Kenangan Indah Bersama Kakek dan Nenek, Sungguh Cinta Sejati Itu Ada

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Cynthia Der Waskuri

Cinta kasih dari kakek dan nenek kepada cucu memang sangat beragam dan manis bahkan mungkin bisa melebihi dari kedua orangtua dari cucu-cucunya dalam artian positif seperti memanjakan secara penuh tanpa aturan mutlak atau bahkan melanggar peraturan yang dibuat oleh orangtua si cucu. Kakek dan nenek juga bisa menjadi tempat cucu untuk menemukan jalan terang dari kebuntuan adu argumen dengan orangtuanya. Dia akan dinasihati dan dibela dengan lembut dan menjadi penengah di antara mereka.

Masa kecil aku dan adik-adik banyak dihabiskan di rumah kakek dan nenek atau biasa kami panggil Mbah Kakung dan Mbah Putri. Rumah kami berdekatan sehingga bisa kapan saja mengunjungi atau menginap di sana. Aku sangat menikmati kenangan indah masa kecilku bersama mereka meskipun terasa samar. Namun setiap mengenangnya hatiku dan pikiranku terasa hangat, tenang, dan pastinya tersenyum penuh kerinduan.

Di rumah mereka aku bisa makan apa saja yang biasanya dilarang oleh orangtuaku. Bahkan saat aku dan adik-adikku ingin bermain hujan-hujanan, kami dibebaskan berlari dan berteriak serta ikut bergabung bersama anak-anak lain yang saling berkejaran dan menari ceria diguyur air hujan. Kami bermain pelesetan di antara jalan bertanah yang licin dan terlihat kotor, terjatuh sambil tertawa lepas. Baju penuh lumpur bukanlah masalah karena kami yakin tidak akan dimarahi karena telah diberikan izin untuk menikmati shower terbesar di muka bumi ini. Aku masih bisa mengingat dinginnya air hujan saat itu sambil tersenyum hangat dengan mata berbinar.

Banyak hal dan hadiah manis yang mereka berikan kepada kami. Aku masih ingat Mbah Kakung membuatkan sebuah ayunan di dekat pohon mangga di belakang rumahnya, aku melihat prosesnya dan bagaimana usaha beliau membuatnya membuatku terharu. Aku sangat menyukainya dan sering bermain di sana.

Beliau juga pernah mengajakku untuk ke sawah melihat panen, aku menggenggam tangannya yang besar menggandengku di bawah terik matahari dan melihat lautan padi menguning yang siap dipanen. Mbah Kakung adalah pecinta olahraga lari dan naik sepeda. Aku sering diboncengnya untuk membeli makanan ringan yang sering aku lihat di TV yang terkesan sebagai jajanan mewah bagiku karena dulu tidak dijual di warung dekat rumah. Sampai saat ini makanan ringan itu selalu membawaku ke memori abadi kenangan bersama Mbah Kakung.

Mbah Putri aku adalah Ratu Elizabethku, aku selalu melihatnya seperti seorang Ratu Inggris, memiliki mata cokelat muda yang terang dan berkulit putih. Seorang wanita cantik dan pekerja keras. Aku adalah cucu pertamanya dan beliau selalu memberikan hal terbaik untukku, apa pun yang kubutuhkan pasti selalu dipahami tanpa aku membicarakannya. Beliau adalah segalanya untukku.

Cinta Sejati dan Kasih Sayang

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/GBALLGIGGS
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/GBALLGIGGS

Mbah Putri sangat pandai memasak dan membuat jajanan tradisional. Aku masih ingat saat aku dan adik-adikku membantu beliau membuat kue sambil bermain tepung dan adonan hingga wajah belepotan. Aku belum pernah menemukan dengan rasa yang sama seperti buatannya sehingga ingin bisa mewarisi resep setiap sajian yang dihidangkan kepada kami. Karena melalui masakan dan jajanan saat kecil dan sekarang bisa membuatku mengingat setiap kenangan bersama orang-orang tersayang.

Mbah Kakung dan Mbah Putri memiliki karakter yang berbeda tapi pernikahan mereka tetap awet sampai di usia senja. Beberapa waktu lalu Mbah Kakung ngotot hanya mau ke doker jika ditemani Mbah Putri. Dan beliau ingin Mbah Putri yang menyiapkan semuanya. Aku sudah menawarkan bantuan tapi ditolaknya.

Aku menyesal tidak mengabadikan peristiwa itu dalam bentuk video atau sebuah foto keromantisan ala mereka berdua menaiki becak menuju klinik seorang dokter yang merupakan teman SD aku. Yang pastinya tidak mereka sadari bahwa itu adalah salah satu hal romantis di mata aku, mungkin Mbah Kakung ingin mengenang masa muda mereka pada pagi itu.

Tahun 2021 ini mereka menjadi buyut dari 6 cicit, mereka selalu bersemangat saat bermain atau bercengkrama dengan para generasi ketiga. Usia dan tenaga mereka tidak sama seperti dahulu dan tidak bisa mengajak para cicit dengan bebas kemana pun, karena masa pandemi dan tinggal berjauhan sehingga jarang bertemu.

Mereka sering mengobrol melalui video call dan melihat kiriman video perkembangan serta kelucuan cicit-cicit mereka. Mbah Kakung dan Mbah Putri memperlihatkan binar mata bahagia dan haru sambil bergumam apakah mereka bisa melihat anak-anak dan bayi-bayi itu tumbuh besar dan dewasa. Aku hanya terdiam dan berdoa semoga Mbah Putri dan Mbah Kakung selalu sehat dan panjang umur agar bisa melihat keturunannya tumbuh besar dan pastinya melihat terkabulnya doa mereka dengan menyaksikanku menikah dan memberikan cicit serta berbahagia selalu bersama mereka.

#ElevateWomen