Kepala Bappenas Beberkan Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Pasca Pandemi Covid-19

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa menyampaikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di berbagai negara mengalami kemunduran. Hal ini sebagai dampak pandemi Covid-19.

Di hadapan para delegasi Development Ministerial Meeting (DMM) G20 di Belitung, Suharso juga menyampaikan, pasca pandemi Covid-19 pun pembangunan berkelanjutan di berbagai negara pun tidak lantas berjalan dengan optimal.

"Kami menyepakati bahwa terdapat kemunduran dalam pertumbuhan ekonomi dan pencapaian SDGs (sustainable development goals) karena tantangan pembangunan yang sedang berlangsung," ujar Suharso, dikutip pada Jumat (9/9).

Dia merinci, beberapa tantangan tersebut antara lain adalah pemulihan pasca-pandemi Covid-19 yang masih rentan, perubahan iklim, kepunahan keanekaragaman hayati, ancaman terhadap ketahanan pangan, dan stagnasi ekonomi.

Sementara itu, pada Kamis (8/9) sore, seluruh delegasi Development Ministerial Meeting (DMM) G20 menyepakati dua isu besar yang nantinya akan disampaikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT G20) di Bali pada November. Dua kesepakatan tersebut yaitu peta jalan keberlangsungan pembangunan dan biaya pencampuran (blended finance).

Suharso menyampaikan dua isu tersebut saling relevan sebab merencanakan sebuah pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan pembiayaan besar.

Butuh Pendanaan Campuran

Suharso mengatakan, untuk mendapatkan dana saat ini tidak lagi hanya menggunakan cara konvensional. Pembiayaan campuran (blended finance), ucapnya, dapat diperoleh dari sektor swasta melalui corporation social responsibility (CSR), atau pajak karbon, atau pendanaan lainnya.

"Kami berkomitmen untuk meningkatkan pembiayaan campuran, atau blended finance, bagi negara-negara berkembang, dengan menunjukkan kepemimpinan dalam implementasi konkret yang akan dilaksanakan selanjutnya," ucap Suharso dalam konferensi pers di Belitung, Kamis (8/9).

Sementara itu, ketahanan pembangunan yang berkelanjutan menurut Suharso berasal dari usaha mikro kecil menengah (UMKM). Dia mengatakan, 90 persen pilar ekonomi suatu negara ada pada UMKM. Untuk itu, imbuhnya, negara-negara G20 sepakat agar ketahanan UMKM perlu dilindungi.

"Kami berkomitmen untuk mengoptimalkan produktivitas, dan meningkatkan daya saing bagi usaha mikro kecil menengah agar resilien dalam menghadapi guncangan dan tantangan," ucapnya.

"Kami juga berkomitmen untuk memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi guncangan, krisis, dan bencana di masa depan melalui implementasi perlindungan sosial adaptif," sambungnya. [idr]