Keren, 3 Petani Milenial Wakili Indonesia dalam Online Workshop AWGATE

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta Tiga petani milenial Indonesia, asuhan Kementerian Pertanian, mendapat kepercayaan mengikuti Online Workshop on Promoting Engagement of Young Generations in Agricultural Entrepreneurship, yang berada di bawah ASEAN Sectoral Working Group on Agricultural Training and Extension (AWGATE), 26-27 Oktober 2021.

Ketiga petani milenial tersebut adalah Rizal Fahreza, praktisi pertanian yang juga founder dari F3 serta Duta Petani Milenial Kementan, Azis Abdul Rahman Gunawan Alumni Polbangtan Bogor yang juga Duta Petani Milenial, serta Fasha Maulana, Petani Muda serta Mahasiswa Polbangtan Bogor.

Keterlibatan Ketiga petani milenial ini menjadi bukti keseriusan Kementerian Pertanian mengupayakan lahirnya petani serta pengusaha muda di bidang pertanian. Selain itu Kementan juga terus mendukung serta meningkatkan skala usahanya tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di pasar luar negeri.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan bahwa urusan pangan adalah tugas utama negara sebab negara berkewajiban untuk menyediakan makan rakyat 267 juta jiwa.

"Oleh karena itu, kita telah mencetuskan slogan pertanian yang maju, mandiri dan modern. Harapannya agar pertanian Indonesia tetap berproduksi dalam kondisi apa pun dan turut menyediakan pangan untuk negara-negara lainya sehingga pertumbuhan perekonomian nasional ditopang dari sektor pertanian," katanya.

Untuk mengimplementasikan pertanian yang maju, mandiri dan modern, langkah awal yang dilakukan Mentan SYL adalah membangun koordinasi dan konsolidasi dengan semua kementerian/lembaga.

"Tujuannya agar saling menunjang atau tidak adanya ego sektoral dalam membangun pertanian dan mensejahterakan petani itu sendiri," katanya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan jika di banyak negara, pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan tetapi juga kesempatan kerja, pariwisata, manufaktur, ekonomi, transportasi, sosial, dan makanan.

"Pandemi Covid-19 telah menyebabkan banyak pengangguran dan ketidakpastian pendapatan masyarakat termasuk bagi kaum milenial. Hal ini telah menyebabkan pergeseran besar dalam angkatan kerja produktif termasuk generasi muda,” papar Dedi Nursyamsi dalam pembukaan Online Workshop AWGATE.

Ditambahkannya, banyak generasi muda di negara-negara ASEAN yang telah berhasil mengelola dan mengembangkan usahanya di bidang pertanian.

"Ciri-ciri wirausahawan pertanian muda adalah menerapkan mekanisasi pertanian, pertanian cerdas, fasilitas dan teknologi modern, kegiatan bisnis, dan ilmu pertanian. Sebagian besar dari mereka mengembangkan kerjasama dan kemitraan antara pengusaha dan produsen di wilayah dan lokasi yang luas,” tambah Dedi.

Menurutnya, Online Workshop on Promoting Engagement of Young Generations in Agricultural Entrepreneurship dapat menjadi ajang promosi keterlibatan dan kerjasama antara pengusaha generasi muda di bidang agribisnis sangat penting untuk dikembangkan dan difasilitasi baik di dalam negeri maupun para pengusaha di negara-negara ASEAN.

Secara teknis, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Idha Widi Arsanti, mengatakan bahwa workshop ini merupakan bagian dari kegiatan AWGATE, dan juga sebagai komitmen Indonesia untuk menyelenggarakan lokakarya ini sebagaimana direkomendasikan dalam Pertemuan AWGATE sebelumnya.

“Dalam workshop yang diikuti oleh delegasi dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam, Kamboja dan Mianmar, kita dapat bertukar informasi tentang gambaran umum, pengalaman dan kisah sukses dalam pengembangan Wirausaha Muda Pertanian, promosi dan kerjasama yang diperlukan untuk pengembangan usaha serta merumuskan tindak lanjut pelibatan dan kerjasama antar pengusaha ASEAN Youth Agriculture," katanya.

Dalam kegiatan, setiap delegasi memaparkan gambaran umum kegiatan usahanya dan menjelaskan semua pengalamannya masing-masing dalam merintis usaha hingga saat ini usaha dapat berjalan.

Selain itu juga disampaikan kebijakan dari masing-masing negera dalam rangka mendukung dan mempromosikan pemuda dalam dunia pertanian serta pengembangan dan promosi wirausaha.

Sebagai contoh dari beberapa negara yang telah memaparkan kegiatan usahanya, seperti thailand dengan komoditas sayur hidroponik selaku usaha unggulan.

Rizal Fahreza, selaku founder F3, dengan bangganya memperkenalkan usaha taninya dengan komoditas unggulannya yaitu jeruk.

"Yang menjadi unik dan berbeda, F3 tidak hanya menyediakan buah jeruk segar yang siap petik. Namun, pengunjung atau konsumen juga dapat menikmati lingkunganya yang asri sekaligus menikmati kuliner khas kabupaten garut yaitu nasi liwet, sehingga F3 mengusung usaha tani dengan tema agroeduwisata," jelasnya.

Selain itu dilakukan pula virtual field visit yang menyajikan video short trip online dan offline tentang petani muda sukses di Indonesia dan Teaching Factory Politeknik Pembangunan Pertanian Indonesia dan Sekolah Vokasi Pengembangan Pertanian.

Yakni, Teaching Factory Politeknik Pengembangan Pertanian Indonesia (IADP) Bogor, Teaching Factory Politeknik Pengembangan Pertanian Indonesia (IADP) Manokwari, Teaching Factory Politeknik Pengembangan Pertanian Indonesia (IADP) Gowa, Teaching Factory Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (ISSVSAD/SMK-PP) Sembawa, BUMP PT. Cahaya Abadi Petani (CAP) milik Husni Thamrin (Duta Tani Milenial Kementan RI) serta CAU Chocolate Bali milik Kadek Surya (Duta Petani Milenial Kementan RI).[2:20 PM, 10/28/2021] Putri AE KLY: Hari Sumpah Pemuda Bangkitkan Semangat Anak Bangsa dalam Menjaga Gambut dan Mangrove

Hari Sumpah Pemuda yang diperingati pada 28 Oktober 2021, seakan menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk meningkatkan semangat dan rasa cinta tanah air. Salah satunya dengan membangkitkan kesadaran tinggi dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, khususnya ekosistem gambut dan mangrove.

Ekosistem gambut dan mangrove sangat berkontribusi besar dalam perubahan iklim dunia, di mana mangrove bisa menyimpan karbon 4-5 kali lipat lebih baik dari pada hutan daratan. Gambut menyimpan cadangan karbon dunia sebesar 30%. Oleh karena itu, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mengajak generasi muda untuk ikut terlibat dalam menjaga lingkungan.

“Generasi muda itu aktif dan energik, namun memiliki tingkat kesadaran yang berbeda-beda. Ini menjadi tantangan bagi kita bagaimana mengedukasi agar melek teknologi dan pengetahuan terkait pentingnya restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove," ujar Yuyus Afrianto selaku Kasubpokja Pengelolaan dan Pengetahuan dan Dukungan Masyarakat, BRGM.

“BRGM punya program Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) dan Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) yang bekerja hingga di tingkat tapak. Nah, kita tempatkan fasilitator desa dan pendamping desa yang berusia muda, kebanyakan berusia 25-30 tahun,” sambungnya.

Program-program pelatihan yang dilakukan BRGM pun kini sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di Kalimantan Tengah.

“Kami terima kasih kepada BRGM, karena setelah adanya pelatihan dan pemahaman tentang pentingnya gambut, maka pemuda dan pemudi di sini mulai peduli merawat gambut. Dulu sebelum adanya BRGM, gambut di desa saya bisa dikatakan sudah menipis, tapi sekarang banyak lahan terkelola, tertanam, terawat dan pastinya bisa mengolah lahan kosong menjadi bermanfaat,” ungkap Iwan selaku Ketua Kelompok Berkah Bersama, Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah

Sementara itu, Rudi Hartono selaku Perwakilan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Rehabilitasi Mangrove di Kalimantan Barat mengatakan, pelatihan yang dilakukan BRGM turut membantu perekonomian warga.

“Dari pelatihan BRGM, kami diajarkan buat polibag ramah lingkungan yang terbuat dari anyaman berbahan daun nipah dan bukan dari plastik lagi. Lidi nipah juga bisa dibuat wadah makan sehingga ini bisa menambah perekonomian warga, khususnya para ibu-ibu,” pungkas Rudi.

Dalam memperingati Sumpah Pemuda, BRGM juga membuat kompetisi karya ilmiah populer dengan memberikan kesempatan kepada generasi muda yang hidup di desa gambut dan desa mangrove untuk bercerita. Pasalnya, banyak pencapaian di 7 provinsi restorasi gambut dan 9 provinsi rehabilitasi mangrove yang belum diketahui masyarakat.

Kompetisi karya ilmiah ini pun seakan menggerakan semangat anak bangsa dalam menjaga gambut dan mangrove di Tanah Air.

“Dulu saya sempat negative thinking dengan lahan gambut, tapi akhirnya saya mulai tertarik dan menulis karya ilmiah. Dari situ saya justru mengetahui ternyata gambut itu ekosistemnya kaya, Riau punya lahan gambut justru sebuah berkah,” cerita Reva Dina Asri, Mahasiswi Universitas Riau yang juga menjadi salah satu perserta kompetisi kajian ilmiah BRGM.

Pernyataan serupa juga disampaikan Robbi Setiawan, Mahasiswa Universitas Sriwijaya, "anak muda perlu terlibat dari sekarang karena kita adalah pemimpin masa depan."

Menurutnya, restorasi gambut dan mangrove bukanlah tanggung jawab BRGM saja melainkan tanggung jawab bersama, masyarakat mempunyai peran penting di dalamnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel