Kerikil Kecil di Ujung Sepatu Lars Junta Militer

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketika militer Myanmar melakukan kudeta pada 1 Februari 2021, Cung Hlei Thawng hanya seorang pria biasa yang tinggal bersama ibunya di Thantlang, daerah pegunungan di barat laut negara itu yang berbatasan dengan India. Tapi pada April tahun lalu, mantan pekerja komunitas itu menjadi panglima Pasukan Pertahanan Chinland (CDF) cabang Thantlang.

CDF merupakan satu dari ratusan kelompok revolusioner bersenjata yang muncul di Myanmar setelah kudeta. Kelompok-kelompok ini menentang kekuasaan militer dan angkat senjata melawan pasukan junta.

Saat awal kudeta, Cung Hlei Thawng bergabung bersama jutaan warga Myanmar lainnya berdemonstrasi menentang militer. Ketika penindasan militer terhadap para penentang kudeta dimulai, dia menuju ke hutan dan ikut mengangkat senjata.

Pada September 2021, CDF Thantlang dengan cepat mengalahkan pasukan junta. Junta kemudian membalas dengan serangan membabi buya. Militer membunuh tujuh orang warga sipil dengan tembakan dan serangan artileri dan membakar desa-desa di Thantlang, menghancurkan 1.2000 bangunan dan membuat 10.000 warga mengungsi, menurut Organisasi HAM Chin. Salah satu rumah yang dibakar adalah milik keluarga Cung Hlei Thawng, yang baru dibangun beberapa bulan sebelumnya dengan uang yang ditabung ayahnya bertahun-tahun sebelum meninggal pada 2018.

"Orang-orang tidak pernah membayangkan hal seperti ini bakal terjadi," kata Thawng, dikutip dari laman TIME, Kamis (10/11).

Menurut pemerintah tandingan yang disebut Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), oposisi anti militer yang dibentuk para anggota parlemen terpilih yang disingkirkan saat kudeta, kelompok perlawanan telah menguasai lebih dari setengah wilayah Myanmar. Di saat mereka terus berjuang mengambil alih kota-kota besar dan daerah lainya, kelompok ini membangun sistem pemerintahan sendiri yang disebut "daerah yang dibebaskan", di mana mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan para pengungsi internal yang sekarang berjumlah lebih dari 1,4 juta orang —dan menyediakan layanan termasuk perawatan kesehatan, pendidikan, dan penegakan hukum kepada masyarakat umum.

Thantlang, yang pernah menjadi simbol tragedi kekejaman militer, kini menjadi benteng perlawanan. Sampai November tahun lalu, hanya dua bulan setelah junta membakar habis daerah itu, CDF merebut kontrol atas 51 dari 88 desa di daerah tersebut. Selain memerintah puluhan desa itu, CDF juga memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil yang mengungsi.

Pertarungan untuk merebut daerah itu masih berlangsung. CDF Thantlang melanjutkan perlawanannya terhadap militer walaupun dibombardir dan kehilangan 20 anggotanya sejak kelompok tersebut terbentuk.

"Tekad kami adalah inti pertempuran," tegas Cung Hlei Thawng.

Sejak pertengahan tahun lalu, bentrokan militer dan kelompok pertahanan semakin memanas. Myanmar barat laut menjadi medan tempur utama perlawanan terhadap junta, dan Thantlang menjadi episentrumnya.

Di kamp CDF Thantlang, adrenalin meninggi. Sejak saat itu, kelompok ini kerap terlibat pertempuran dan semakin kuat serta anggotanya semakin bertambah.

"Beberapa orang mencari strategi di YouTube," kata Thawng.

"Kami melatih diri sendiri."

Pada 11 September 2022, pasukan gabungan CDF dan CNA (Tentara Nasional Chin) merebut kamp militer strategis, membunuh 12 tentara junta, dan menyita senjata dalam jumlah besar. Militer lalu membalas dengan tembakan membabi buta di kawasan permukiman penduduk.

"Seluruh daerah Thantlang ketakutan," ujarnya.

Suara bom dan tembakan di mana-mana. Ribuan orang dievakuasi ke desa-desa terdekat dan ke daerah Mizoram di India.

Pertempuran berlanjut pada 18 September, setelah pasukan CDF Thantlang dan CNA menewaskan lebih banyak anggota militer. Malam berikutnya, pasukan militer menembakkan artileri ke Thantlang, dan jalan-jalan utama menjadi lautan api.

Ketika Cung Biak Hum, seorang pastor berusia 31 tahun bergegas mematikan api, tentara junta menembaknya dan memotong jari manisnya. Warga melarikan diri selama sepekan, tapi bagi masyarakat Chin, yang menganut agama Kristen, pembunuhan anggota masyarakat yang dihormati semakin meningkatkan semangat untuk melawan.

"Itu memberikan kami semakin banyak kekuatan dan energi untuk revolusi kami," kata Cung Hlei Thawng.

Cung Hlei Thawang, yang mengalami cedera kaki saat uji coba alat peledak Juli lalu, berencana kembali ke medan pertempuran secepatnya jika kondisinya membaik.

"Badan saya tidak bisa kembali normal lagi," ujarnya.

"Tapi, saya telah berjanji sejak awal bahwa saya tidak akan berhenti setelah satu hari atau satu tahun. Saya berjanji untuk tidak pernah menyerah." [pan]