Kenali Dampak Negatif dari Kebiasaan Mengisap Jempol dan Ngempeng

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Mengisap jempol dan dot atau empeng secara terus menerus bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan anak. Memang, perilaku ini dapat menenangkan sekaligus menghibur anak-anak saat mereka lapar, bosan maupun kelelahan. Tapi jangan sampai menjadikan kebiasaan yang sulit dilepaskan.

Dikutip dari KlikDokter, kebiasaan mengisap jempol yang juga disebut sebagai thumb sucking ini bisa membuat pertumbuhan gigi dan kontur rahang menjadi tidak proporsional dan optimal. Akibatnya, bisa terjadi maloklusi gigi.

Gigi atas akan terdorong ke arah depan, membuat gigi anak jadi lebih maju dari yang seharusnya alias tonggos, terjadi gigitan terbuka dan tidak selaras serta berisiko gigi tumbuh bertumbuh. Tak cuma itu, langit-langit mulut akan berubah menjadi lebih sempit dan dalam. Bila dibiarkan, kondisi tersebut bisa berdampak pada proses mengunyah makanan pada anak.

Sama seperti mengisap ibu jari, mengisap dot atau empeng secara terus-menerus bisa memengaruhi kesehatan mulut anak, yang mana bisa membuat perkembangan gigi dan rahang yang normal jadi terganggu.

Risiko Penyakit Infeksi

Dilansir dari KlikDokter, drg. Callista Argentina menjelaskan ketika anak mengisap jempol dan tidak membersihkan tangan terlebih dulu, kuman dapat masuk ke dalam tubuh. Sehingga hal tersebut harus diwaspadai oleh orang tua, karena bisa meningkatkan risiko penyakit infeksi.

Dampak anak bayi yang ngempeng juga tidak jauh berbeda mengisap jempol. Meski kebersihan empeng dapat lebih diperhatikan, namun kebiasaan ini dapat menyebabkan gangguan menyusu, seperti bingung puting pada si kecil.

Cara Mengatasi Anak yang Suka Isap Jempol dan Ngempeng

Untuk mengatasi anak yang suka isap jempol dan ngempeng, Bunda bisa melakukan sejumlah upaya berikut ini;

Pertama, Bunda bisa memberikan isyarat untuk mencegah bila bayi sudah mulai memasukkan jarinya ke dalam mulut. Selanjutnya, Orang mengalihkan perhatiannya dengan hal lain, seperti mainan, terutama yang perlu dipegang menggunakan kedua tangannya

Kedua, perhatikan kondisi anak sebelum mengisap jempol maupun ngempeng. Apakah anak lapar, bosan, atau lelah? Segera selesaikan masalah sesuai dengan keinginannya. Jangan anggap mengisap jempol dan empeng sebagai solusi untuk setiap keluhan si Kecil.

Ketiga, berilah pelukan dan kata-kata yang menenangkan kepada si Kecil agar ia bisa menghentikan kebiasaan tersebut.

Keempat, Bunda bisa mengoleskan produk yang aman dengan rasa tidak enak pada empeng si Kecil. Tujuannya, agar anak tidak betah berlama-lama mengisapnya. Tanyakan ke dokter anak mengenai produk yang aman.

Kelima, berikan anak penjelasan tentang bahaya akibat kebiasaan mengisap jempol maupun ngempeng.

Keenam, Bunda bisa membalut jempol atau jari anak dengan kain, agar mereka merasa tidak nyaman untuk memasukkannya ke mulut. Lakukan tindakan ini, utamanya pada malam hari.

Ketujuh, Bunda bisa memberikan hadiah jika anak berhasil melewati hari tanpa melakukan kebiasaan mengisap jempol maupun ngempeng.

Itulah sejumlah upaya untuk mengatasi anak yang suka mengisap jempol dan ngempeng. Apabila cara tersebut belum berhasil, Bunda bisa berkonsultasi dengan dokter gigi spesialis anak untuk menghilangkan kebiasaan mengisap jempol atau ngempeng.

(*)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel