlaku untuk produk-produk penyertaan, baik penyertaan menyeluruh maupun sebagian–sebagian, atau bentuk bisnis korporasi (kerjasama).

Penentuan besarnya nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada untung dan rugi. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh. Bagi hasil bergantung pada kentungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian di tanggung bersama oleh kedua belah pihak. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan

4. Sistem Bunga

Bank konvensional memberlakukan sistem bunga. Penentuan bunga dibuat pada waktu perjanjian dengan asumsi harus selalu untung. Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjam.

Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan nasabah untung atau rugi. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang dalam kondisi baik.

5. Sistem Denda Keterlambatan

Berdasarkan fatwa DSN-MUI No. 17/DSN-MUI/IX/2000 tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu yang Menunda-nunda Pembayaran mengatur apabila nasabah tidak bisa membayar dikarenakan force majeur, maka ia tidak boleh dikenakan sanksi. Sanksi dalam bentuk denda bisa diberikan apabila nasabah yang mampu sengaja menunda-nunda pembayaran atau mempunyai itikad tidak baik untuk membayar. Sanksi tersebut dapat berbentuk uang yang besarnya dibuat saat akad ditandatangani.

Sebaliknya bank konvensional memiliki kebijakan bagi nasabah yang default akan dibebankan uang tambahan (bunga). Bunga ini akan berbunga kembali apabila nasabah tidak mampu membayar di waktu berikutnya sehingga tagihan akan semakin membesar jumlah. Hal ini dikenal dengan istilah compound of interest.

Tip Rumah

Meski ada banyak perbedaan, namun bank syariah dan bank konvensional mempunyai fungsi yang sama, yakni menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat. Kendati demikian, sejumlah prinsip operasi turut membedakan keduanya.

6. Dipantau Dewan Pengawas

Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk di bank syariah dan bank konvensional yang memiliki UUS maupun BPRS. Dewan Pengawas Syariah(DPS) diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia. Dewan Pengawas Syariah bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi serta mengawasi kegiatan Bank agar sesuai dengan Prinsip Syariah.

Sangat berbeda dengan bank konvensional yang tidak ada lembaga sejenis dengan Dewan Pengawas Syariah.

7. Dasar Hukum Berlaku

Karena prinsip syariah yang berlaku khusus, landasan hukum bank syariah juga diatur secara khusus. Diantaranya UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang diamendemen dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 dan peraturan pelaksanaanya dinyatakan tetap berlaku berlaku selama tidak bertentangan dengan UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah Di samping UU tersebut, bank syariah juga harus patuh dengan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh BI / OJK dan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh DSN-MUI.

Sementara itu, bank konvensional hanya cukup patuh pada UU Perbankan dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh BI/OJK saja.

3. Hal yang Harus Diperhatikan Saat Memilih Bank untuk KPR

Hati-hati dengan maraknya penawaran KPR murah berbunga rendah. Sumber: BCA
Hati-hati dengan maraknya penawaran KPR murah berbunga rendah. Sumber: BCA

Hati-hati dengan maraknya penawaran KPR murah berbunga rendah. Sumber: BCA

Memilih KPR sebagai alternatif untuk membeli rumah memang membuat Anda tidak harus menyediakan dana secara tunai untuk membeli rumah. Nasabah hanya cukup menyediakan uang muka. Karena KPR memiliki jangka waktu yang panjang, angsuran yang dibayar dapat diiringi dengan ekspektasi peningkatan penghasilan.

Tapi tetap saja, Anda harus berhati-hati ketika menentukan pilihan KPR.Hati-hati dengan maraknya penawaran KPR murah berbunga rendah. Pahami terlebih dahulu tentang skema bunga KPR dan pastikan kembali untuk menghitung secara keseluruhan bunga yang ditawarkan agar dapat melihat apakah promo bunga yang ditawarkan benar-benar terjangkau atau justru lebih tinggi.

Jika Anda beruntung mendapatkan promo bunga KPR yang ramah di kantong untuk periode waktu tertentu, maka segera manfaatkan fasilitas tersebut untuk mengatur kembali kondisi keuangan agar memiliki ruang lebih dengan ditabung.

Untuk membeli properti dengan KPR tidak hanya memperhitungkan down payment (DP) atau uang muka, tetapi juga ada komponen biaya lainnya seperti biaya administrasi, biaya provisi, biaya asuransi, biaya notaris, biaya pengikatan agunan, biaya pajak dan balik nama terkait jual beli properti yang harus dilakukan. Untuk pembelian dari perorangan, beberapa bank juga mengenakan biaya penilaian agunan.

Itulah hal yang perlu Anda perhatikan saat memilih bank untuk pengajuan KPR. Ada juga rekomendasi rumah baru wilayah Jawa Tengah terjangkau di atas Rp700 jutaan yang bisa Anda miliki.

Simak cerita Rumah Raumanen: Single parent yang terpaksa jual rumah demi anak dalam video berikut ini!

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya
Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Tanya Rumah

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya