Kenapa Puskesmas Tak Dilibatkan dalam Penanganan Corona Covid-19?

Liputan6.com, Jakarta Ramai-ramai masyarakat memeriksakan diri ke rumah sakit karena khawatir terjangkit virus corona (Covid-19). Tanpa disadari, peran Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan (Faskes) tingkat pertama kian diabaikan.

Staf Khusus Menteri Kesehatan RI Bidang Peningkatan Pelayanan (2014-2019) dan Perwakilan Solidaritas Berantas COID-19 Prof Akmal Taher menyayangkan hal tersebut.

"Kita coba mendasar dulu. Bila menyangkut pelayanan kesehatan, promosi kesehatan, pencegahan penyakit, hidup sehat dan sebagainya, kenapa tidak dikerjakan di layanan primer seperti Puskesmas," katanya dalam diskusi jarak jauh yang diselenggarakan Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives, ditulis Minggu (22/3/2020).

Menurut Prof Akmal, layanan primer bisa semakin lemah karena bila menyangkut virus seperti ini, semua orang langsung beralih ke rumah sakit. "Ini tipikal sekali. Padahal kalau bicara soal pencegahan corona seperti cuci tangan harusnya sudah dikerjakan kita sehari-hari. Bahkan dalam 3 bulan ini kata Puskesmas bahkan menghilang dan semua rumah sakit."

Mengubah cara pandang seperti ini, kata Akmal, bisa memperbaiki sistem dari dasar. "Dulu kita punya 150 rumah sakit yang bisa mengatasi flu burung. Lalu sekarang apakah bisa digunakan lagi? Nyatanya enggak. Setelah selesai flu burung, akibatnya kita semua mulai dengan sistem yang baru lagi."

"Saya mengatakan, bahwa tanpa menguatkan pelayanan primer seperti Puskesmas, kita akan sulit. Misalnya saja seseorang ke rumah sakit karena dia perlu isolasi atau sekadar ventilator (alat bantu napas). Kalau dia perlu ventilator saja, dia bisa ke Puskesmas. (keseluruhan) Sistem inilah masih sangat lemah," ujarnya.

Karena sistem kesehatan ini belum kuat, Prof Akmal menyebut perlu ada skenario terbuka yang secara jelas diungkap pemerintah. "Biar jelas dan masyarakat trust. Seandainya dari awal kita dikasitahu musuhnya sebesar apa, saya yakin masyarakat bisa melihat skema ini menjadi bersemangat untuk ikut 'berperang' (melawan virus)," katanya.

 

Mencontoh Singapura

Ilustrasi Novel Coronavirus 2019 (2019-nCoV). (CDC via AP, File)

Prof Akmal meyakini, beberapa negara lain telah menjalani banyak percobaan dalam menghadapi virus corona ini. Maka itu, semestinya pemerintah juga lebih fleksibel.

"Singapura (misalnya) memakai cara sederhana. Skrining bukan dilakukan oleh dokter paru di rumah sakit yang merawat pasien, tapi semua dokter umum dan tenaga kesehatan turun," katanya.

Bila cara ini digunakan, kata dia, sekalipun Pemerintah menyediakan Wisma Atlet untuk karantina pasien corona, akhirnya tidak perlu karena akan banyak orang memilih karantina di rumah.

"Pengalaman di negara lain, walaupun dia positif, lebih bagus di rumah. Nanti kembalikan ke (layanan) primer yang bisa menangani masalah ini. Lalu nanti treatment blocking di daerah dengan menyerahkan ke camat, dan RT/RW," katanya.

Selanjutnya Pemerintah juga harus tanggap pada provinsi yang belum memiliki kasus corona ini. "Kita lihat bagaimana persiapan mereka juga. Jangan kita asik fokus di Jakarta, pelan-pelan didaerah itu ada (virusnya)."

Prof Akmal pun memberikan beberapa rekomendasi percepatan penanganan virus corona (Covid-19).

1. Peningkatan masif skrining

"Ini jalan yang mesti ditempuh karena kita nggak akan tahu, musuh (virus) kita seberapa banyak. Kita ingin masyarakat masing-masing tahu statusnya, apakah ia sehat atau apakah dia orang yang perlu ke rumah sakit. Perlu edukasi dengan fasilitasi yang tepat (di layanan primer) agar seseorang yang perlu skrining lebih lanjut mendapat prioritas," katanya.

2. Intervensi tenaga kesehatan

"Kita harus membangun sistem. Para ilmuwan, praktisi, public health harus cermat melihat yang tidak ideal. Nanti kita masuk (intervensi) di situ," ujarnya.

3. Menjalankan strategi

"Pilhan kita nggak banyak. Mengajak masyarakat untuk Rapid test saja dulu. Walaupun tes ini tidak begitu akurat, dengan segala kelebihan dan kekurangannya seperti PCR sekarang tapi perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut," katanya.

4. Mencari jawaban berdasarkan evidence based

"Cukup banyak policy menurut saya tidak evidence based. Apalagi saya melihat justru lebih pada anti-science. Saya rasa ilmuwan bisa menyuarakan itu karena banyak hal (seperti kebijakan penanganan dan pengobatan) bisa memberikan reaksi dan saling menyalahi," ujarnya.

5. Perlindungan pada tenaga kesehatan

Prof Akmal mengingatkan, tenaga kesehatan yang membantu penaganan virus corona ini bukan hanya dokter melainkan juga melibatkan pegawai di rumah sakit. Jadi dukungan semua pihak untuk mereka juga sama pentingnya.

"Supporting mereka. Mereka juga sama sama risiko bahayanya dengan dokter karena virus ini," pungkasnya.

 

 

Simak Video Berikut Ini: