Kepala BKF Ingatkan Ekonomi Bisa Pulih Bila Penanganan Kesehatan Tepat

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Indonesia dinilai harus dapat belajar dari pengalaman berbagai negara dalam kurun waktu 1,5 tahun terjadinya pandemi Covid-19.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan jika pandemi Covid-19 memberikan ketidakpastian yang sangat tinggi terhadap ekonomi.

Hal yang bisa dipelajari dari pengalaman negara lain yakni pemulihan ekonomi akan cepat terjadi apabila diiringi dengan penanganan kesehatan yang tepat.

"Kita perlu sangat hati-hati dan terus menjaga disiplin pada protokol kesehatan. Kita juga belajar bahwa akselerasi vaksinasi menjadi salah satu kunci utama pengendalian kasus," ujar dia di Jakarta, Rabu (28/7/2021).

Indonesia sendiri saat ini menargetkan untuk mendorong vaksinasi harian di tingkat 1,5 juta dosis, dan akan terus ditingkatkan secara gradual.

Per 27 Juli 2021, total kumulatif vaksin yang telah diberikan pada masyarakat mencapai 63,94 juta dosis.

"Ke depan, pemerintah akan tetap bekerja keras untuk terus melakukan percepatan vaksinasi agar pelaksanaannya konsisten sesuai dengan target yang ditetapkan," ungkap Febrio.

Febrio lantas berkaca pada tren positif pemulihan ekonomi dunia yang diperkirakan masih akan terus berlanjut.

Dalam rilis terbaru World Economic Outlook (WEO) Juli 2021, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tumbuh 6,0 persen pada 2021, tidak berubah dibandingkan WEO April 2021, dan 4,9 persen pada 2022 (naik 0,5 percentage point/pp).

"Solidnya proyeksi perekonomian global lebih didukung oleh tambahan stimulus fiskal yang kuat dan akselerasi vaksinasi yang memungkinkan reopening lebih luas, khususnya di negara-negara maju seperti AS dan Eropa," kata Febrio.

Sejalan dengan hal tersebut, volume perdagangan global juga diprediksi mencatatkan kinerja yang solid, dimana pada 2021 diprediksi mengalami pertumbuhan sebesar 9,7 persen di 2021.

Menurut Febrio, pertumbuhan yang kuat pada aktivitas perdagangan menunjukkan bahwa sektor eksternal juga menjadi faktor utama yang mendorong tumbuhnya ekonomi global.

"Namun, dunia harus mewaspadai risiko penyebaran varian delta Covid-19 yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir serta menjaga efektivitas stimulus dan mendorong akses vaksinasi yang adil dan merata," imbuhnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Vaksinasi Rendah Jadi Risiko

Petugas kesehatan melakukan screening terhadap penerima vaksin covid-19 di Gudang Darurat Nasional Palang Merah Indonesia, Jakarta, Kamis (15/7/2021). PMI turut menggelar vaksinasi massal untuk mempercepat pencapaian target pemerintah untuk mewujudkan kekebalan komunitas. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Petugas kesehatan melakukan screening terhadap penerima vaksin covid-19 di Gudang Darurat Nasional Palang Merah Indonesia, Jakarta, Kamis (15/7/2021). PMI turut menggelar vaksinasi massal untuk mempercepat pencapaian target pemerintah untuk mewujudkan kekebalan komunitas. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Meskipun demikian, pemulihan ekonomi global terjadi secara tidak merata (uneven recovery) yang antara lain disebabkan oleh perbedaan situasi pandemi Covid-19, kecepatan vaksinasi, dan dukungan stimulus ekonomi.

Secara garis besar, kelompok negara maju mengalami kenaikan proyeksi didukung perluasan reopening, jangkauan vaksinasi yang tinggi, serta stimulus yang masif. Seperti yang terjadi pada AS (proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 naik 0,6 pp), Zona Eropa (naik 0,2 pp) dan Korea Selatan (naik 0,7 pp).

Sementara itu, banyak negara berkembang yang mengalami penurunan proyeksi, utamanya akibat pemberlakuan restriksi lebih ketat di tengah penyebaran varian Delta.

Beberapa negara yang mendapat revisi ke bawah antara lain India (-3,0 pp), Malaysia (-1,8 pp), Filipina (-1,5 pp), Thailand (-0,5 pp) dan Indonesia (-0,4 pp).

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari IMF untuk 2021 yakni 3,9 persen, sesuai dengan titik tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi versi Pemerintah Indonesia di kisaran 3,9 persen.

"Tingkat vaksinasi yang relatif rendah di negara berkembang juga dianggap memberikan risiko kerentanan terhadap kesinambungan pemulihan ekonomi ke depan," pungkas Febrio.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel