Kenali Ragam Produk Olahan Kelapa Sawit, Termasuk yang Tengah Dilarang Ekspor

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah melarang sementara ekspor bahan baku minyak goreng, tak hanya untuk RBD Palm Olein, tapi seluruh produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) beserta turunannya. Lewat Kementerian Perdagangan, pemerintah mengeluarkan kebijakan Permendag No.22 Tahun 2022 tentang larangan sementara ekspor produk CPO beserta turunannya.

Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan minyak goreng sebagai salah satu barang kebutuhan pokok yang diperlukan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dalam aturan tersebut, larangan ekspor berlaku untuk Crude Palm Oil (CPO), Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil (RBD Palm Oil), Refined, Bleached and Deodorized Palm Olein (RBD Palm Olein), dan Used Cooking Oil (UCO).

Simak ulasan produk-produk turunan CPO yang ekspornya dilarang sementara oleh pemerintah.

Crude Palm Oil (CPO)

oil cpo
oil cpo.jpg

CPO merupakan minyak kelapa sawit mentah yang menjadi salah satu jenis minyak nabati paling banyak dikonsumsi masyarakat dunia. Setidaknya sekitar 40 persen dari seluruh jenis minyak nabati.

Produk ini diperoleh dari hasil ekstraksi atau proses pengempaan daging buah (mesocarp) kelapa sawit. Umumnya dari spesies Elaeis guineensis dan belum mengalami pemurnian.

Minyak kelapa sawit mentah berbeda dengan minyak inti kelapa sawit (palm kernel oil) sekalipun keduanya dihasilkan oleh buah yang sama. Selain itu, minyak kelapa sawit mentah juga berbeda dengan minyak kelapa yang dihasilkan dari inti buah kelapa (Cocos nucifera).

Perbedaan ini terletak pada kandungan yang dimiliki oleh masing-masing jenis minyak. CPO pada dasarnya mempunyai warna kemerahan karena adanya kandungan beta-karoten yang tinggi.

Beta karoten adalah senyawa awalan vitamin A yang juga merupakan pigmen berwarna dominan merah-jingga yang secara alami ada pada tumbuhan termasuk buah-buahan. Sementara itu, inti minyak kelapa sawit tidak memiliki kandungan beta-karoten sehingga dari komposisi warnanya pun berbeda.

Adapun perbedaan kandungan lemak jenuh di antara minyak kelapa sawit mentah, minyak inti kelapa, dan minyak kelapa cukup signifikan, yakni berturut-turut 41 persen, 81 persen, dan 86 persen.

Pemanfaatan minyak ini pun sangat beragam, terutama sebagai bahan pangan, yakni sebagai bahan baku dari minyak goreng. Selain untuk mintak goreng, CPO juga dibutuhkan sebagai bahan baku margarin yang menjadi kebutuhan masyarakat dari skala rumahan sampai ke industri skala besar.

Selain untuk pangan, CPO juga dibutuhkan sebagai bahan baku kosmetik. Produk kosmetik di dunia, 70 persennya memiliki kandungan kelapa sawit didalamnya. Minyak sawit memiliki kegunaan untuk memberi kelembaban dan tekstur yang dibutuhkan oleh produk kecantikan.

CPO juga tengah dikembangkan sebagai bahan bakar nabati (BBN). Di Indonesia, pemerintahnya gencar mendorong peningkatan pemanfaatan minyak nabati sebagai bahan bakar alternatif, yakni biodiesel. Minyak sawit dapat menjadi bahan campuran yang dikombinasikan dengan solar dalam takaran tertentu maupun menjadi 100 persen.

Selain itu, CPO juga dibutuhkan untuk industri kimia, industri pakan ternak, dan lain-lain.

Refined, Bleached and Deodorized (RBD) Palm Oil

and deodorized rbd palm oil
and deodorized rbd palm oil.jpg

RBD Palm Oil merupakan produk dari pabrik penyulingan minyak sawit, bisa dijual di pasaran, dan memenuhi standar. Berasal dari minyak sawit yang diputihkan untuk menghilangkan bau khasnya.

Melansir dari situs edibleoilrefinerymachine.com, umumnya, pabrik penyulingan minyak sawit mengadopsi metode pemurnian fisik, yang mengandung tiga langkah pemurnian, pemutihan (decolorization) dan deodorisasi.

RBD Palm Oil berbentuk semi-padat pada suhu 20° celcius. Oleh karena itu, pabrik fraksinasi minyak sawit digunakan untuk memisahkan minyak sawit bagian cair dan bagian padat. Jadi bagian cair dari minyak sawit adalah RBD palm olein, dan bagian padatnya disebut RBD palm stearin.

Refined, Bleached and Deodorized (RBD) Palm Olein

and deodorized rbd palm olein
and deodorized rbd palm olein.jpg

RBD Palm Olein adalah produk hasil rafinasi CPO yang digunakan sebagai minyak goreng. Melansir dari situs aocs.org, produk ini asalnya dari minyak sawit yang dimurnikan, diputihkan dan dihilangkan baunya. Sehingga rasanya menjadi hambar, tidak berbau, berwarna kuning muda dan semi padat di suhu kamar.

Minyak sawit mentah itu kemudian melewati proses pemurnian atau refinery dengan prinsip penggunaan suhu tinggi. Proses pemurniannya terbagi menjadi tiga tahapan yakni pemucatan, penghilangan asam lemak bebas dan bau. Dari ketiga proses itu menghasilkan produk berupa RBDPO.

Dalam proses pemurnian diberikan tambahan phosphoric acid dan bleaching earth. Phosphoric acid berfungsi menghilangkan getah-getah yang ada dalam CPO. Sedangkan bleaching earth fungsinya untuk memucatkan warna minyak.

Setelah proses tersebut, dilakukan fraksinasi. Ini merupakan proses yang memisahkan fraksi padat (stearin) dan fraksi cair (olein). Hasil dari proses ini adalah RBD palm olein atau yang biasa disebut sebagai minyak goreng curah.

Setelah menjadi RBD Palm Olein kemudian digunakan sebagai pengganti ideal untuk bahan baku minyak goreng atau minyak terhidrogenasi parsial pada banyak produk manakan ringan dan makanan yang dipanggang.

Used Cooking Oil (UCO) Alias Minyak Jelantah

oil uco alias minyak jelantah
oil uco alias minyak jelantah.png

UCO merupakan nama lain dari minyak goreng bekas atau minyak jelantah. UCO merupakan minyak limbah yang bisa berasal dari jenis-jenis minyak goreng seperti minyak jagung, minyak sayur, minyak samin dan sebagainya.

Minyak ini merupakan minyak bekas pemakaian kebutuhan rumah tangga umumnya. Dapat digunakan kembali untuk keperluan kuliner namun bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik akibat proses penggorengan.

Meski begitu, minyak jelantah bisa bermanfaat sebagai bahan pengganti sebagian bahan baku crude palm oil (CPO) atau sawit dalam program biodiesel di Indonesia. Langkah ini, bisa kurangi limbah ke lingkungan hidup, berikan manfaat ekonomi, baik untuk kesehatan, dan pengurangan emisi gas rumah kaca hingga mendukung pembangunan daerah.

Studi dari lembaga International Council on Clean Transportation (ICCT) berjudul 'Potential Economic, Health, and Greenhouse Gas Benefits of Incorporating Used Cooking Oil Into Indonesia’s Biodiesel' menyebutkan, Indonesia memiliki potensi minyak jelantah sebesar 1,64 miliar liter per tahunnya. Jumlah itu didapatkan dari pengumpulan intensif di restoran, hotel, sekolah, rumah sakit, maupun rumah tangga di perkotaan.

Potensi terbesar pengumpulan minyak jelantah berasal dari daerah perkotaan. Pengumpulan dari restoran, hotel, dan sekolah di perkotaan dapat menyumbang 157 juta liter minyak jelantah atau setara 121 juta liter biodiesel. Apabila pengumpulan diperluas ke sektor rumah tangga maka total pengumpulan mencapai 1.638 juta liter atau setara dengan 1.261 juta liter biodiesel.

Penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel memiliki banyak manfaat. Jika dikomparasi, setiap tahunnya hasil pengumpulan minyak goreng bekas itu dapat mengurangi pelepasan enam juta ton emisi gas rumah kaca. Penggunaan minyak jelantah untuk biodiesel juga dapat menghemat biaya subsidi biodiesel mencapai Rp 3,6 triliun.

Berdasarkan kalkulasi ICCT, penghematan subsidi biodiesel didapat dari selisih antara biaya produksi biodiesel menggunakan minyak sawit biasa dengan biaya produksi biodiesel menggunakan minyak jelantah. Penghitungan tersebut menggunakan asumsi rata-rata harga indeks pasar (HIP) minyak jelantah dan bahan bakar nabati (BBN) per Januari hingga Juli 2020.

Selain menghemat subsidi, penggunaan minyak jelantah juga dapat mengurangi penggunaan minyak sawit sebesar 1,16 juta ton per tahun. Hal itu kemudian berkontribusi pada penyelamatan 321 ribu hektare hutan dari ekspansi perkebunan sawit.

[bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel