Kenali Penyakit Difteri, Cara Penularan hingga Pencegahan

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyakit difteri adalah infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium. Secara umum, gejalanya berupa sakit tenggorokan, demam, lalu terbentuknya lapisan pada amandel dan tenggorokan. Bahkan pada beberapa kasus yang parah, infeksi tersebut bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf. Beberapa pasien juga bisa mengalami infeksi kulit.

Dilansir dari indonesian-publichealth.com, diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau 5% pada balita di Indonesia adalah akibat Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Laporan WHO menggambarkan bahwa hasil evaluasi kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Indonesia tahun 1972 diperkirakan setiap tahun 5.000 anak meninggal karena penyakit difteri dan penemuan kasus penyakit difteri tenggorok pada balita sebanyak 28.500 kasus.

Tapi, sebagian besar orang menganggap penyakit difteri hanya berbahaya bagi anak-anak. Hal ini karena sistem pemberian vaksin bagi penyakit difteri umumnya diperuntukkan bagi anak-anak dalam rentang usia 2-18 tahun.

Padahal, penyakit difteri juga bisa menjadi sangat berbahaya bagi orang dewasa, terutama apabila tidak ditangani secara intensif. Bahkan, penyakit difteri pada orang dewasa juga sangat berisiko mengakibatkan kematian.

Untuk membahas lebih dalam mengenai berbagai hal dari penyakit difteri, Liputan6.com di bawah ini sudah merangkumnya dari berbagai sumber, Rabu (5/8/2020).

Klasifikasi Difteri

(Sumber: iStockphoto)
(Sumber: iStockphoto)

Penyakit difeteri sendiri dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis. Klasifikasi mengenai penyakit difteri ini dikutip dari penelitian yang diterbitkan oleh repositori.unsil.ac.id seperti berikut:

1. Difteri Tipe Respirasi

Penyakit difteri tipe ini disebabkan oleh strain bakteri yang memproduksi toksin (toksigenik). Umumnya, penyakit difteri ini bisa menyebabkan gejala yang berat hingga meninggal. Penyakit difteri tipe respirasi ini juga masih terbagi lagi menjadi beberapa tipe, yaitu:

Difteri hidung (anterior nasal diphteria)

Difteria ini umumnya timbul pada bayi.

Difteri faucial

Merupakan bentuk paling umum dari difteri. Gejala dapat berupa tonsilitis disertai dengan pseudomembran yang berwarna kuning keabuan pada salah satu atau kedua tonsil. Pseudomembran dapat membesar hingga ke uvula, palatum mole, orofaring, nasofaring, atau bahkan laring. Gejala dapat disertai dengan mual, muntah, dan disfagia.

Difteri tracheolaryngeal

Difteri laring biasanya terjadi sekunder akibat difteri faucial. Difteri tracheolaryngeal dapat menimbulkan gambaran bullneck pada pasien difteri akibat cervical adenitis dan edema yang terjadi pada leher. Timbulnya bullneck merupakan tanda dari difteri berat, karena dapat timbul obstruksi pernapasan akibat lepasnya pseudomembran sehingga pasien membutuhkan trakeostomi.

Difteri maligna

Hal ini merupakan bentuk difteri yang paling parah dari difteri. Toksin secara cepat menyebar dengan demam tinggi, denyut nadi cepat, penurunan tekanan darah dan sianosis.

Biasanya penyebaran membran meluas dari tonsil, uvula, palatum, hingga lubang hidung. Gambaran bullneck dapat terlihat, dan timbul perdarahan dari mulut, hidung, dan kulit. Gangguan jantung berupa heart block muncul beberapa hari sesudahnya.

2. Difteri Kutan/Kulit

Penyakit difteri ini menyerang kulit dengan gejala ringan disertai peradangan yang tidak khas dan sulit dikenali. Sehingga seringkali tidak masuk dalam catatan kasus maupun program penanggulangan.

Penyakit difteri ini disebabkan oleh strain bakteri toksigenik maupun nontoksigenik. Penyakit difteri kutan saat ini lebih sering muncul daripada penyakit nasofaring di negara barat. Hal ini berkaitan dengan alkoholisme dan kondisi lingkungan yang tidak higienis.

Cara Penularan Difteri

Ilustrasi bersin (Sumber: iStockphoto)
Ilustrasi bersin (Sumber: iStockphoto)

Dilansir dari situs resmi Pusat Kesehatan Angakat Darat (kesad.mil.id), penyakit difeteri bisa ditularkan melalui udara ketika seorang penderita bersin atau batuk. Akan tetapi, ada beberapa metode penularan lain yang juga perlu diwaspadai seperti:

- Menyentuh barang yang telah terkontaminasi oleh bakteri penyebab penyakit difteri, misalnya mainan atau handuk.

- Bersentuhan langsung pada bisul di kulit penderita difteri.

- Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi penyakit difteri.

- Mengonsumsi susu atau olahannya, yang tidak melalui proses pasteurisasi atau sterilisasi.

Tahapan Gejala Penyakit Difteri

Ilustrasi Sakit Flu dan Demam (iStockphoto)
Ilustrasi Sakit Flu dan Demam (iStockphoto)

Selanjutnya, melansir dari laman blogs.itb.ac.id ada empat tahap dalam gejala penyakit difteri, antara lain sebagai berikut:

1. Tahap pertama

Gejala yang akan dirasakan apabila terserang penyakit difteri adalah badan terasa lemah dan lesu, seolah kehilangan tenaga seperti sakit pada umumnya. Pada tahap ini juga akan mengalami radang tenggorokan dan membuat tenggorokan tidak nyaman.

Hal ini karena penyakit difteri menyerang sistem pernafasan, sehingga tidak heran apabila radang tenggorokan merupakan gejala yang dirasakan. Pada tahap ini penderita juga akan merasakan demam hingga tubuh menggigil.

2. Tahap kedua

Tahap selanjutnya menyerang sistem pernafasan. Hal tersebut menandakan bakteri sudah memproduksi racun dan menyerang sistem pernafasan. Bakteri akan membuat jaringan dan sel-sel yang sehat pada sistem pernafasan menjadi rusak, ehingga muncul selpaut lendir yang akan dialami setidaknya 2 hingga 3 hari.

3. Tahap ketiga

Setelah muncul lendir yang mengganggu pernafasan, lalu muncul lapisan tebal berwarna abu-abu yang disebut pseudomembrane. Lapisan tersebut jika tidak ditangani dengan tepat bisa menutup saluran hidung, amandel, tenggorokan, hingga kotak suara. Hal ini akan menyebabkan penderita penyakit difteri mengalami kesulitan bernafas dan sulit menelan.

4. Tahap keempat

Lalu, pada tahap terakhir penyakit difteri akan menginfeksi kulit. Penderita difteri akan mengalami kulit yang tampak kemerahan dan terasa sakit apabila dipegang. Selain itu penderita juga akan merasakan bengkak. Kondisi tersebut akan membuat luka basah seperti borok yang dapat meninggalkan bekas.

Pencegahan Difteri

Kapan Perlu Melakukan Pengulangan Vaksin Difteri? (gajus/123rf)
Kapan Perlu Melakukan Pengulangan Vaksin Difteri? (gajus/123rf)

Untuk mencegah penyakit difteri perlu dilakukan tindakan imunisasi dengan vaksin anti penyakit difteri. Seperti yang dilansir dari Pusat Kesehatan Angakat Darat (kesad.mil.id) imunisasi dengan vaksi penyakit difteri tersebut digolongkan dalam beberapa kategori, yaitu:

a. Imunisasi DPT sebanyak 3x pada anak di bawah usia satu tahun. Pencegahan penyakit difteri ini tergabung dalam vaksin DPT anak. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.

b. Ketika berusia satu sampai lima tahun, maka akan mendapatkan imunisasi 2x Vaksin DP yang merupakan imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Lalu, baru bisa diberikan booster dengan vaksin sejenis pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Sedangkan untuk vaksin Td (Tetanus Difteri) dapat diberikan kembali tiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal.

c. Untuk siswa sekolah dasar, imunisasi ulang melalui program bulanan imunisasi anak sekolah (BIAS). Bagi anak di bawah usia 7 tahun yang belum melakukan imunisasi DPT atau melakukan imunisasi yang tidak lengkap, masih bisa diberikan imunisasi dengan jadwal sesuai anjuran dokter anak. Tapi, bagi yang sudah berusia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DPT, terdapat vaksin sejenis yang bernama TD (Tenatus Difteri) untuk diberikan.

d. Imunisasi ulang setiap sepuluh tahun, termasuk pada orang dewasa.

e. Apabila terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa), maka akan disesuaikan dengan Program Outbreak Response Immunization (ORI) dan Kemkes RI yang dilaksanakan sebanyak 3 putaran dengan sasaran anak usia 1 - 19 tahun dengan interval 0-1-6 bulan. Berikut ketentuan pemberian vaksin tersebut:

1. DPT- HB-HIB untuk anak usia 1 tahun sampai 5 tahun

2. DT untuk anak usia 5 tahun sampai dengan < 7 tahun; dan

3. TD untuk anak usia 7 tahun sampai dengan 19 tahun.