Kepala TNWK Bantah Adanya Manusia Kerdil

Bandarlampung (ANTARA) - Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas membantah pemberitaan sejumlah media massa tentang adanya temuan manusia kerdil atau mahluk liliput di kawasan hutan di Kabupaten Lampung Timur tersebut.

"Pemberitaan itu tidak benar dan tidak ada konfirmasi langsung kepada saya selaku kepala di sana," kata Kepala Balai TNWK Lampung Timur Sri Andayani saat dikonfirmasi di Bandarlampung, Rabu.

Menurut dia, setelah tim melakukan pemantauan ulang dengan memasang kamera pengawas (camera trap), petugas hanya menemukan manusia berambut gimbal seperti Suku Anak Dalam yang hanya mengenakan penutup badan seadanya saja, bukan makhluk liliput atau manusia kerdil seperti pemberitaan sebelumnya.

"Kejadian itu bermula dari keluhan petugas tim patroli di TNWK yang mengaku kehilangan bekal bawaannya saat berpatroli di dalam hutan itu," ujar Sri lagi.

Setelah dipasangkan camera trap dengan menggunakan pancingan berupa makanan, akhirnya dapat terekam adanya orang-orang berambut gimbal yang mencuri makanan tersebut.

"Kami sedang menelusuri keberadaan sejumlah orang tersebut, apa motifnya sampai ada di dalam hutan ini, karena kami khawatir keberadaannya memang diutus oleh oknum tertentu dan kami khawatir dapat mengganggu satwa liar langka dan dilindungi yang hidup dalam kawasan hutan ini," kata dia lagi.

Sejumlah media massa di Lampung dan beberapa media nasional memberitakan misteri adanya "manusia hutan" yang mencuat kembali dan dilaporkan telah terdeteksi berada di dalam hutan TNWK di Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung.

Menurut pemberitaan itu, tak hanya sekali petugas polisi hutan (polhut) yang bertugas di sana mengaku sampai dua kali bertemu dengan sekelompok manusia liliput atau manusia kerdil dalam rentang waktu yang berdekatan.

"Betul memang petugas polhut kita yang saat itu bertugas melihat ada `manusia lain` seperti itu. Bukan cuma satu orang petugas saja. Tapi semua tim yang waktu itu bertugas melihat mereka. Mereka melihatnya dalam keadaan sadar. Kejadian pertama itu pada hari Minggu (17/3). Tapi manusia yang dipergoki itu tidak bertubuh kerdil semua," ujar Sukatmoko, Humas Balai TNWK saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu berkaitan dengan pemberitaan media massa di Lampung tentang manusia kerdil yang dilaporkan dipergoki di dalam hutan TNWK itu.

Penampakan manusia aneh yang kedua kembali terjadi saat rombongan petugas polhut TNWK berpatroli di lokasi yang hampir sama pada pertemuan pertama, pada Rabu (20/3) lalu.

"Teman-teman yang patroli kembali melihat. Tapi waktunya sangat singkat. Rombongan manusia aneh yang dipergoki itu bergegas lari menyelinap ke dalam hutan," ujar dia lagi.

Hanya saja, lagi-lagi keberadaan mereka yang saat itu terdeteksi di dalam hutan Way Kambas tak berhasil diabadikan atau direkam.

Para petugas setempat juga tidak bisa memastikan apakah rombongan yang mereka temui tersebut merupakan manusia kerdil seperti cerita misteri adanya manusia kerdil di dalam hutan di Kerinci maupun Bone yang dikabarkan sebelumnya.


Serupa Manusia Purba?


Namun, belasan `manusia hutan` yang ditemui bergerombol di TNWK tersebut berciri layaknya gambaran manusia purba dalam film kartun Mr Flintstones, yaitu tidak berbaju, berambut gondrong, serta memegang tombak kayu.

"Ya seperti itu kira-kira gambaran mereka. Mereka memakai celana atau tidak, teman-teman polhut juga tidak jelas melihatnya. Yang jelas mereka tidak pakai baju. Kita juga tidak tahu mereka sedang apa atau mau apa. Apa mau berburu atau bagaimana, kita tidak bisa simpulkan apa-apa," kata dia lagi.

Sukatmoko mengakui, pihak TNWK hingga kini belum berani mengambil sebuah kesimpulan terkait pertemuan polhut dengan `manusia hutan` beberapa waktu lalu itu.

Apalagi kemudian muncul sebutan mereka sebagai manusia kerdil, kata dia, mengingat jarak pandang saat pertemuan relatif cukup jauh, ditambah cahaya alam yang pada waktu itu dalam perubahan dari sore menjelang malam hari.

Balai TNWK di Lampung Timur juga mempersilakan para peneliti atau akademisi untuk melacak dan meneliti keberadaan sekelompok orang kerdil yang dipergoki anggota polhut berada di dalam hutan tersebut.

"Kalau ada peneliti yang ingin membantu guna membuktikan keberadaan atau memastikan adanya manusia kerdil itu sangat bagus, karena sifatnya membantu kami," kata Sukatmoko pula.

Anggota polhut TNWK juga masih terus berupaya melacak keberadaan kelompok orang kerdil itu dengan menggunakan kamera pengawas.

Jika nanti petugas TNWK sudah mendapatkan bukti-bukti berupa gambar atau foto yang diperlukan, para akademisi atau peneliti dapat memberikan penjelasan tentang keberadaan mereka kepada masyarakat luas.


"Para pakar nanti yang bisa menjelaskan orang kerdil itu tergolong suku apa, berasal dari mana, dan apakah bertempat tinggal di dalam TNWK atau bukan," ujarnya.

Humas TNWK Sukatmoko juga menegaskan pihaknya tidak pernah menyebut adanya penemuan "orang kerdil" di hutan tersebut.

"Penyebutan seperti itu di media massa merupakan justifikasi dari wartawannya yang mendengar berita tidak lengkap, dan ketika melakukan konfirmasi sudah saya sampaikan untuk tidak mempublikasikannya sampai ada bukti foto maupun wujud visual lainnya," ujar dia lagi.

Beberapa peneliti dan aktivis lingkungan hidup yang bertahun-tahun telah bertugas di kawasan hutan TNWK itu juga membenarkan, selama ini mereka belum pernah mendengar apalagi melihat keberadaan "manusia kerdil" atau "makhluk liliput" yang hidup di dalam hutan tersebut.

"Saya tidak pernah mendengar soal itu, apalagi melihatnya," ujar Sugiyo, salah satu aktivis LSM itu pula.

Dia menegaskan, selama berada di TNWK itu tidak pernah mendengar atau melihat keberadaan maupun cerita tentang manusia kerdil itu, baru kemarin dari berita-berita di media massa tentang hal tersebut.(ar)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.