Kenang WS Rendra, Cak Imin: Sosok yang Unik, Puisinya Abadi

Hardani Triyoga
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengenang budayawan WS Rendra sebagai sosok yang unik dengan deretan karya puisi luar biasa. Cak Imin menyebut puisi Rendra berbeda dengan penyair lain karena memiliki kata, kalimat terang dengan gaya metafora yang jelas.

Pandangan ini disampaikannnya saat acara Rindu Rendra bertajuk Kesaksian Akhir Abad, Sabtu, 7 November 2020. Cak Imin dalam kesempatan itu sempat membacakan puisi Rendra berjudul 'Inilah Saatnya'.

"Rendra adalah sosok unik. Ketika penyair lain sibuk menyembunyikan makna, dan membiarkan pembaca terpenjara dalam belantara kata-kata yang rimbun dan gelap, Rendra berlaku sebaliknya. Puisinya terang. Metaforanya jelas," kata Cak Imin seperti disampaikan dalam keterangan resminya yang dikutip Minggu, 8 November 2020.

Dia menambahkan karya puisi Rendra punya ciri khas yaitu pembaca selalu didudukkan dengan posisi yang sama. Dengan demikian, kata dia, makna puisi yang disusun Rendra nyaris sebangun dengan muatan teks-teksnya.

"Artinya, puisi Rendra menjadi kaya makna karena dapat dilepaskan dari situasi awal penciptaannya, untuk kemudian ditempelkan atau dilekatkan pada kondisi terbaru. Dalam kadar inilah, puisi Rendra menjadi abadi," jelas Cak Imin.

Baca Juga: Cak Imin: Gus Dur Sederhana, Istana Presiden Dijadikan Istana Rakyat

Kemudian, Cak Imin menyampaikan puisi Rendra juga punya kesan dari sejumlah pakar dan peneliti luar negeri. Salah satunya seperti penulis asal Australia, Harry Aveling. Melalui jurnalnya, A Thematic History of Indonesian Poetri: 1920-1974, Harry menyebut ada temuan fase-fase tema dan pengucapan puisi Rendra.

"Aveling mencatat dengan baik bagaimana perubahan fase tematik dari sosok Rendra," lanjut Wakil Ketua DPR itu.

Pun, peneliti Prancis, Rainer Carle, yang memberikan kajian sama terhadap puisi Rendra. Hal yang sama disampaikan pakar sastra dan budaya Indonesian asal Belanda, Andries Hans Teeuw.

Dari kajian Teew disebutkan puisi Rendra juga memuat kondisi sosial politik di Indonesia.

"Di sini juga Teeuw mulai menunjukkan orientasi Rendra untuk menunjukkan kesadaran sosialnya atas situasi sosial ekonomi politik di Indonesia," tuturnya.

Cak Imin mengingat pandangan kritis Rendra yang dituangkan dalam puisinya. Kata dia, penyair yang dijuluki sebagai burung merak itu memposisikan sikap kepenyairannya untuk menjaga hukum kewajaran.

Salah satu yang memperkuat sikap Rendra tertulis di buku Penyair dan Kritik Sosial. Pandangan Rendra di buku tersebut jelas mengatakan hukum kewajaran berupa hukum alam, hukum masyarakat, dan hukum akal sehat yang harus terus dijaga.

"Penyair wajib mengkritik semua operasi di masyarakat, baik sekular maupun spiritual, yang menyebabkan kemacetan kesadaran di masyarakat. Yaitu kemacetan daya cipta, daya hidup, yang melemahkan daya pembangunan," kata Cak Imin menirukan pandangan Rendra.