Kepala Mayor Kopassus Nyaris Bolong Diterjang Peluru Penembak Jitu

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Bukan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tentunya jika tak siap diterjunkan dalam misi menantang maut. Dengan kemampuan khususnya, satuan elite milik TNI Angkatan Darat ini punya pengalaman tempur di sejumlah palagan dalam sejarah Indonesia.

Banyak nama besar yang lahir dari Korps Baret Merah. Sebut saja Letjen TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo, Letjen TNI (Purn.) Sintong Panjaitan, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan, dan tentunya Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Sederet nama tadi hanya sebagian saja. Masih banyak tokoh-tokoh Kopassus yang pernah menantang maut saat menjalankan misi berbahaya.

Salah satunya adalah Jenderal TNI (Purn.) Leonardus Benyamin Moerdani, atau yang dikenal dengan sapaan Benny Moerdani. Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, Jauh sebelum menjadi orang nomor satu di TNI, Benny pernah mempertaruhkan nyawanya di sejumlah pertempuran.

Salah satunya adalah saat Republik Indonesia (RI) terlibat perseteruan dengan Malaysia pada 1964. Benny yang saat itu berpangkat Mayor Infanteri (Inf.) TNI, adalah salah satu perwira terbaik yang dimiliki oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang sekarang menjadi Kopassus.

Saat itu, Benny mendapat tugas bersama beberapa personel RPKAD untuk menyusup ke wilayah Kalimantan Utara. Tugasnya adalah untuk membuka jalur bagi pasukan inti TNI, yang nantinya akan dikerahkan bertempur dengan pasukan Malaysia yang dibantu oleh Angkatan Bersenjata Kerajaan Inggris.

Misi Benny itu jelas sangat berbahaya. Sebab, Benny dan timnya harus melewati hutan belantara yang masih sangat lebat, dengan panduan alakadarnya. Selama berhari-hari, Benny melitasi hutan Kalimantan dan tak jarang juga melakukan penyisiran di wilayah sungai.

Ancaman pun datang. Saat Benny tengah melakukan penyusuran di sebuah sungai bersama timnya, ada sejumlah pasukan elite Angkatan Darat Kerajaan Inggris, Special Air Service (SAS), yang bersembunyi di tepi sungai.

Situasi semakin mencekam, lantaran Benny dan pasukannya sama sekali tidak tahu bahwa ia jadi sasaran tembak penembak jitu (sniper) pasukan SAS. Sniper SAS itu sebenarnya tinggal menekan pelatuk senapan, dan Benny dipastikan bakal tewas seketika.

Namun apa yang terjadi, Benny pun lolos dari kematian. Pasalnya, penembak jitu SAS itu akhirnya tidak menembakkan senapannya. Ternyata alasannya adalah kapal perang HMS Queen Elizabeth.

Ternyata, para pasukan SAS ini mendapat perintah untuk mengamankan jalur pelayaran kapal perang HMS Queen Elizabeth. Oleh sebab itu, penembak jitu SAS ini tidak menyerang Benny dan timnya. Karena jika sampai terjadi kontak senjata, maka kapal perang itu akan mendapat gangguan dari pasukan TNI.

Hal ini akhirnya diketahui Benny saat berkunjung ke Inggris pada 1976. Saat itu, Benny cukup kaget saat bertemu seorang prajurit SAS yang hampir membunuhnya.