Kenang Panggilan Telepon Terakhir, Kisah Haru Istri Kru Pesawat Rimbun Air

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Pesawat Rimbun Air yang jatuh di Papua, pada Rabu (15/9/2021) menimbulkan duka mendalam. Khususnya bagi para keluarga korban, kehilangan orang tercinta di sebuah kecelakaan jelas menimbulkan kesedihan.

Salah satu kru pesawat tersebut merupakan warga Balikpapan. Korban bernama Iswahyudi. Dikatakan pihak keluarga, dia merupakan mekanik pesawat dan helikopter.

Ditemui di rumahnya, seperti yang dilansir dari Liputan6.com, istri korban Dewi Agustina tak menyangka, percakapannya dengan sang suami, pada Senin (13/9/2021) malam bakal jadi yang terakhir.

"Malam itu dia telepon katanya habis pijat. Setelah itu ngobrol seperti biasa, nanyain anak. Terus bilang besok mau terbang lagi," ujar Dewi, saat ditemui di rumah orangtuanya di Jalan Al Makmur, Balikpapan Kota, Kamis (16/9/2021).

Dia juga mengatakan, malam itu Iswahyudi tidak berlama-lama di sambungan telepon. "Kalau mau terbang memang seperti itu. Dia pasti istirahat lebih cepat," terangnya.

Suasana hati yang awalnya tenang pada Rabu (15/9/2021), lanjutnya, berubah menjadi kesedihan. Setelah Dewi mendapat kabar dari tetangga bahwa sang suami menjadi salah satu kru Rimbun Air yang jatuh di Papua.

"Seharian saya memang tidak memantau berita. Jadi saya malah tahu ada kecelakaan pesawat dari tetangga dan teman," ucapnya dengan wajah yang terlihat menyimpan kesedihan.

Mendapat kabar pesawat yang ditumpangi suami jatuh, Dewi langsung berusaha menghubungi handphone Iswahyudi. Sayang, berkali-kali dicoba, panggilan telepon tak kunjung tersambung.

Dewi menyebut, pertemuan terakhir dengan suami adalah dua minggu lalu. Jika sesuai jadwal, sang suami harusnya berada di Balikpapan pada 19 September ini.

"Jadwal off-nya tanggal 19 September nanti," ujar Dewi lirih.

Sudah Lama Bekerja sebagai Mekanik

Sementara itu, salah satu kerabat korban yang enggan disebutkan namanya, mengaku Yudi panggilan Iswahyudi, sudah cukup lama bekerja sebagai mekanik pesawat dan helikopter.

Selain di Papua, Yudi juga pernah menjadi teknisi sebuah perusahaan pesawat carter di Balikpapan dan Papua Nugini.

"Dia juga pernah mengalami kecelakaan di Ternate, saya lupa kapan," ujar kerabat tersebut.

Di tempat yang sama, Muhammad Rifki, ipar korban menyebut sosok Iswahyudi merupakan orang yang pendiam. Kendati demikian, laki-laki 41 tahun tersebut juga sosok yang ringan tangan dan suka membantu sesama, terutama kawan-kawannya.

"Biasanya kalau libur dia mancing dan bermain futsal," terang Rifki.

Mendiang Yudi meninggalkan dua anak perempuan yang masih berusia 5 tahun dan 2 tahun. Jenazah Yudi rencananya tiba di Balikpapan Jumat (17/9/2021). "Tapi jamnya belum dikabari dari pihak kantor," Rifki memungkasi.

Dugaan Penyebab Jatuhnya Pesawat

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Diketahui pesawat pengangkut logistik Rimbun Air mengalami crash di kawasan Sugapa, Intan Jaya, Papua, Rabu (15/9/2021) pagi.

Wakil Komandan Yonif Mekanis 521/DY, Mayor Inf Edi Dipramono menerangkan cuaca di Sugapa pagi kemarin memang tak cerah.

Cuaca yang buruk diduga membuat pesawat Rimbun Air gagal mendarat. Pesawat kemudian berusaha naik mengambil arah kiri bandara.

Setelah itu, terdengar suara keras oleh pihak bandara yang berada di landasan. Diduga pesawat jatuh usai menabrak gunung.

Pesawat Rimbun Air yang hilang berisikan 3 kru yakni Mirza sebagai pilot, Fajar sebagai kopilot, dan Iswahyudi selaku teknisi. Ketiga kru pesawat tewas akibat insiden tersebut.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel