Kenangan Manis, Ini Foto Kapal Selam KRI Nanggala 402 Saat Masih Baru

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Indonesia tidak akan pernah melupakan jasa-jasa kapal selam KRI Nanggala 402, milik TNI Angkatan Laut. Kenangan indah pernah dilewati oleh alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang jadi andalan untuk menjaga samudera bangsa ini.

Tepat di Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke-36, sosok alutsista canggih buatan Negeri Panser, Jerman, untuk pertama kalinya ditunjukkan kepada rakyat Indonesia. Saat itu, Menteri Pertahanan dan Keamanan(Menhankam)/Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab), Jenderal TNI Mohammad Jusuf, meresmikan penggunaannya.

Kemudian, sepekan sebelum peringahatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-53, KRI Nanggala 402 memulai petualangannya bersama TNI Angkatan Laut dalam pelayaran pertama dari Dermaga Ujung, Surabaya.

Kedatangan KRI Nanggala 402 sebagai alutsista baru TNI Angkatan Laut, membuat Indonesia kian disegani di kawasan Asia saat itu. Bahkan negara sekelas Australia pun pikir-pikir untuk cari masalah dengan Indonesia.

Ternyata, KRI Nanggala 402 sudah dipesan pemerintah Indonesia sejak 2 April 1977. Saat itu, pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Presiden RI ke-2, Soeharto, menggelontorkan dana sebesar 100 juta Dolar Amerika Serikat (AS) untuk membangun KRI Nanggala 402.

Tunggu dulu. Ternyata dana itu tak hanya digunakan untuk membuat sebuah KRI Nanggala 402 saja. Tetapi juga, untuk pembuatan saudara kembarnya, KRI Cakra 401.

Sebagai andalan di barisan depan keamanan laut NKRI, KRI Nanggala pernah menjalani beberapa tugas khusus. April hingga Mei 1992, KRI Nanggala ditugaskan dalam misi intelijen di Samudra Hindia.

Pada Agustus hingga Oktober 1999, Nanggala kembali ditugaskan dalam sebuah misi intelijen di Timor Timur. Misi tersebut dilakukan bersama KRI Cakra (401) guna melacak pergerakan Pasukan Internasional untuk Timor Timur (INTERFET) yang dimotori Australia.

Pada 8 April 2005, di tengah konflik sengketa blok masela, KRI Tedong Naga (819) dari Indonesia terpaksa menyerempet Kapal Diraja Rencong milik Malaysia di Nunukan, Kalimatan Timur. Hal itu dilakukan karena KD Rencong melakukan manuver-manuver yang dianggap membahayakan pembangunan mercusuar Karang Unarang.

Pada Mei 2005, KRI Nanggala ditugaskan menuju kawasan tersebut untuk berjaga-jaga apabila terjadi keadaan yang mendesak. Selain itu, KRI Nanggala juga ditugaskan untuk "mengintai, menyusup, dan memburu sasaran-sasaran strategis" saat itu.