Kepemimpinan “Three Musketeers” Gubernur Milenial Kala Pandemi COVID-19

Syahdan Nurdin, shanenpatricia

VIVA – Kepemimpinan para petinggi negara kini diuji semenjak merebaknya wabah yang telah menjadi pandemi yaitu Covid-19. Terlebih seorang pemimpin memiliki kewenangan lebih dalam pembuatan kebijakan dan kini mereka dituntut untuk serba cepat dan tepat sebagaimana yang disampaikan Bill Gates (2020) dalam jurnalnya yang berjudul Responding to Covid-19 — A Once-in-a-Century Pandemic?

Terkait dua tanggung jawab utama pemimpin saat terjadi krisis, yaitu memecahkan masalah sesegera mungkin dan mencegah agar tidak kembali terulang.

Namun, melansir dari Aljazeera pemimpin pemerintahan di beberapa negara justru cenderung ragu-ragu, berporos pada kepentingan pribadi, dan tidak percaya akan sains. Sayangnya, imbas dari semua itu adalah ketidakharmonisan pada tubuh pemerintahan sendiri, pusat dan daerah kerap kali berseberangan dalam kaitannya dengan kebijakan publik.

Peran seorang kepala daerah dalam hal ini sangat krusial, di mana pada posisinya kepala daerah merupakan seorang pemimpin sekaligus jembatan antara kebijakan pusat dengan masyarakat daerah.

Hal ini dikarenakan kepala daerah memiliki akses yang jauh lebih mudah kepada masyarakat, tiap-tiap kebijakan daerah yang dipilih akan berdampak langsung ke sektor masyarakat.

Kini tiga gubernur dari Pulau Jawa yang berdasarkan Survei Median menempati peringkat tiga besar Pemimpin Paling Tepat dalam menangani Covid-19 saling menunjukkan kapabilitasnya dalam memimpin percepatan penanganan Covid-19 di daerahnya masing-masing, siapa lagi kalau bukan Gubernur Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. 

Kepemimpinan Tangkas ala Anies Baswedan di Ibu Kota

Sosok Anies Baswedan yang telah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak tahun 2017 kerap menuai pujian atas kesigapannya menangani pandemi Covid-19. Gubernur Anies Baswedan telah mengungkap data persebaran pasien positif  Covid-19 sejak awal pandemi ini merebak di Indonesia, khususnya Jakarta yang mana pada saat itu pemerintah pusat masih enggan membuka data atas dasar mencegah kepanikan warga.

Selain itu pada Januari 2020, Pemprov DKI Jakarta telah mengantisipasi kemunculan Covid-19 dengan tracking lebih awal warga yang terindikasi Covid-19 sepulang dari luar negeri dan terlebih dahulu membentuk Tim Tanggap Covid-19 pada akhir Februari.

Merujuk Rasmussen (2010) dalam jurnalnya yang berjudul  From Reactive To Proactive Approach of Interactive Leadership mengemukakan definisi pemimpin proaktif yaitu pemimpin yang melakukan perencanaan dan bertindak sebelum terjadinya ancaman atau peluang. Tindakan Gubernur Anies Baswedan dapat dikatakan proaktif dalam penanganan Covid-19 di Jakarta.

Di sisi lain Patricia Pitcher dalam bukunya yang berjudul The Drama of Leadership (1997), menjelaskan tiga jenis kepemimpinan berdasarkan kepribadiannya, Gubernur Anies Baswedan dengan kepribadiannya yang cenderung kaku, detail dan memfokuskan diri pada data serta cara paling tepat untuk menangani Covid-19 dapat dikaitkan dengan tipe kepemimpinan The Technocrat.

Hal ini dilatarbelakangi dengan statusnya sebagai akademisi sebelum terjun sebagai politisi. Namun meski begitu, kebijakan Gubernur Anies Baswedan sempat menjadi blunder yang menuai kritik tajam dari masyarakat. Beruntung, kebijakan tersebut segera dicabut sehari setelah kebijakan diterapkan.

Kepemimpinan Bersahaja Ala Ganjar Pranowo

Berbeda dengan Anies Baswedan, Kepemimpinan Gubernur Ganjar Pranowo lebih mengedepankan hubungan yang humanis kepada rakyat Jawa Tengah. Gary Yukl  dalam bukunya yang berjudul Leadership in Organization (2013: 367) menjelaskan bahwa pemimpin dengan orientasi humanis memiliki kepedulian kuat, penuh kasih sayang, dermawan dan memegang teguh altruisme.

Kepemimpinan Gubernur Ganjar Pranowo kini berfokus pada kemanusiaan seperti menggerakan UKM untuk memproduksi APD, menyiapkan Taman Makam Pahlawan bagi tim medis yang gugur dan memastikan ketersediaan bahan pokok untuk mereka yang memilih tidak mudik.

Melansir dari Media Indonesia, Gubernur Ganjar Pranowo juga mengusung gerakan anti-Covid 19 melalui cara-cara yang unik seperti bersepeda sambil membagikan masker, mengunjungi balai karantina dan kegiatan edukasi lain melalui kanal Youtube miliknya. Perlakuan Ganjar tersebut memunculkan sense of belonging di antara warga Jawa Tengah yang mana kehadiran pemimpin benar-benar dirasakan para warga.

Karisma Gubernur Ganjar Pranowo semakin menguat di tengah pandemi Covid-19. Citranya sebagai pemimpin yang membumi dalam menangani Covid-19, membuat dirinya begitu dicintai oleh warga dan dianggap sosok pemimpin inspirasional serta pengayom masyarakat.

Selain itu, salah satu aspek kepemimpinan yang tidak luput dari seorang kepala daerah ada kekuasaan atau power. Yukl (2013:186) menjelaskan kekuasaan adalah konsep yang digunakan untuk memahami bagaimana orang saling mempengaruhi satu sama lain dalam organisasi.

Gubernur Ganjar Pranowo menggunakan kekuasaan legitimasi-nya sebagai Gubernur dalam menindak tegas bawahannya ketika melanggar aturan selama pandemi Covid-19. Seperti yang ia lakukan terhadap Pemkab Boyolali yang pada awalnya menolak meliburkan siswa dan Bupati Klaten yang viral akibat menunggangi bansos dari Kementerian Sosial.

Kepemimpinan Visioner Ala Kang Emil

Kalau di Jakarta ada Gubernur Anies Baswedan yang serba cekatan, di Jawa Tengah ada sosok Gubernur Ganjar Pranowo yang sangat dicintai, maka Jawa Barat tidak mau kalah. Perkenalkan Kang Emil, Eks Wali-kota Bandung yang masih nyentrik dan humoris kala menangani pandemi Covid-19.

Sifat serta latarbelakang pendidikannya sebagai lulusan arsitektur cocok dengan konsep The Artist Patricia Pitcher. Covid-19 tidak lantas menghentikan kreativitasnya untuk terus menciptakan inovasi.

Menurut pengertiannya, The Artist merupakan pemimpin dengan daya imajinasi yang tinggi, kreatif, visioner dan berjiwa kewirausahaan. Hal ini dibuktikan dengan terobosannya yaitu aplikasi PIKOBAR (Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat) yang memungkinkan warga mengakses data persebaran hingga pada posisi kelurahan pasien positif Covid-19.

Terkait karakteristik The Artist pula, Kang Emil memanfaatkan segala lini industri dalam pemenuhan kebutuhan Jawa Barat terkhusus pada kebutuhan APD dan alat medis. Salah satu produsen Alat Pelindung Diri kini mampu memproduksi 250.000 masker bedah berstandar WHO dalam sehari.

Salah satu terobosannya yang tidak kalah mengagumkan yaitu mendorong PT Bio Farma di Jawa Barat memproduksi Test PCR. Inovasi-inovasi Kang Emil membuat dirinya layak disebut pemimpin visioner. Menurut Kotter (2010)  dalam jurnal yang berjudul What Leaders Really Do?, tugas pemimpin visioner yaitu a sensible direction atau menetapkan arah dan energizing them atau menyelaraskan arah yang telah ditentukan tersebut.

Terkait hal ini, jelas Kang Emil telah mampu menyelaraskan sektor publik dan swasta untuk bersama-sama berjuang menangani pandemi Covid-19 beserta dampak yang kemudian timbul.

Selain itu, Kang Emil membuka partisipasi pemuda karang taruna untuk ikut serta dalam penanganan Covid-19 sehingga terjadi harmonisasi yang cukup baik antara pemerintah daerah, swasta dan masyarakat dalam penanganan Covid-19 di Jawa Barat.