Kerja sama Indonesia-Sinovac berlanjut pada pengembangan vaksin mRNA

Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengatakan kerja sama Indonesia dengan produsen vaksin Sinovac berlanjut pada pengembangan vaksin COVID-19 berplatform messenger RNA (mRNA).

"Indonesia memang menjalin kerja sama dengan Sinovac sejak awal, dan tentu akan terus dilakukan sesuai kebijakan memperbanyak hub untuk vaksinasi," kata Siti Nadia Tarmizi yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Bio Farma akan menerima teknologi transfer pembuatan vaksin mRNA

Menurut Nadia, kerja sama itu diperlukan untuk menyokong peran Indonesia menjadi pusat vaksinasi COVID-19 di kawasan ASEAN.

China hingga saat ini telah mengekspor 16 batch dengan jumlah 6,4 juta vaksin siap pakai serta 115,5 juta vaksin setengah jadi jenis Sinovac dan Sinopharm ke Indonesia.

"Kerja sama ke depan dengan Sinovac mengarah pada pengembangan vaksin berbasis mRNA, juga vaksin yang virusnya dimatikan (inactivated virus)," katanya.

Platform mRNA berbeda dengan vaksin pada umumnya yang mengandung virus atau kuman penyebab penyakit yang telah dilemahkan atau dimatikan. Vaksin mRNA menggunakan teknologi baru berupa komponen materi genetik yang direkayasa agar menyerupai kuman atau virus tertentu.

Kerja sama tersebut diterapkan dalam bentuk transfer teknologi hingga pengembangan pusat penelitian bersama di Indonesia.

Dia mengatakan dukungan Sinovac merupakan implementasi nyata dari kemitraan strategis Indonesia-China, terutama untuk menghadapi tantangan pandemi COVID-19 secara bersama-sama.

Nadia berharap peran Indonesia sebagai pusat vaksinasi di kawasan ASEAN dapat mewujudkan kesetaraan akses vaksin untuk semua negara.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah mempercayakan Indonesia sebagai pusat produksi vaksin COVID-19 untuk wilayah Asia Tenggara. Nantinya, PT Bio Farma (Persero) menjadi perusahaan Indonesia yang akan memproduksi vaksin mRNA.

Baca juga: WHO: Enam negara Afrika terima teknologi vaksin mRNA

Baca juga: Airlangga dorong RI jadi hub produksi vaksin mRNA lewat Presidensi G20

Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan tim peneliti Bio Farma pernah dilibatkan dalam uji klinik fase 3 vaksin Sinovac pada 2020.

"Tercatat Bio Farma sudah melakukan uji klinik lebih dari 30 kali, baik yang dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri. Salah satunya dengan Sinovac," katanya.

Pengalaman tersebut kini diterapkan dalam pengembangan vaksin dalam negeri, salah satunya Vaksin BUMN sebagai kandidat vaksin WHO sejak Juni 2021 melalui kolaborasi global antara Bio Farma bersama Baylor College of Medicine, USA.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel