Kepada LPSK, Bharada E Akui Diberi Ponsel Baru oleh Ferdy Sambo Usai Brigadir J Tewas

Merdeka.com - Merdeka.com - Bharada E alias Richard Eliezer mengaku mendapatkan gawai baru merek Iphone dan disodorkan sejumlah uang oleh Ferdy Sambo usai insiden berdarah pembunuhan Brigadir J, Jumat (8/7) lalu. Demikian pengakuan itu didapat Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

"Iya diganti (Ferdy Sambo). Iya benar (Bharada E) dikasih HP baru, iPhone. (Jenisnya) Saya enggak tahu jenisnya," kata Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu saat dihubungi merdeka.com, Senin (5/9).

Edwin tidak tahu maksud pemberian gawai baru tersebut. Namun yang jelas, selain Bharada E adapula Kuat Maruf, dan Bripka RR yang mendapatkan handphone tersebut.

"Diberikan oleh FS, ke Bharada E, KM dan RR," ucapnya.

Adapun, Edwin mengatakan jika usai diberikan handphone baru tersebut. Pihaknya masih mendalami terkait kemana gawai lama milik Bharada E yang diduga menyimpan sejumlah barang bukti.

"Enggak tahu (gawai lamanya). Nanti itu masih kami dalami," tuturnya.

Meski belum jelas motif pemberian handphone baru tersebut, namun Edwin mengatakan jika apa yang diberikan oleh Ferdy Sambo juga berbarengan dengan ditunjukan sejumlah uang dengan mata uang asing yang dijanjikan Mantan Kadiv Propam tersebut. Peristiwa itu setelah penembakan Brigadir J.

"Kan ketika pemberian hp itu ada ibu PC. Kan pemberian hp itu kan satu paket dengan pemberian amplop yang berisi uang. Tapi bukan diberikan, baru ditunjukan kepada masing ke Bharada E, RR, dan KM. Uang itu diduga, bukan mata uang rupiah," kata dia.

"Ya tapi dijanjikannya udah ditunjukin langsung ke depan orang-orangnya. Diserahkan buat dilihat, tapi kemudian ditarik lagi. Katanya dikasih kalau sudah SP3, dihentikan perkaranya" tambahnya.

Hp Lama Hilang

Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengakui hingga saat ini beberapa handphone ajudan mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo yang ditukar beberapa hari setelah pembunuhan Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat belum ditemukan. Komnas HAM menyebut keberadaan gawai tersebut tidak diketahui sejak 10 Juli 2022.

"Kemudian penghilangan dan penggantian HP seperti contoh misalnya beberapa ADC itu mereka diambil HP-nya. Tanggal 10 kira-kira pukul 01.00 Wib, mereka dikasih HP baru," kata Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Senin (22/8).

"HP pada tanggal 10 ke belakang termasuk pada hari H itu sampai sekarang belum ditemukan," imbuh Taufan.

Kendati demikian, Taufan menyebut Komnas HAM menemukan jejak upaya penghambatan penyidikan atau obtruction of justice dari sejumlah handphone yang telah diperiksa Komnas HAM.

Taufan menjelaskan upaya itu terlihat dari jejak pesan singkat terkait pengaburan fakta lewat skenario palsu. Tak hanya itu, ada juga beberapa pesan singkat dan riwayat panggilan yang dihapus.

"Dari HP yang antara 10 sampai 19 itu ditemukan ada upaya-upaya membangun skenario. Yang jawaban-jawabannya kepada atasan seperti 'siap komandan' sangat kentara," ungkap dia.

Namun Taufan menilai bukti tersebut tidak cukup untuk mengungkap keseluruhan fakta terkait kasus kematian Brigadir J. Terutama untuk mengungkap adanya indikasi pelanggaran HAM yakni terkait fair trial dan acces to justice.

Oleh sebab itu, dia meminta DPR untuk juga menanyakan keberadaan HP ajudan Sambo yang ditukar. Taufan khawatir ada pihak yang terjebak lagi oleh skenario Sambo yang lain.

"Jadi mungkin ini bisa juga pada pertemuan dengan Kapolri dan Mabes bisa ditanyakan itu apakah bisa didapatkan. Karena itu sangat penting itu mendukung," ucap dia.

"Kalau enggak, nanti di saat proses persidangan kita khawatirkan sangat sangat bergantung pada keterangan. Meskipun sudah ada pengakuan terbuka saudara FS ini bahwa dia otak pembunuhan dan otak rekayasa," katanya. [rhm]