Kenangan THR Purawisata, antara Kerkop dan Goyangan Yayuk Parabola

Liputan6.com, Yogyakarta Penonton berkerumun di depan panggung. Tanpa dikomando mereka bangkit begitu penyanyi-penyanyi cantik sexy tampil satu per satu, bernyanyi dan bergoyang diiringi musik dangdut yang membius. Malam masih muda, hawa dingin tak terasa. 

Sebagian penonton merapat di dekat panggung, ikut bergoyang. Sebagian hanya bergeser mencari titik pandang strategis, kemudian dengan mata nyaris tak berkedip menyaksikan goyang menggemaskan para penyanyi. 

Pemandangan seperti itu dijumpai tiap malam di THR Purawisata, pada era 1990 sampai 2000-an. Pertunjukan musik dangdut tiap malam menghidupkan suasana di sana. 

Tinggal cek saja kapan jadwal penyanyi idola, dari Eny Haryono, Riris Arista, Vivin Vania, juga Yayuk Parabola. Itu sebagian nama-nama panggung biduanita ngehits di zamannya. 

THR Purawisata berlokasi di Jalan Brigjen Katamso Yogyakarta, sebelumnya bernama Jalan Kintelan, sekitar 2 kilometer dari Jalan Malioboro ke arah tenggara. Sebagian warga terutama generasi tua menyebut daerah itu dengan nama Kerkop. 

Sebutan Kerkop tak lepas dari sejarahnya. Di era Belanda dahulu, daerah tersebut merupakan area pemakaman atau kherkof dalam bahasa Belanda. Warga setempat melafalkannya Kerkop. 

Menilik sekilas sejarahnya, daerah Kerkop menjadi lokasi terminal dan Taman Hiburan Rakyat (THR). Selanjutnya pada akhir 1980-an, THR dikemas menjadi tempat hiburan terintegrasi bernama Purawisata.

Namun brand THR masih melekat, sehingga umumnya orang menyebut THR Purawisata. Mau lihat apa di sana? Nonton dangdut, begitu kira-kira jawaban pada umumnya. Padahal ada pertunjukan-pertunjukan seni lainnya di sana. Namun dangdut masih juara. 

 

 

 

 

Sensasi Beduanita Purawisata

Purawisata pernah jadi ikon dangdut di Yogyakarta. (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Purawisata pun jadi tujuan para anak muda di Yogyakarta yang dompetnya tidak terlalu tebal, tetapi ingin menikmati hiburan maksimal. Purawisata menjadi ikon hiburan masyarakat kelas bawah di Yogyakarta.

Andalannya, ya dangdut yang menggoda. Tidak hanya masyarakat Yogyakarta saja, melainkan mereka yang berasal dari Klaten, Muntilan, Magelang, bahkan Wonosobo. 

Selayaknya anak muda di Yogyakarta era 90-an, dangdut Purawisata juga membuat Ari penasaran. Ketika itu, ia masih berstatus sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.

"Awalnya penasaran karena sering dengar cerita tentang dangdut Purawisata dari kakak-kakak angkatan," kata Ari, Kamis (9/1/2020).

Ia masih ingat pertama kali datang menonton dangdut di Purawisata pada malam Sabtu atau Jumat malam. Ia datang bersama dengan teman-teman kuliahnya. Tiket masuk ke tempat itu terbilang ramah di kantong. Hanya dengan Rp 6.000, pengunjung bisa menikmati penampilan pedangdut yang menyegarkan mata.

Kalau ditanya apa yang paling menarik di sana, ia jelas menjawab penyanyi dangdut yang berjoget atraktif. Apalagi setelah Inul Daratista ngetop, semakin banyak penyanyi dangdut yang menonjolkan goyangan khasnya masing-masing. Tak terkecuali, pedangdut yang tampil di Purawisata.

Sekali dua kali datang menyaksikan dangdut di Purawisata membuat Ari menyukai suasana hiburan rakyat di tempat itu. Ia pun mulai sering berkunjung ke sana bersama dengan teman-temannya.

Cuci mata di tengah-tengah lautan manusia yang berjoget membuat suntuknya hilang. Tak jarang ia melihat sesama penonton nyaris bertengkar karena tidak sengaja tersenggol ketika bergoyang.

"Tetapi selama saya menonton belum pernah ada kejadian yang benar-benar sampai ribut besar," ucapnya.

Ari mengisahkan, sekitar 2010, musik yang ditampilkan di Purawisata tidak melulu dangdut. Ada reggae yang pentas setiap Jumat malam dan rock and roll setiap malam minggu.

"Setelah ada reggae, saya jadi pilih nonton musik reggae," kata Ari yang terakhir kali menginjak Purawisata pada 2012 ini.

Sayangnya, di usia ke-24, Purawisata harus tutup usia. Sejak 2013, hiburan dangdut gulung tikar. Manajemen Purawisata beralih usaha. Hotel dan restoran ditonjolkan di kompleks bangunan itu.

Penutupan Purawisata sempat menimbulkan kesedihan di hati penikmat musik dangdut. Sebab, belum ada lagi areal hiburan dengan harga merakyat yang muncul di kota ini.

Musik dangdut mungkin naik kelas, dengan maraknya kafe dan diskotek yang menyajikan hiburan ini. "Tapi kalau masuk kafe tidak semua orang merasa nyaman, pertama soal harga, kedua, soal penampilan yang kebanyakan harus rapi dan kurang santai," tutur Ari.

Liputan6.com coba menengok bekas lokasi tempat hiburan legendaris itu, Orang-orang masih bisa masuk ke areal parkirnya. Luas dan lengang. Nyaris tidak ada orang di sana, kecuali warung makan yang terletak di samping timur.

Dinding-dindingnya juga dipenuhi coretan,dan sayangnya bukan karya seni mural. Coretan di temboknya bertuliskan ghost, entah itu nama geng atau memang kata ghost dalam bahasa Inggris yang berarti hantu.

Sebenarnya yang dimaksud di sini bukan benar-benar bangunan. Lebih mirip tembok melingkar dengan pintu gerbang yang tinggi.  Di dalamnya terhampar tanah lapang penuh ilalang. Rumput-rumput bergoyang, seakan mengenang para para biduanita yang bergoyang. 

Barometer Dunia Dangdut

Purawisata pernah jadi ikon dangdut di Yogyakarta. (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Seorang pengamat musik senior Yogyakarta, AB Prass, mengakui keberadaan dangdut di Purawisata menjadi barometer musik dangdut di DIY dan Jawa Tengah. Bahkan, Purawisata telah melahirkan bintang-bintang dangdut lokal. 

AB Pras adalah salah satu orang yang menyayangkan ditutupnya Purawisata. Meskipun demikian, ia berkeyakinan eksistensi dangdut bisa diperoleh di tempat lain.

"Kalau Purawisata kukut (gulung tikar) bisa dimaklumi, mungkin selama ini merugi," kata AB Prass.

Ia menilai, sekalipun identik dengan goyangan yang kerap dianggap erotis, dangdut Purawisata juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Suara penyanyi-penyanyinya khas dan berkarakter. Tidak hanya itu, tampil di Purawisata bagi pedangdut merupakan kebanggaan tersendiri.

Menurut AB Prass, saat ini dangdut meningkat secara kuantitas, akan tetapi menurun secara kualitas. Ia membandingkan, zaman dulu suara menjadi aset utama bagi seorang penyanyi dangdut ditambah dengan karakter vokal yang beragam. Sementara, dangdut sekarang lebih tidak terkonsep dengan matang.

"Secara kualitas vokal, sebagian pendatang baru di musik dangdut lokal misalnya, belum layak untuk rekaman, tidak berkarakter serta asal dalam sebuah karya, yang penting terkenal," ucapnya.

Simak video pilihan berikut: