Kepala BKKBN: Stigma dan mitos jadi tantangan tingkatkan KB pada pria

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan stigma yang melekat kuat dan mitos dalam masyarakat menjadi tantangan untuk meningkatkan program keluarga berencana (KB) pada pria di Indonesia.

“Kesehatan laki-laki itu juga sangat penting. Jadi begini, untuk pria perannya itu memang penting. Kenapa pria itu penting, saya kira ini asas keadilan gender di mana laki-laki dan perempuan harus imbang,” kata Hasto saat ditemui ANTARA di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Selasa.

Hasto menuturkan seperti layaknya ibu dalam menggunakan alat kontrasepsi, peran ayah dalam menggunakan program KB juga menjadi bagian yang sangat penting dalam membangun sebuah keluarga yang berkualitas.

Baca juga: Kepala BKKBN pantau kondisi KB di Sijunjung Sumbar

Keikutsertaan seorang ayah dalam merencanakan kehamilan dapat membantu menurunkan angka prevalensi kekerdilan pada anak (stunting) yang kini masih menyentuh angka 24,4 persen secara nasional melalui pemberian jarak kelahiran antaranak.

"Sayangnya, penggunaan KB di kalangan pria justru masih rendah. Hanya mencapai dua persen dan menjadi lima persen apabila ditambah dengan yang menggunakan alat pengaman seperti kondom," katanya.

Menurut dia, rendahnya minat pada program KB itu disebabkan stigma dalam masyarakat yang masih kuat tentang penggunaan KB difokuskan untuk perempuan saja.

“Itulah kenapa peran pria dalam KB itu penting, saya kira ini terkait dengan asas keadilan gender. Seharusnya pria dan perempuan imbang (dalam merencanakan pembangunan keluarga),” ucap dia.

Baca juga: BKKBN: Hari Keluarga Nasional momen perkuat pola asuh pada anak

Ditambah lagi, mitos mengenai pria yang menggunakan KB tidak akan menjadi perkasa ataupun subur dalam menghasilkan keturunan. Padahal mitos tersebut adalah hal yang salah dan harus diluruskan dalam masyarakat.

“Pria itu begini, ada yang merasa kalau dia ikut Metode Operasi Pria (MOP) itu dia tidak menjadi perkasa lagi. Itu kan isu yang harus diluruskan,” kata dia.

Hasto menambahkan bahwa tantangan lainnya adalah tidak banyak alternatif pria untuk mengikuti KB. Hingga kini, hanya ada dua jenis KB yang bisa digunakan yakni kondom dan MOP.

Dalam kesempatan itu, Hasto menekankan apabila kesehatan seorang pria merupakan hal yang sangat penting. Dengan demikian, Hasto mendorong semua pria yang sudah memiliki banyak anak untuk berpartisipasi aktif dalam penggunaan KB sebagai upaya merencanakan keluarga dengan baik dan matang.

Baca juga: BKKBN luncurkan Program Bapak Asuh Stunting tingkatkan gizi pada anak

“Kalau bisa, ikutlah berpartisipasi bagi anaknya yang sudah cukup banyak. Padahal kalau anak sudah dua, istri berusia di atas 35 tahun itu sudah cukup untuk pasang MOP,” ucap Hasto.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel