Kepemimpinan perempuan jadi topik norma gender teramai di sosmed

Hasil analisis Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menyimpulkan bahwa perbincangan mengenai kepemimpinan perempuan menjadi topik norma gender paling ramai di sosial media.

“Di sini ada trend dimana leadership memiliki jumlah perbincangan paling banyak, disusul oleh breadwinner, care giver lalu job segregation,” kata Social Media Analysis and Digital Etnography Result LP3ES Nurul Hasfi dalam diskusi daring yang disaksikan lewat YouTUbe LP3ES Jakarta, Selasa.

Empat norma gender yang diteliti yakni care giver merupakan persepsi bahwa perempuan sebagai pengasuh utama anak dan keluarga, breadwinner berarti persepsi bahwa laki-laki sebagai pencari nafkah utama, job segregation yang berarti persepsi adanya perbedaan jenis pekerjaan berdasarkan identitas gender dan kepemimpinan terkait dengan persepsi bahwa perempuan lebih baik sebagai peran pembantu dan laki-laki sebagai pemimpin.

Perbincangan mengenai leadership pada 5 unggahan terpopuler menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah sadar bahwa perempuan juga memiliki hak untuk menjadi seorang pemimpin. Dari total 2.480.486 pembicaraan mengenai norma gender, topik leadership mendapat total 859.904 interaksi di Twitter, Instagram, Facebook dan YouTube.

“Di sini misalnya ucapan selamat kepada perempuan yang telah menjadi pemimpin, 4 diantaranya adalah ucapan selamat,” ucapnya.

Baca juga: Lewat G20 diharapkan akses perempuan pimpin manajerial lebih terbuka
Baca juga: AstraZeneca gali potensi perempuan muda lewat program kepemimpinan

Nurul menuturkan dari keempat norma tersebut, topik norma gender yang paling banyak mendapat sentimen positif adalah care giver dengan persentase 80,97 persen, disusul dengan job segregation 63,94 persen, breadwinner 53,95 persen dan terakhir leadership dengan 51,86 persen.

Positif menunjukkan bahwa responden mendukung kesetaraan gender berdasarkan norma gender. Sedangkan negatif berarti menolak kesetaraan gender dalam norma gender tersebut.

Care giver memiliki positif yang tinggi artinya kesadaran masyarakat tentang kesetaraan gender pada isu care giver menjadi isu yang masyarakat sudah aware jika dibandingkan norma gender yang lain,” ujarnya.

Adapun analisis yang menggunakan metode penelitian baseline pada rentang 1 April 2020-31 Mei 2022 tersebut menargetkan anak muda usia 18-39 tahun atau kelahiran 1981-2000. Dari hasil baseline tersebut terkumpul sebanyak 2.480.486 total mentions berupa reply, like dan retweet dengan pembicaraan paling banyak terjadi di media sosial Twitter.

Lokasi perbincangan norma gender terbanyak berada di Pulau Jawa yang didominasi oleh penduduk yang berdomisili di Jakarta (33,4 persen), lalu Surabaya (9 persen) dan Bandung (7,8 persen). Sedangkan untuk usia, urban milenial pengguna Twitter dengan rentang 18-29 tahun sebanyak 85 persen dan umur 30-40 tahun sebanyak 15 persen.

Baca juga: Men PPPA: Kepemimpinan perempuan ciptakan lingkungan kerja inklusif
Baca juga: Atasi kesenjangan gender di dunia kerja butuh peran multipihak