Kepala BNPB Minta Perantau Minang Tahan Diri Tidak Mudik

Dusep Malik, Andri Mardiansyah (Padang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta kepada seluruh perantau Minang yang ada di dalam negeri bahkan luar Negeri, agar bisa menahan diri tidak Mudik saat Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah nanti.

Menurut Doni, jika perantau Minang bersabar, maka perantau lainpun juga ikut bersabar. Sebab, jumlah perantau dari Sumatera Barat termasuk yang paling banyak sehingga bisa mengajak seluruh saudara di Tanah Air untuk menahan diri.

“Oleh karenanya, para perantau yang ada di berbagai provinsi di Indonesia untuk bisa membantu pemerintah. Menahan diri dulu. Untuk sementara jangan pulang kampung. Jangan ada kegiatan pulang basamo (pulang bersama). Jadi, bersabar dulu. Kalau orang Minang bersabar, maka perantau lain pun akan ikut bersabar,” kata Doni Monardo di Padang, Kamis 15 April 2021.

Doni menegaskan, dirinya tidak akan bosan-bosan menyampaikan informasi jika tahun ini mudik kembali tunda. Kebijakan ini diambil, guna mencegah penularan Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19.

Merujuk tahun lalu, khusus di Sumatra Barat sebelum Lebaran, kasus COVID-19 relatif rendah. Namun, setelah Lebaran kasusnya menjadi meningkat. Bahkan, sejumlah rumah sakit dinyatakan penuh.

“Tahun lalu usai Lebaran kasusnya meningkat. Rumah sakit penuh, sempat kita dapat laporan beberapa wafat dan juga akhirnya membuat kepanikan. Oleh karena itu perantau bisa membantu pemerintah tidak pulang ke kampung halaman," tegasnya.

Doni menambahkan, secara Nasional kasus COVID-19 di Indonesia sudah membaik saat ini. Sementara, di Negara lain, masih mengalami peningkatan yang luar biasa dengan angka kematian dan kasus aktif hariannya sangat tinggi.

Meski banyak negara yang sudah vaksin, namun kata dia, vaksin tidak menjadi jaminan kasus COVID-19 ini, berkurang.

“Vaksin membantu membuat orang menjadi lebih paham terhadap COVID-19. Saya penyintas COVID-19, saya merasakan betapa berbahayanya COVID-19. Kalau terlambat di rawat di rumah sakit, risikonya adalah kematian. Jadi, ini jangan bosan-bosan kita sampaikan. Tidak bisa hanya sekali, harus sering dan terus menerus,” tutup Doni.