Kerjasama RI-Norwegia Soal Perubahan Iklim, KLHK: Folu Net Sink 2030 Dilirik Dunia

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar kerjasama dengan Norwegia terkait perubahan iklim. Hal itu menunjukkan program Folu Net Sink 2030 mulai dilirik dunia.

Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal Planologi dan Tata Lingkungan (PKTL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Hanif Faisol Nurofiq.

Menurut Hanif, Folu Net Sink bisa menjadi acuan dalam proses perubahan iklim Indonesia untuk dunia.

"Ini bukan lagi karena arahan dari Bu Menteri, melainkan perubahan iklim memang kebutuhan kita bersama," ujarnya dalam acara Workshop Folu Net Sink 2030, Jumat (16/9).

Hanif mengungkapkan, bahwa keterlibatan Menteri Lingkungan Hidup Norwegia beberapa hari lalu terkait rehabilitasi mangrove di Kalimantan, adalah bukti bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang diandalkan dunia dalam perubahan iklim.

"Beberapa hari lalu, Bu Menteri bersama Menteri Lingkungan Hidup dari Norwegia, Espen Bath Eide melakukan tanam mangrove bersama. Beliau (Barth Eide) sangat mendukung peran Indonesia dalam perubahan iklim," katanya.

Peraih penghargaan berupa tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo ini menambahkan, bahwa Norwegia sangat memberikan dukungan penuh terhadap program Folu Net Sink 2030.

"Ini menjadi bukti, bahwa Norwegia juga menginginkan kerjasama berkelanjutan terkait perubahan iklim, bahkan kita menjalin kemitraan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) tentang Partnership in Support of Indonesia’s Efforts to Reduce Greenhouse Gas Emissions from Forestry and Other Land Use yang telah ditandatangani oleh kedua menteri beberapa hari lalu," sambung Hanif.

Menurutnya, partisipasi masyarakat luas untuk bersama-sama membangun kesadaran untuk perubahan iklim sudah bisa dilakukan melalui kelompok kecil di masyarakat.

"Kita ajak masyarakat, berikan edukasi dan pemahaman bahwa pentingnya perubahan iklim ini untuk kita bersama. Lalu bagaimana caranya, ajak dan libatkan masyarakat untuk melakukan tanam pohon bersama, pelestarian hutan yang memiliki potensi 60 persen dalam perubahan iklim.

"Jadi, perlu diketahui serapan karbon pada mangrove di hutan itu bisa mencapai lima kali lebih tinggi daripada jenis pohon lain, itu artinya jika kita membuka lahan baru akan menambah potensi karbon yang bisa memicu keuntungan bagi masyarakat setempat, karena nilai karbon saat ini masih rendah, yakni 5 dolar, padahal dengan melakukan penanaman mangrove, pelestarian hutan tentunya berbagai keuntungan juga bisa didapatkan oleh masyarakat luas," tuturnya.

Sebagai informasi, MoU antara Indonesia dan Norwegia adalah meliputi kerjasama terkait pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dengan melindungi dan pengelolaan hutan melalui partisipasi masyarakat.

Selain itu, peningkatan kapasitas untuk memperkuat penyerapan karbon hutan alam melalui pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan dan perhutanan sosial, termasuk mangrove.

Kemudian, konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan kerusakan lahan gambut.

Untuk diketahui, Indonesia's FOLU Net Sink 2030. Indonesia Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net-Sink 2030 merupakan suatu kondisi dimana tingkat serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sudah berimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan sektor tersebut pada tahun 2030. [rhm]