Kenali gejala awal stroke dengan SEGERA

Mengenali gejala awal stroke dengan melihat tanda dari SEnyuman, GErakan, dan bicaRA atau SEGERA penting untuk menolong penderita mendapatkan penanganan medis secepatnya.

Dalam webinar untuk memperingati ulang tahun ke-103 Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang diikuti via daring dari Jakarta, Kamis, dokter spesialis penyakit dalam Mohammad Kurniawan menjelaskan cara mengenai gejala awal stroke dengan SEGERA.

"SE-nya senyuman, saat tersenyum dia mulutnya mencong, ada satu sisi wajah yang tidak terbentuk lekukan. Kemudian GE adalah gerakan yang terganggu, satu sisi lebih lemah. Selanjutnya RA adalah gangguan bicara, bisa bicara jadi cadel atau pelo, pasien enggak ngerti pembicaraannya atau bisa jadi tidak lancar atau tidak nyambung," ia menjelaskan.

"Jika salah satu gejala tersebut kita temukan, segera bawa ke rumah sakit untuk bisa ditangani lebih lanjut," kata dokter yang bertugas di RSCM itu.

Apabila menjumpai pasien dengan gejala SEGERA seperti senyum mencong dan gerakan separuh badan yang lemah, ia mengatakan, maka penting untuk tidak memberikan apapun melalui mulut karena bisa menyebabkan pasien tersedak dan mengalami henti nafas.

"Karena bisa jadi kelumpuhan syarafnya mengenai syaraf menelan, jadi kalau kita berikan makanan atau minuman pasien bisa tersedak, makanan atau minuman bisa masuk ke paru-paru bisa mengakibatkan henti nafas atau minimal bisa mengakibatkan pneumonia atau infeksi di paru," katanya.

Kurniawan mengemukakan bahwa stroke adalah penyebab kematian kedua di dunia setelah penyakit jantung dan penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

Namun, menurut dia, penanganan yang cepat dapat menyelamatkan penderita stroke dari ancaman kematian atau kecacatan.

"Karena itu penting sekali untuk kita tahu apa itu gejala stroke, tujuannya adalah agar kita bisa menyelamatkan siapapun yang terkena serangan stroke baik itu teman, saudara, atau siapapun yang kita jumpai," katanya.

Selain mengenali gejala dengan SEGERA, Kurniawan mengatakan, orang awam bisa memberikan pertolongan dengan segera mengontak ambulans apabila mendapati seseorang kesulitan bernafas atau mengalami gangguan kesadaran.

"Prinsipnya segera dibawa ke rumah sakit, itu saja. Kalau seandainya terdapat masalah, kita sebaiknya mengontak ambulans agar pasiennya dibawa dengan ambulans, dipasang oksigen, kemudian dipasang infus," katanya.

Dia juga mengemukakan pentingnya informasi mengenai rumah sakit yang memiliki dokter spesialis saraf dan layanan pemeriksaan menggunakan CT Scan dalam membantu penderita stroke.

"Saya kira lebih dari 50 persen rumah sakit di Jakarta punya CT Scan dan rumah sakit yang besar-besar itu letaknya tidak berjauhan, jadi segera arahkan pasien atau siapapun yang kita curiga terkena stroke untuk dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas CT Scan dan spesialis saraf," katanya.

Ia menjelaskan pula bahwa lebih dari 80 persen kasus stroke terjadi karena adanya sumbatan pembuluh darah sehingga obat ideal yang bisa diberikan adalah obat penghancur sumbatan atau trombolisis.

Menurut dia, obat tersebut harus diberikan dalam waktu kurang dari 4,5 jam sejak pasien mengalami gejala stroke.

"Pemberian trombolisis ini punya golden time atau waktu emas, dia harus diberikan dalam dalam waktu kurang dari 4,5 jam sejak pasien memiliki atau mendapatkan gejala stroke," katanya.

"Jadi, kita harus berkejaran dengan waktu karena setiap menit sangat berharga, jika terlambat akan berbahaya bagi pasien karena bisa menyebabkan pendarahan pada otak," ia menambahkan.

Baca juga:
Perawat: Dukungan keluarga penting untuk pemulihan pasien stroke
Dokter ingatkan pentingnya 3T dalam penanganan pertama pada stroke