Kenapa Urusan Suksesi Presiden AS Terkuat Sedunia Terlihat Bodor?

Syahdan Nurdin, GoenardjoadiGoenawan
·Bacaan 1 menit

VIVA - Rakyat Amerika Serikat punya presiden baru. Calon presiden Joe Biden akhirnya secara resmi diumumkan berhasil mengalahkan petahana Donald Trump. Kini Biden akan menjadi Presiden AS ke 46.

Saat ini kedaulatan negara-negara sudah hapus. Artinya, di mana pun Anda berusaha atau tinggal tidak masalah, apakah di Singapura, Amerika Serikat , atau Anda di Jakarta, Indonesia.

Mengapa?

Ekonomi sudah seperti satu perahu besar, mirip perahu Noah. Semua jadi satu, diikat oleh USD. Anda di Jakarta atau Anda di Vietnam arus dana kredit bank sudah diatur World Bank.

Perusahaan Apple diproduksi di Senzhen, atau Brebes tidak masalah.

Apa bedanya Joe Biden dengan Donald?

Bedanya, pajak Donald rendah, duitnya Mark Zuckerberg banyak ditanam di US. Dengan Joe pajak dinaikkan. Mark pindah Singapura. Toh HQ perusahaan besar sudah tersebar HQ Yahoo, Sony, dll di Berlin HQ Alibaba, We Chat, OPPO, Vivo dll di Singapura.

Bagi the 1% tidak masalah mau Trump atau Biden. Betul.

Bilamana orang sedikit lega lepas dari penindasan Trump, sekarang masyarakat berhadapan dengan daya beli, realita bahwa masyarakat tidak mampu bayar tagihan.

Ya tapi mendingan Biden, bukan?

Ya ibarat kelompok 1% ingin memberi hadiah permen, setelah dicekik Trump dan permen ini terasa lebih menguntungkan. Tapi kenyataannya hidup tetap dikuasai 1%. (Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM, Alumni IPB Teknologi Pangan, dan Magister Manajemen Universitas Indonesia Lulus 1989)