Kenapa Kita Suka Berlaku Kasar Saat Online

Oleh Elizabeth Bernstein | The Wall Street Journal

Jennifer Bristol baru-baru ini kehilangan salah satu kawan lamanya gara-gara berdebat di Facebook soal anjing pit bull. Masalahnya berawal saat dia menyertakan artikel koran yang menyebut bahwa pit bull adalah jenis anjing yang paling bahaya di New York City tahun lalu. "Apa pendapat Anda...833 insiden dengan pit bull," tulis Bristol, publisis dan advokat kesejahteraan hewan di Manhattan.

Teman-temannya, kebanyakan juga bekerja di bidang kesejahteraan hewan, langsung berbagi opini. Salah satunya mengatakan bahwa "pit bull" bukanlah satu jenis ras resmi; yang lain ada yang mengatakan bahwa "pemilik tidak bertanggung jawab" sering terlibat saat anjing menjadi kasar. Sementara ada yang mengatakan labrador hitam malah lebih sering menggigit.

Kemudian teman masa kecil Bristol mengatakan, "Ini dari seorang dokter di ruang gawat darurat, dalam 15 tahun pekerjaan saya, saya belum pernah melihat gigitan dari anjing golden retriever yang harus dirawat di ruang operasi atau membunuh korbannya."

Komentar ini pun ramai mendapat balasan. Satu orang meminta untuk melihat penelitian ilmiah si dokter, yang lain menuduh dia tak mengonfirmasi pada para pasiennya apakah mereka benar-benar digigit oleh pit bull. Komentar lain menyarankan si dokter untuk "keluar dari ruang gawat darurat" untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

"Konyol sekali," kata Bristol, yang memilih tak ikut campur dalam perdebatan. Teman lamanya itu, si dokter gawat darurat, langsung menghilangkan dia dari daftar teman keesokan paginya. Itu terjadi delapan bulan lalu. Sampai sekarang, ia belum mendengar kabar lagi dari si teman.

Kenapa kita sangat kejam satu sama lain di dunia maya? Entah itu di Facebook, Twitter, forum atau bagian komentar situs, kita berani mengatakan pada orang lain hal-hal yang tidak akan kita sampaikan langsung di depan orang tersebut. Tidakkah kita seharusnya berlaku sopan?



Anonimitas adalah kekuatan besar. Bersembunyi di balik nama palsu membuat kita tak terkalahkan, dan tak tampak. Meski tanpa anonimitas pun, pada banyak situs, identitas kita tetap bisa diketahui. Dan kita sama sekali tidak anonim di Facebook. Bahkan saat kita mengungkap identitas asli, tetap saja kita tak bisa berlaku sopan.

Menurut sebuah riset yang akan dipublikasikan dari para profesor di Columbia University dan University of Pittsburgh, membuka Facebook terbukti menurunkan kendali diri. Efeknya paling terlihat dengan orang-orang yang jaringan Facebooknya berisi teman-teman dekat, kata para peneliti.

Kebanyakan dari kita mempresentasikan citra yang berlebihan dari diri kita di Facebook. Citra positif ini--dan dorongan positif yang kita dapatkan dalam bentuk "like" mendorong rasa percaya diri kita. Kita pun cenderung besar kepala dan menunjukkan kendali diri yang rendah.

"Bayangkan ini sebagai efek dorongan: Anda merasa percaya diri dan nyaman sehingga merasa bisa melakukan itu," kata Keith Wilcox, asisten profesor pemasaran di Columbia Business School dan salah satu penulis laporan. "Dan Anda ingin tetap merasa seperti itu, itu mungkin menjelaskan kenapa orang bisa keras membalas orang-orang yang tidak memiliki opini yang sama." Tipe perilaku tanpa kendali, dan besar kepala ini "sering ditunjukkan oleh orang-orang yang dipengaruhi penilaiannya oleh alkohol," kata dia.

Para peneliti melakukan lima rangkaian tes. Salah satunya, mereka bertanya pada 541 pengguna Facebook berapa lama waktu yang mereka habiskan di sana dan berapa banyak teman dekat yang mereka punya di jaringan Facebook. Mereka juga ditanyai soal aktivitas offline, termasuk soal hutang dan penggunaan kartu kredit, berat badan serta kebiasaan makan dan seberapa sering mereka bersosialisasi secara langsung dengan orang lain dalam seminggu.

Mereka yang sering menghabiskan waktu online dan memiliki banyak teman dekat dalam jaringan mereka lebih mungkin makan banyak tak teratur dan memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi, termasuk juga memiliki hutang kartu kredit dan skor kredit yang rendah, menurut penelitian tersebut. Penelitian lain menemukan bahwa mereka yang menggunakan Facebook selama lima menit dan memiliki jaringan pertemanan kuat akan lebih memilih ngemil kue chocolate chip daripada snack kesehatan

Dalam penelitian ketiga, para profesor memberi peserta satu set anagram yang tak mungkin dipecahkan, tes IQ yang dihitung waktunya, lalu mengukur berapa lama waktu yang digunakan para peserta sampai mereka menyerah. Mereka menemukan orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di Facebook lebih mudah menyerah melakukan tugas sulit. Juru bicara Facebook menolak berbicara.

Lalu kenapa begitu banyak orang agresif online? Pertimbangkan komentar yang muncul akan kolom ini di halaman Facebook, dari seseorang yang tidak saya kenal, "Kenapa saya harus menulis ke Anda? Anda tidak akan membalas."

Kita cenderung tidak malu-malu di dunia nyata karena kita tidak harus melihat reaksi dari orang lain yang kita komentari, kata Sherry Turkle, psikolog dan profesor ilmu sosial ilmiah dan teknologi di Massachusetts Institute of Technology. Karena sangat sulit melihat dan fokus pada kesamaan kita dengan orang lain, maka kita cenderung merendahkan derajat satu sama lain, kata dia.

Secara mengejutkan, kata Dr Turkle, banyak orang lupa bahwa mereka berbicara keras-keras saat berkomunikasi online. Terutama saat mengirim sesuatu dari smartphone, "Anda mengatakan sesuatu, tapi rasanya seperti Anda tidak melakukan apa-apa," kata dia. "Jadi ketika Anda bilang, 'Saya benci kamu' menggunakan benda kecil ini (smartphone), rasanya seperti main-main. Tidak terasa seperti bermakna besar."

Dan buat Facebook, namanya adalah bagian dari masalahnya. "Menjanjikan wajah dan tempat di mana kita akan memiliki teman," kata Dr Turkle, penulis buku "Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other." "Jika Anda mendapat komentar jelek di sana, Anda tidak siap. Sehingga Anda merasa dikhianati dua kali, dan Anda menyerang balik."

Di Amerika Serikat, ini adalah musimnya saling serang soal politik, seperti yang dialami Chip Bolcik. Bolcik, 54, seorang pembaca berita televisi dan seorang independen (tak memilih Partai Republik atau Demokrat) dari Thousand Oaks, California, suka menanyakan hal-hal politik di halaman Facebooknya. "Saya sangat tertarik dengan cara berpikir orang-orang yang berbeda pandangan dari saya," kata dia. "Dan kadang saya akan menanyakan hal-hal provokatif hanya demi hiburan melihat orang-orang saling berteriak satu sama lain."

Dalam beberapa bulan terakhir, Bolcik kehilangan dua temannya karena perdebatan politik. Teman yang pertama marah pada dia setelah ia mengirim status yang meminta orang berdebat apakah penganut Mormon tergolong Kristen. ("Kamu sangat jauh dari faktanya, kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan," ia menulis di halamannya, kemudian diikuti dengan, "Kamu seorang idiot.")

Bolcik pun memblok si teman itu dari halamannya. "Saya akan membebaskan diskusi ini sampai kamu mengganggu saya," kata dia. Kadang-kadang Bolcik menghapus seluruh percakapan.

Pertemanan kedua malah berakhir lebih kasar, setelah satu teman Bolcik menyinggung beberapa teman Facebooknya, termasuk Bolcik sendiri, dengan berulangkali menuliskan pandangannya. "Dia terus-terusan mengulang politiknya, dan tidak berdiskusi," kata Bolcik. Bolcik kemudian menulis ke temannya dan mengatakan ia akan memblok dari halaman tersebut jika tidak mengubah perilakunya. Sebagai balasannya, teman tersebut membalas dengan bahasa vulgar dan menghapus Bolcik dari daftar temannya. "Saya cukup marah," kata Bolcik.

Meski begitu, Bolcik tak bisa menahan diri dari mengipasi api. Saat sebuah diskusi politik menjadi panas dan dia tak suka arahnya, dia akan mengirim pesan privat ke salah satu kawannya yang suka menyerang dan mengundang orang tersebut dalam diskusi. Kemudian mereka akan membaca diskusi tersebut dan menyerang orang yang membuat marah Bolcik, "dan saya terlihat seperti orang baik."

Memuat...