Kerajinan bambu di pedalaman Lebak butuh pemasaran

Adi Lazuardi

Kerajinan bambu di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten membutuhkan keberpihakan pemda setempat agar produksinya dibeli, sehingga dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat setempat.

"Kami minta pemerintah daerah dapat mendorong usaha aneka kerajinan itu dibantu melalui pemasaran," kata Kepala Desa Mekar Manik Kecamatan Bojongmanik Kabupaten Lebak Aliyudin saat dihubungi di Lebak, Rabu.

Produksi aneka kerajinan bambu di sini hingga kini belum berkembang pesat akibat keterbatasan pemasaran itu.

Selain itu juga kondisi infrastuktur di daerah ini sangat buruk dan jika musim hujan tidak bisa dilintasi kendaraan roda dua dan roda empat.

Karena itu, usaha aneka kerajinan bambu belum signifikan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat setempat.

Mereka pendapatan pelaku usaha kerajinan itu berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp1 juta/bulan.

Produksi aneka kerajinan itu antara lain piring lidi, lampion, kipas angin, tampan untuk menyimpan makanan, gelas, tempat nasi (boboko), tempat ikan (sair), tas hingga tempat beras (nyiru).

"Saya kira kerajinan bambu itu sejak puluhan tahun dan turun temurun, namun hingga kini masih berjalan di tempat akibat kesulitan pemasaran itu," katanya menjelaskan.

Menurut dia, saat ini, jumlah perajin bambu di wilayahnya tercatat 60 orang dan mereka menggeluti usaha tersebut masih dijadikan usaha sampingan, selain sektor pertanian dan perkebunan.

Karena itu, pihaknya mendorong pemerintah daerah agar dapat meningkatkan mutu dan kualitasnya melalui pelatihan maupun studi banding agar bisa bersaing pasar.

Sebab, bahan baku bambu di daerahnya cukup melimpah dan dikelola kerajinan itu masih manual dan tradisional.

Perkembangan usaha kerajinan bambu sejak puluhan tahun hingga kini masih berjalan ditempat, karena mereka memasarkan produk di sekitar Kabupaten Lebak.

Bahkan, mereka pedagang kerajinan bambu itu menjual produknya hingga satu pekan bisa kembali ke rumah.

Sebab, mereka menjual kerajinan bambu dengan berjalan kaki dan berkeliling masuk kampung keluar kampung.

"Kami berharap produksi kerajinan bambu itu ada yang menampungnya," katanya menjelaskan.

Hasan (45) seorang perajin mengatakan bahwa dirinya hingga kini merasa kesulitan untuk memasarkan produksinya ke luar daerah akibat kondisi jalan masih buruk,terlebih musim hujan seperti sekarang ini.

"Kami memproduksi aneka kerajinan bambu dan menjual sendiri dengan ditanggung hingga berpenghasilan rata-rata Rp800 ribu/bulan," katanya.

Sementara itu, Kasi Aneka Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten lebak Sutisna mengatakan pihaknya siap melaksanakan peningkatan mutu dan kualitas aneka kerajinan bambu melalui pelatihan juga penyaluran bantuan.

"Kami minta kelompok usaha itu mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk mengikuti pelatihan kerajinan guna meningkatkan kualitas,sehingga bisa diterima pasar," katanya.