Kenali Bentuk Aktivitas Seksual Fetish dan Cara Mengobatinya

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan kasus fetish di tanah air. Setidaknya ada dua laporan kasus mengenai fetish ini pada tahun 2020 lalu.

Pertama, kasus dugaan fetish ini dilakukan oleh mahasiswa berinisial G yang merupakan mahasiswa dari Universitas kenamaan di Surabaya. Dia diketahui memiliki fetish dengan membungkus korbannya menggunakan jarik.

Korban G diminta untuk membungkus diri dengan lakban dan kain jarik. G mengaku ingin tahu reaksi yang ditimbulkan dari penelitiannya.

Kasus kedua, melibatkan seorang dosen perguruan tinggi di Yogyakarta, berinisial BA. Modus yang digunakan yakni dengan kedok membuat penelitian tentang swinger atau hubungan seks bertukar pasangan.

Lantas apa itu fetish? Dilansir dari laman MSD Manual Professional Version, fetish adalah metode yang disukai untuk menghasilkan gairah seksual. Namun, dalam bahasa umum, kata ini sering digunakan untuk menggambarkan minat seksual tertentu, seperti bermain peran seksual, preferensi untuk karakteristik fisik tertentu, dan aktivitas atau objek seksual yang disukai.

Gangguan fetisisme mengacu pada rangsangan seksual yang intens dan berulang karena penggunaan benda mati atau dari fokus yang sangat spesifik pada bagian tubuh non-genital (atau bagian-bagian) yang menyebabkan tekanan signifikan atau gangguan fungsi.

Fetishisme adalah bentuk paraphilia (istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan penyimpangan seksual), tetapi kebanyakan orang yang memiliki fetishisme tidak memenuhi kriteria klinis untuk gangguan paraphilic, yang mengharuskan perilaku, fantasi, atau dorongan kuat orang tersebut menghasilkan tekanan klinis yang signifikan atau gangguan fungsional.

Ada banyak benda fetish yang umum antara lain celemek, sepatu, barang-barang dari kulit atau lateks, dan pakaian dalam wanita. Fetish dapat menggantikan aktivitas seksual khas dengan pasangan atau dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas seksual dengan pasangan yang bersedia.

Fetish mungkin termasuk pakaian dari lawan jenis (misalnya, pakaian dalam wanita), tetapi jika gairah seksual terjadi terutama karena mengenakan pakaian itu (yaitu, cross-dressing) daripada menggunakannya dengan cara lain, paraphilia dianggap transvestisme atau bentuk gangguan perilaku seksual parafilia atau ketertarikan seksual pada hal yang tidak biasa atau tabu.

Bagi mereka yang memiliki fetish dapat melakukan sejumlah pengobatan mulai dari psikoterapi, obat-obatan, atau keduanya.