Kenali Gejala Pembekuan Darah Pasca Vaksinasi COVID-19 AstraZeneca

·Bacaan 2 menit

VIVA – Adanya kematian 3 orang pasca vaksinasi COVID-19 dengan vaksin AstraZeneca beberapa waktu lalu menyisakan rasa takut pada sebagian masyarakat. Tak sedikit yang akhirnya memilih untuk menunda atau bahkan tak divaksinasi sama sekali.

Menanggapi hal itu, Dosen dari Fakultas Farmasi UGM, Prof. Zullies Ikawati, PhD. Apt. menyebut, berdasarkan penjelasan Ketua Komnas KIPI, Prof Hindra, sebanyak 2 dari 3 orang yang meninggal itu bisa dipastikan tidak berhubungan dengan vaksin.

Hal itu karena satu orang terinfeksi COVID dan yg satu orang lainnya mengalami radang paru. Sedangkan satu orang (alm. Trio) masih perlu diinvestigasi mendalam mengenai kausalitasnya dengan vaksin AstraZeneca, dan telah dilakukan diotopsi pada hari Senin tgl 24 Mei 2021 yang lalu.

Menurut Prof Zullies, dari hasil evaluasi European Medicines Agency (EMA), sejauh ini memang dijumpai ada hubungan kuat antara kejadian pembekuan darah dengan penggunaan vaksin AstraZeneca.

"Tetapi kejadiannya sangat jarang," tegasnya, dikutip dari keterangan pers, Senin 21 Juni 2021.

Lebih lanjut, sampai tanggal 5 Mei 2021, di Eropa telah ada laporan kejadian pembekuan darah akibat vaksin ini sebanyak 262 kasus, dengan 51 diantaranya meninggal, dari penggunaan sebanyak 30 juta dosis vaksin. Jika dihitung, maka persentase kejadiannya sangat kecil.

"Itulah makanya EMA, semacam BPOM-nya Eropa, masih menilai bahwa kalaupun memang vaksin ini dapat menyebabkan reaksi pembekuan darah, manfaatnya masih lebih besar daripada risikonya, sehingga vaksin ini tetap boleh diberikan," katanya.

Kendati demikian, Prof. Zullies tetap mengimbau agar masyarakat mengenali kondisinya masing-masing pasca vaksinasi. Ada pun gejala khusus yang kerap dijumpai sebagai efek samping vaksin AstraZeneca, yang berkaitan dengan pembekuan darah tersebut.

Pembekuan darah yang terjadi akibat vaksin AstraZeneca kebanyakan dijumpai pada pembuluh darah di daerah kepala, yang disebut Cerebral Venous Sinus Thrombosis (CVST).

"Gejala-gejalanya adalah sakit kepala yang hebat, kadang disertai dengan gangguan penglihatan, mual, muntah, gangguan berbicara. Bisa juga dijumpai nyeri dada, sesak nafas, pembengkakan pada kaki atau nyeri perut," paparnya.

Terkadang, dijumpai lebam di bawah kulit. Jika terdapat gejala-gejala demikian, segera saja mencari bantuan medis. Di Eropa, reaksinya umumnya terjadi 3 sampai 14 hari setelah vaksinasi. Gejala-gejala semacam sakit kepala yang hebat dan tidak tertahankan juga sempat dialami oleh almarhum Trio, yang mungkin memang mengalami pembekuan darah.

"Namun demikian hal ini masih perlu dipastikan, karena kejadiannya sangat cepat. Yang perlu dipahami adalah bahwa dari sekian ribu yang menerima vaksin AstraZeneca di Indonesia, hanya 1 orang yang dilaporkan meninggal dengan dugaan tersebut," tuturnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel