Keppres No. 63/2004 Jadi Landasan Polri-Freeport

INILAH.COM, Jakarta - Polri menyebut Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 63 tahun 2004 tentang Pengamanan Obyek Vital Nasional, sebagai dasar pemberian fasilitas keamanan PT Freeport Indonesia di Papua.

"Ya Keppres No 63 tahun 2004," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, di Markas Besar Polri, Jakarta, Selasa (1/11/2011).

Hal serupa juga dinyatakan pihak PT Freeport sebagai landasan untuk memberikan pengamanan di area pertambangan emas tersebut. "Polisi ditugaskan melalui sebuah keputusan presiden untuk melindungi situs Grasberg tambang, yang telah dikategorikan sebagai aset vital nasional," demikian kutipan laporan Freeport melalui situs resminya.

Dalam Keppres tersebut menjelaskan kategori Obyek vital nasional adalah lokasi yang memiliki peran penting bagi kehidupan bangsa dan negara, baik dari aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Pelaksana pengamanan objek vital negara adalah Polri.

Keppres ini dibuat tahun 2004 pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri, dengan tujuan untuk mencegah ancaman dan gangguan terhadap Obyek vital nasional termasuk aksi terorisme. Ada pun area pertambangan emas Freeport di Timika, Papua, termasuk obyek vital nasional dari aspek perekonomian dan keamanan.

Namun dalam Keppres ini tidak diatur mengenai sumber anggaran pengamanan obyek vital negara boleh bersumber dari perusahaan swasta, atau perusahaan asing.

Sementara pihak Freeport mengakui telah mengucurkan dana pengamanan area pertambangannya di Papua senilai US$ 14 juta, dan itu diakui juga oleh Kepala Kepolisian RI Jenderal Timur Pradopo. Kini Polri dianggap telah menerima gratifikasi, namun hal itu dibantah Polri.

"Yang jelas Polri siap diaudit, kita transparan, kalau salah kita siap bertanggungjawab, kita juga siap mengevaluasi kembali pola pengamanan kita supaya lebih baik ke depan," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, di Markas Besar Polri, Jakarta, Selasa (1/11/2011). [mvi]

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.