Kepala dinas keamanan Israel serukan penghentian pelacakan telepon terkait virus

YERUSALEM (AP) - Kepala dinas keamanan Shin Bet Israel dilaporkan pada Senin telah mengatakan bahwa dia menentang kelanjutan penggunaan teknologi pengintaian telepon yang dilakukan lembaganya dalam rangka melacak kasus-kasus virus corona.

Kesaksian Nadav Argaman itu mendorong para menteri Kabinet Israel untuk membekukan undang-undang yang direncanakan bakal memperpanjang penggunaan praktik kontroversial tersebut, lapor harian Haaretz.

Pemerintah Israel pada Maret mengizinkan Shin Bet menggunakan teknologinya untuk membantu menghentikan penyebaran virus corona.

Teknologi ini memungkinkan pemerintah bisa menelusuri kembali langkah demi langkah orang yang terinfeksi virus corona dan dalam mengidentifikasi orang-orang yang telah menjalin kontak dengan yang terinfeksi dalam dua pekan sebelumnya. Mereka yang dianggap berisiko terinfeksi kemudian diperintahkan menjalani karantina protektif.

Pemerintah membela praktik yang biasanya digunakan oleh Shin Bet untuk melacak para tersangka militan Palestina itu sebagai cara untuk menyelamatkan nyawa. Tetapi para pengkritik menyebut praktik itu melanggar hak privasi. Perintah untuk otorisasi penggunaan sementara teknologi tersebut akan kedaluwarsa bulan ini.

Menurut Haaretz, Argaman mengatakan lembaganya tidak boleh terlibat dalam masalah sipil. Mengingat virus corona sebagian besar sudah terkendali, dia mengatakan penggunaan teknologi itu tidak lagi diperlukan.

Dia mengusulkan menggunakan alat sipil, seperti aplikasi pelacakan telepon yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan Israel, sebagai alternatif, kata laporan itu. Aplikasi yang disebut "Perisai" itu mengharuskan warga Israel menyetujui penggunaannya.

Shin Bet menolak berkomentar.

Pemerintah baru Israel sedang menyusun undang-undang yang akan memberinya kekuatan darurat guna menghadapi potensi gelombang baru virus corona. Negara ini telah mengalami lonjakan kecil dalam kasus-kasus sejak melonggarkan penutupan dua bulan silam.

Tehilla Shwartz Altshuler, pakar masalah privasi pada lembaga think tank Israel Democracy Institute, memuji keputusan nyata itu dalam menghentikan penggunaan teknologi pelacakan.

"Bahkan kepala ISA menyadari bahwa hak-hak sipil telah dikorbankan demi pengawasan ini," kata dia merujuk Shin Bet. Dia menyerukan penggunaan taktik-taktik yang kurang invasif untuk mencegah penyebaran virus.