Kendaraan listrik bisa mengakhiri era minyak

·Bacaan 2 menit

Paris (AFP) - Pasar-pasar negara berkembang yang beralih dari mesin bensin dan diesel ke kendaraan listrik (EV) bisa menghemat 250 miliar dolar AS per tahun dan memangkas ekspektasi pertumbuhan permintaan minyak global sebanyak 70 persen, kata para analisis industri, Jumat.

Karena semakin banyak saja negara seperti China dan India ingin menambah armada listriknya, mereka pada gilirannya mengurangi ketergantungan kepada minyak impor di mana EV diperkirakan bakal segara lebih murah diproduksi dan dijalankan daripada sepupu mereka yang berbahan bakar fosil.

Analisis tren biaya EV oleh pengawas industri Carbon Tracker menyimpulkan bahwa peralihan ke EV bisa menyelamatkan China yang menjadi pemimpin dunia dalam teknologi ini, sebesar 80 miliar dolar AS setiap tahun pada 2030.

Kenaikan produksi EV akan secara drastis mengurangi biaya impor minyak yang menyumbang 1,5 persen dari PDB China dan 2,6 persen dari PDB India.

Analisis itu menyimpulkan bahwa revolusi EV pada dasarnya bisa mendanai diri sendiri karena biaya komponen turun dari waktu ke waktu dan pemerintah berpaling dari infrastruktur bahan bakar fosil seperti jaringan pipa dan kilang yang berisiko menjadi aset yang terbengkalai mengingat transportasi menjadi lebih hijau.

"Ini adalah pilihan sederhana antara menaikkan ketergantungan kepada minyak yang selama ini mahal diproduksi oleh kartel asing, atau listrik domestik yang diproduksi oleh sumber terbarukan yang harganya turun seiring waktu," kata strategi energi Carbon Tracker dan penyusun utama laporan ini.

"Importir-importir pasar berkembang akan mengakhiri era minyak."

Transportasi di pasar negara berkembang menyumbang lebih dari 80 persen dari semua perkiraan pertumbuhan permintaan minyak sampai 2003.

Menganalisis skenario emisi seperti biasa dari Badan Energi Internasional (IEA), laporan tersebut menyimpulkan separuh dari pertumbuhan itu diperkirakan berasal dari China dan India.

Analisis ini menghitung bahwa dengan beralih ke Skenario Pembangunan Berkelanjutan IEA di mana EV menyumbang 40 persen dari penjualan mobil di China dan 30 persen di India, pertumbuhan permintaan minyak dekade ini bakal terpangkas sampai 70 persen.

Para penyusun laporan ini menyebutkan bahwa penurunan 20 persen biaya baterai dalam satu dekade telah mendorong "pasar baru yang besar" untuk tumbuhnya EV.

Menggunakan angka dasar industri, analisis ini menaksir bahwa biaya impor minyak untuk menjalankan mobil rata-rata selama 15 tahun masa pakai (10.000 dolar AS) sudah 10 kali lebih tinggi ketimbang biaya peralatan surya yang diperlukan untuk menyalakan EV yang setara.

Tahun lalu, EV menyumbang 61 persen dari penjualan kendaraan roda dua di China dan 59 persen dari penjualan bus.

"Faktor perang melawan plastik yang mempengaruhi permintaan petrokimia dan meningkatnya penetrasi EV di pasar negara maju, kian besar kemungkinan kita menyaksikan puncak permintaan minyak terjadi pada 2019," kata Bond.

pg/pma