Kerusuhan Musi Rawas Berlanjut, Dua Polsek Dibakar

TEMPO.CO, Palembang - Situasi di Kecamatan Rupit, Musi Rawas masih mencekam. Hingga Selasa siang, aparat kepolisian belum dapat meredam amukan masa. Dua kantor polisi, yaitu Kepolisian Sektor Rupit dan Kepolisian Karangdapo, dibakar massa. Peristiwa tersebut merupakan buntut dari aksi unjuk rasa mempertanyakan perkembangan pembentukan Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

"Dua Polsek dibakar massa. Peristiwa itu menewaskan empat warga setempat," kata juru bicara Polda Sumatera Selatan, Ajun Komisaris Besar R. Djarod Padakova, Selasa, 30 April 2013. Empat orang yang tewas itu diterjang peluru aparat yang berusaha meredam amukan massa di depan kantor Kepolisian Rupit, Senin malam lalu.

Mereka yang meninggal dunia adalah Fadil, 40 tahun, dan Son, 35 tahun, dengan luka tembak di rusuk; Suharto, 20 tahun, tertembak di kepala; dan Rinto, 18 tahun, yang juga terkena tembakan. Adapun dari pihak polisi terdata ada lima personelnya yang mengalami luka serius. Mereka adalah Aiptu Fachrudin, Aiptu Barliano, Aiptu Aman Hidayat, Brigpol Ira Herliansyah, dan Briptu Oyon Tornado.

Terkait dengan aksi penembakan, Djarod belum dapat memastikan jenis peluru yang dimuntahkan anak buahnya untuk meredam aksi warga Rupit. Saat ini, tim, kata dia, masih berfokus dalam menghentikan perluasan aksi anarkisme warga. "Yang jelas peristiwa ini berawal dari unjuk rasa dengan membloklade jalan lintas tengah Sumatera. Polisi berusaha membubarkan massa karena mengganggu pengguna jalan," ujar Djarod.

Ahmad Zamhari, salah seorang warga setempat, menjelaskan bahwa situasi di Rupit masih belum normal. Perkantoran di kota kecamatan masih ditutup. Sementara itu, jalan lintas penghubung Kota Lubuk Linggau-Kota Jambi, juga masih ditutup massa. "Masih seperti pagi tadi. Belum ada pembukaan jalan," ujar Zamhari.

Dia menambahkan, di beberapa titik dia melihat ada sejumlah personel dari Brimob dan TNI memberikan pengamanan terhadap aset pemerintah dan swasta. Namun, menurut Zamhari, aparat keamanan tampaknya belum dapat mengendalikan massa. "Kami takut berkembang lebih besar lagi."

PARLIZA HENDRAWAN

Topik terhangat:

Susno Duadji | Ustad Jefry | Caleg | Ujian Nasional

Baca juga:

Edsus Sosialita Jakarta

Tim Polisi Pemburu Susno Dipimpin AKBP

Hindari Jaksa, Susno Dikabarkan Gonta-ganti SIM Card

Inilah Dinasti Politik Partai Demokrat

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.