Kepala BNPT: Kombatan Asal RI di Syria Mulai Geser ke Afghanistan

·Bacaan 2 menit

VIVA – Munculnya aksi bom bunuh diri di luar Bandara Kabul, Afghanistan yang dilakukan kelompok Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) Khorasan atau ISIS-K di tengah pergolakan di Afghanistan menyebabkan Badan Nasional Penanggulangan Terorismie (BNPT) meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya kalangan di Tanah Air yang simpatik dengan kelompok tersebut.

“Penyelidikan intelijen tetap berjalan, itu kan tidak putus-putus ya. Tanpa peristiwa Afghanistan kita terus melakukan penyelidikan potensi ancamannya,” kata Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar ketika ditemui di RSUD Bung Karno Solo, Sabtu, 28 Agustus 2021.

Lantas untuk menghindari pihak-pihak yang bersimpati terhadap kelompok itu, ia pun mengungkapkan salah satunya dengan menguatkan semangat nasionalisme masyarakat Indonesia. Boy pun mengimbau kepada warga jangan terpengaruh dengan gerakan-gerakan seperti ISIS, Taliban maupun Al Qaeda.

“Bagaimanapun ISIS, Taliban dan Al Qaeda merupakan organisasi yang mengusung kekerasan. Nah kekerasan-kekerasan ini adalah sesuatu tindakan yang tidak tepat buat kita sebagai bangsa Indonesia yang berideologi Pancasila,” ujarnya.

Sedangkan terkait berkuasanya rezim Taliban setelah berhasil mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan resmi Afghanistan, ia pun mengingatkan kepada masyarakat agar jangan salam dalam menyikapi serta jangan salah juga dalam berpartisipasi terhadap kelompok tersebut.

“Kalau kita mendoakan agar Afghanistan menjadi negara yang damai, itu adalah yang baik. Tapi kalau apa yang dilakukan dengan mengedepankan dengan cara-cara kekerasan itu bukan tipe bangsa kita. Kita harus kuatkan semangat nasionalisme bagi seluruh masyarakat Indonesia,” harapnya.

Sementara itu ketika disinggung mengenai antisipasi munculnya aksi simpati terhadap Taliban dan ISIS di media sosial, Boy menegaskan bahwa pihaknya telah mengerahkan patroli siber di media sosial. Tugas patroli siber untuk mendeteksi dan mencari tahu terkait informasi-informasi yang membahayakan maupun provokasi di media sosial.

“Ada cyber patrol mendeteksi mana yang info membayakan, provokasi. Kita berharap dengan upaya-upaya mencegah menyebarluasnya itu adalah sesuatu sebagai upaya kita. Jangan sampai provokasi mereka diikuti oleh masyarakat kita,” ungkapnya.

Boy juga sedikit membocorkan bahwa tim cyber patrol telah berhasil menemukan sejumlah akun dan postingan yang menaruh simpati terhadap gerakan kelompok itu. Hanya saja ia tidak menyebutkan jumlah pastinya. Dengan munculnya pihak yang bersimpati terhadap gerakan kelompok tersebut di media sosial menyebabkan pihaknya melakukan pengawasan secara intensif.

“Ada beberapa tetapi dia sifatnya masih bersimpati, kemudian belum ada yang sifatnya membahayakan. Sementara masih dengan tugas-tugas di bidang intelijen diawasi dulu, belum masuk ranah yang melanggar hukum ya kita ingatkan. Kita imbau secara persuasif dulu tapi kalau ada rencana-rencana yang membahayakan baru ada tindakan hukum,” ujarnya.

Sedangkan terkait jumlah kombatan Indonesia yang masuk ke Afghanistan, ia mengaku belum bisa memastikan jumlahnya. Hanya saja dengan keberhasilan Taliban mengambil alih pemerintah resmi Afghanistan menyebabkan sejumlah kombatan asal Indonesia yang berjuang di Syria mulai bergeser ke Afghanistan.

“Data kombatan? Masih belum belum bisa dipastikan karena ada yang pindah dari Syria ke sana (Afghanistasn),” ucapnya.

Baca juga: Densus 88 Waspadai Kedatangan WNI dari Afghanistan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel