Kepala IEA sebut China berkontribusi dalam kurangi emisi karbon global

China berkontribusi besar dalam mengurangi emisi karbon dioksida global dengan memainkan peran penting sebagai "pemimpin teknologi energi bersih secara global," seperti disampaikan ketua Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dalam sebuah wawancara dengan Xinhua pada Rabu (9/11).

"Dunia sedang mengalami krisis energi besar," ujar Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA, kepada Xinhua dalam Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim ke-27 (COP27) yang diadakan di kota pesisir Sharm El-Sheikh, Mesir.

Banyak orang khawatir bahwa penggunaan bahan bakar fosil akan meningkat secara signifikan dan menyebabkan peningkatan emisi karbon, namun analisis IEA menunjukkan bahwa kenaikan emisi karbon global pada tahun ini akan lebih rendah dari 1 persen, katanya.

Birol menjelaskan bahwa peningkatan penerapan teknologi energi terbarukan, termasuk tenaga surya, bayu, dan hidrogen, secara efektif akan memperlambat pertumbuhan emisi karbon global (Xinhua)
Birol menjelaskan bahwa peningkatan penerapan teknologi energi terbarukan, termasuk tenaga surya, bayu, dan hidrogen, secara efektif akan memperlambat pertumbuhan emisi karbon global (Xinhua)


Birol menjelaskan bahwa peningkatan penerapan teknologi energi terbarukan, termasuk tenaga surya, bayu, dan hidrogen, secara efektif akan memperlambat pertumbuhan emisi karbon global.

"Industri kendaraan energi baru berkembang pesat tahun ini, dan sekitar 50 persen mobil listrik di dunia berasal dari China ... China memainkan peran penting dalam mempromosikan dan menerapkan teknologi hijau," ujar Birol.

Kepala IEA tersebut mengatakan bahwa lebih banyak investasi energi bersih harus didorong untuk mengalir ke negara-negara berkembang dalam upaya menangani perubahan iklim, terutama di Afrika.

Ada banyak cara untuk mendukung energi bersih di negara berkembang, salah satunya adalah dengan mewujudkan janji pendanaan iklim senilai 100 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp15.546) oleh negara-negara maju, kata Birol.

"Saya berharap perekonomian-perekonomian maju akan menghormati komitmen mereka," tambahnya.

COP27 dibuka pada Minggu (6/11) di Sharm El-Sheikh, dengan harapan dapat mewujudkan janji pendanaan iklim global menjadi tindakan nyata. Dalam konferensi selama dua pekan tersebut, lebih dari 40.000 peserta dari 190 lebih negara serta puluhan organisasi internasional dan regional akan mencari solusi yang memungkinkan terhadap salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia.