Kenali Anak dengan Mainan Edukatif Ramah Lingkungan

·Bacaan 3 menit

VIVA – Sebagian besar anak-anak saat ini lebih menyukai permainan di gawai. Namun, efek buruknya, gawai ini bisa membuat anak kecanduan hingga bisa berdampak buruk pada psikologisnya.

Karena itu, orangtua harus bijak dalam memilih mainan anak. Salah satunya adalah mainan edukatif yang jauh dari penggunaan gawai seperti mainan edukasi. Apalagi pertumbuhan industri mainan anak di Indonesia menunjukkan tren positif dalam tiga tahun terakhir.

Data dari Kementerian Perindustrian baru baru ini, pengapalan produk mainan anak menembus US$ 320 juta sepanjang 2018 dan melonjak tajam menjadi US$343 juta pada 2020. Selain itu, saat ini ada lebih dari 131 unit usaha mainan anak pada skala industri menengah di Indonesia.

Industri mainan anak merupakan sektor padat karya yang memiliki orientasi ekspor yang mumpuni. Apalagi Indonesia merupakan pasar yang besar, ini menjadi peluang bagi pengembangan industri anak. Tak ayal, pemerintah pun terus mendorong industri mainan anak di tanah air semakin meningkatkan inovasi produknya sehingga mampu berdaya saing dengan produk impor.

Salah satu produsen lokal untuk mainan dan interior anak, Letter In Pine pun turut merasakan tren positif dari performa industri mainan di tanah air. Di tengah pandemi, brand lokal ini berhasil mencatat total pertumbuhan penjualan hingga 45 persen setiap bulan.

Letter In Pine sendiri merupakan brand lokal asal Semarang yang berfokus pada produksi mainan edukasi,mainan montessori serta interior anak yang terbuat dari kayu dengan desain klasik namun menampilkan sentuhan modern.

“Produk dalam negeri memiliki kualitas yang tak kalah dengan produk luar negeri. Letter In Pine terus berinovasi dalam menghadirkan mainan dan interior anak yang memiliki kualitas terbaik dan bersaing di pasar internasional. Misi kami ingin membuktikan bahwa kualitas mainan edukasi produksi UMKM lokal memiliki kualitas yang setara dengan produsen luar negeri, sehingga masyarakat bangga akan produk Indonesia,” kata Brand Founder Letter In Pine, Adhiprana Waraputra .

Adhi juga menambahkan hingga saat ini pertumbuhan penjualannya terus meningkat setiap bulannya. Jumlah produk yang terjual juga mengalami peningkatan sebesar 2 kali pada tahun 2021 kuartal 1 dibandingkan tahun 2020 di kuartal yang sama.

Letter In Pine juga telah memiliki sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga kualitas produknya sesuai dengan penerapan standar mainan anak yang diberlakukan secara wajib oleh pemerintah. Dengan memiliki sertifikat SNI mampu meningkatkan daya saing produk dalam negeri serta menembus pasar ekspor.

Memberdayakan perajin Lokal

Dalam pertumbuhannya, Letter In Pine terus berusaha untuk berkomitmen memberdayakan pereajin lokal, agar mereka juga teredukasi dan semakin inovatif. Berawal dari 5 orang perajin lokal, hingga saat ini Letter In Pine berhasil menyerap sebanyak 35 perajin lokal yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, yaitu Semarang, Klaten, dan Ambarawa

Menjaga Lingkungan

Dengan menggunakan bahan dasar kayu, Letter In Pine memberlakukan prinsip pengelolaan hutan lestari, artinya hutan akan tetap produktif dan lestari bukan dengan pembalakan hutan secara liar. Untuk kelestarian lingkungan, Letter In Pine juga menggunakan bahan-bahan cat food grade yang aman dan ramah untuk lingkungan serta aman pula untuk anak dan bayi.

Cat yang digunakan sudah mendapatkan sertifikat dan sesuai standard European Chemicals Agency (ECHA) Reach Regulation serta teruji di laboratorium LPPT-UGM. Letter In Pine juga berkomitmen untuk terus meminimalkan penggunaan plastik sebagai kemasan pengiriman dengan secara bertahap mengganti plastik menjadi honeycomb paper.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel