Kepala WHO bantah klaim Ethiopia bahwa dia mendukung wilayah pembangkang

·Bacaan 3 menit

Addis Ababa (AFP) - Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, orang Tigrayan yang paling terkenal di dunia, pada Kamis membantah tuduhan kepala militer Ethiopia bahwa dia melobi dan berusaha mempersenjatai para pemimpin di wilayah pembangkang yang dilanda konflik itu.

Perdana Menteri Abiy Ahmed melancarkan kampanye militer di wilayah utara itu pada 4 November dengan tujuan nyata menggulingkan partai berkuasa di sana, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), yang dia tuduh menentang pemerintahnya dan berusaha menggoyahkannya.

Panglima Angkatan Darat Berhanu Jula mengatakan pada konferensi pers bahwa Tedros, yang pernah menjabat menteri kesehatan di bawah pemimpin TPLF Meles Zenawi, adalah "bagian dari tim itu", merujuk pada partai tersebut.

"Dia telah berusaha mengutuk perang di negara-negara tetangga. Dia bekerja demi mereka agar mendapatkan senjata," kata Berhanu, tanpa memberikan bukti yang mendukung tudingan itu.

Dia menambahkan Tedros "melakukan berbagai cara" untuk membantu TPLF.

Redwan Hussein, juru bicara komite krisis Ethiopia yang menangani konflik tersebut, mengakui "pemerintah tidak senang" kepada Tedros.

"Pemerintah sadar bahwa dia telah terburu-buru dan sibuk, mengimbau para pemimpin dan ... lembaga dan meminta mereka untuk ... memaksa pemerintah untuk duduk dan bernegosiasi," kata dia dalam konferensi pers.

Tedros mengatakan bahwa dia telah melihat kehancuran akibat perang sejak dia masih anak-anak, dan telah "menggunakan pengalaman langsung itu untuk selalu bekerja untuk perdamaian".

"Ada laporan yang menilai saya memihak dalam situasi ini. Ini tidak benar," tulis Tedros (55) di Twitter.

"Saya ingin mengatakan bahwa saya hanya di satu sisi dan itu adalah sisi perdamaian."

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres memberikan dukungannya kepada kepala WHO.

"Kita semua telah melihat pekerjaan yang dia lakukan untuk memimpin WHO," kata dia menyebut Tedros "pegawai sipil internasional yang patut dicontoh".

Tedros ditunjuk sebagai kepala WHO asal Afrika pertama pada 2017 dan telah menjadi tokoh populer saat bergulat dengan pandemi Covid-19. Dia dinobatkan sebagai salah satu orang paling berpengaruh dalam majalah Time.

Pemerintah Abiy bersikukuh bahwa targetnya adalah anggota TPLF yang "reaksioner dan nakal" dan bukan warga sipil biasa di Tigray.

Namun para pengamat telah menyuarakan keprihatinan mengenai hilangnya pekerjaan atau penangkapan terhadap warga Tigrayan karena etnis mereka.

TPLF memimpin penggulingan Mengistu Hailemariam, kepala rezim militer Derg Ethiopia, pada 1991 dan mendominasi politik selama tiga dekade hingga kedatangan Abiy yang diangkat pada 2018.

Partai itu mengeluh karena dikesampingkan semasa era Abiy, dan menjadi kambing hitam atas kesengsaraan negara. Perseteruan sengit dengan pemerintah pusat tahun ini membuat TPLF menggelar pemilu mereka sendiri yang menyimpang dari penundaan karena pandemi.

Pada 4 November, Abiy mengatakan TPLF telah menyerang dua kamp militer federal di wilayah itu, melewati "garis merah".

Kampanyenya yang kontroversial telah menyaksikan pesawat tempur-pesawat tempur membom Tigray dan pertempuran sengit, sementara Amnesty International mendokumentasikan pembantaian yang mengerikan.

Pemadaman komunikasi di Tigray telah membuat klaim sulit untuk diverifikasi, tetapi jumlah korban tewas secara keseluruhan diyakini mencapai ratusan.

Abiy pekan ini menegaskan operasi militer berada dalam tahap terakhir.

Redwan mengatakan bahwa "pasukan pertahanan kami bergerak maju dan mendekati Mekele," ibu kota daerah itu.

Dia menambahkan bahwa kota utara Shire, tempat pertempuran sengit dilaporkan dalam beberapa hari terakhir, sudah berada di tangan pemerintah.

Seorang pejabat senior Tigrayan, Wondimu Asamnew, mengatakan pasukan Tigrayan "telah mengambil sikap bertahan di semua lini".

Sebuah pernyataan dari presiden Tigray Debretsion Gebremichael pada Kamis mengatakan tentara telah "meminta bantuan dari pasukan luar, dengan drone mulai digunakan dalam pertempuran itu."

Sementara itu, PBB mengatakan "krisis kemanusiaan skala penuh" sedang berlangsung, dengan 36.000 orang telah mengalir ke negara tetangga Sudan, menurut komisi pengungsi negara itu.

Redwan mengatakan bahwa pemerintah berencana "meyakinkan dan membawa kembali rekan-rekan kami dari Sudan dan persiapan sedang dilakukan di sini."

Sejak dimulainya pertempuran, ratusan orang telah ditangkap karena diduga bersekongkol dengan TPLF, sedangkan 34 perusahaan ditangguhkan rekening banknya karena diduga terkait dengan TPLF.

Polisi federal Rabu malam mengumumkan surat perintah penangkapan untuk 76 perwira militer, beberapa pensiunan, yang dituduh bersekongkol dengan TPLF dan "melakukan pengkhianatan".

"Kami terus menerima laporan yang dapat dipercaya tentang penangguhan pekerjaan penduduk Tigrayan di berbagai tempat di negara ini karena pertempuran meningkat di Tigray," kata Laetitia Bader dari Human Rights Watch kepada AFP pekan lalu.

str-fb/dl/tgb