Kenangan Tak Terlupakan Bersama Teman Masa Kecilku

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Punya cerita atau pengalaman tentang rasa rindu kepada kampung halaman, berbagai macam makanan khas daerahmu yang menggugah selera, hingga objek wisata yang bagai surga dunia? Atau punya cara tersendiri dalam memaknai cinta Indonesia? Pada bulan Agustus kali ini, kamu bisa membagikan semuanya dalam Lomba Share Your Stories bulan Agustus dengan tema Cinta Indonesia seperti tulisan yang dikirim oleh Sahabat Fimela ini.

***

Oleh: Rahmi Fazriah

Ini kisah tentang seorang sahabat Tionghoaku saat di bangku Sekolah Menengah Pertama di Jayapura puluhan tahun silam. Walaupun rambutku kini mulai berbunga uban, tetapi kenangan tentangnya tetap membekas di ingatanku.

Sebutlah ia Cici. Remaja cantik berkulit putih bak pualam, berhidung mancung, semampai, berbibir merah muda dan pandai pada mata pelajaran Matematika. Cici pindahan dari daerah Sulawesi Selatan.

Pertama kali Cici datang sebagai anak baru, ia sudah duduk sebangku denganku. Aku sungguh senang berteman dengannya, hingga kami menjadi sangat dekat. Cici sangat perhatian padaku. Misalnya ketika aku tidak masuk sekolah karena sakit, Cici dengan senang menjengukku di rumah sambil membawa sekaleng biskuit kesukaanku. Maklum, orang tua Cici mempunyai supermarket yang lumayan maju saat itu.

Tidak berhenti di situ saja. Cici pun kerap mengajariku mata pelajaran Matematika. Maklumlah, otakku agak lemot untuk mengerti Matematika. Hehehe. Hingga suatu hari, ada seorang sahabatku yang jago Matematika juga yang naksir sama Cici. Sebutlah namanya Eko. Eko berkulit hitam manis, berhidung sedang, semampai dan pemalu. Eko pun menitipkan suratnya padaku untuk Cici. Saat itu gadget memang belum ada. Maklum zaman jadul. Hehehe.

Teman Masa Kecil

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Sekian lama surat Eko tidak dibalas oleh Cici. Aku pun kasihan melihat Eko yang menanti surat balasan dari Cici. Hingga akhirnya aku memberanikan diri menanyakan langsung pada Cici. "Ci, mengapa kamu tidak membalas surat Eko? Kasihan loh, Eko menunggu balasan suratmu," kataku.

Cici lalu menjawab, "Iya, Eko bilang di surat itu kalau dia naksir saya. Tapi saya tidak bisa," ujar Cici.

Aku balik bertanya, "Mengapa tidak bisa? Kalau pun tidak bisa, kamu dan Eko 'kan masih bisa bersahabat seperti sekarang," ujarku.

"Iya, saya juga maunya bersahabat saja, tidak usah pacar-pacar. Lagipula, saya tidak bisa pacaran dengan orang Indonesia," ujar Cici tegas. Aku hanya melongo mendengarnya. Aku tidak mengatakan apa-apa pada Cici karena tidak ingin menyinggung etnisnya.

Ah, Ci. Ke mana pun kamu berpijak, identitas Indonesiamu akan terus melekat. Bagaimana pun kamu tetap Indonesia, negeri di mana kamu dan aku dilahirkan.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel