Kesaksian Eks Kiper Cantik AS Soal Seks Liar di Olimpiade

·Bacaan 2 menit

VIVAOlimpiade ternyata bukan hanya tentang pertarungan supremasi atas nama negara dan predikat prestisius individu.

Ajang olahraga multievent empat tahunan itu bisa menjadi momen untuk mencari pasangan hidup, bahkan seks bebas, bagi sejumlah orang. Hal tersebut diakui oleh mantan kiper Timnas Amerika Serikat wanita, Hope Solo.

Wanita berparas cantik kelahiran Richland, Washington, pada 30 Juli 1981 itu menyebut, para atlet seperti sudah terbiasa dan leluasa melakukan hubungan seks di perkampungan atlet. Bahkan, ia tak menampik pernah menjadi bagian dari skandal itu.

"Akan ada banyak aktivitas seks di Olimpiade. Saya sebelumnya menyaksikan bagaimana orang-orang melakukan hal itu, bahkan di tempat terbuka seperti rerumputan atau lorong-lorong bangunan," kata Hope, kepada ESPN.

"Ini bisa jadi pengalaman sekali seumur hidup baik dari sisi seksual, pesta dan prestasi di lapangan, akan berbaur di kampung atlet," sambungnya.

Solo menjadi kiper Timnas Amerika Serikat sejak 2000. Ia menjadi kiper nomor satu sejak 2005 dan membawa Timnas AS meraih medali emas pada Olimpiade 2008 (Beijing) dan 2012 (London). Solo juga membantu Timnas AS meraih trofi Piala Dunia Wanita 2015.

Selain memenangkan dua medali emas Olimpiade dan satu Piala Dunia, Solo memegang rekor karier timnas untuk shutouts 102 kali, menang 154 kali, dan pertandingan berturut-turut tanpa kekalahan sebanyak 55 kali.

Dia juga tercatat telah memberikan 200 penampilan untuk Timnas Wanita AS dan dianggap sebagai salah satu kiper terbaik sepanjang sejarah sepakbola wanita.

Di sisi lain, pada edisi kali ini Olimpiade digelar di Tokyo Jepang. Isu seks semakin santer ke permukaan setelah muncul kabar hoax tentang kasur antiseks di kampung atlet.

Semua itu bermula dari kicauan pelari jarak jauh Amerika Serikat, Paul Chelimo. Dia mengatakan, hubungan seks di kampung atlet adalah hal yang dihindari penyelenggaraan Olimpiade kali ini karena situasi pandemi COVID-19.

Paul Chelimo pun menjelaskan, kasur yang berada di wisma atlet pun didesain hanya untuk satu orang. Sehingga, jika dibebani berat dua orang, kasur yang terbuat dari kardus itu akan rubuh.

"Kasur yang ada di Kampung Atlet Olimpiade dibuat dari kardus, ini untuk menghindari keintiman di antara atlet," ucap Chelimo.

Ucapan Chelimo pun menjadi viral lantaran disebarluaskan media Amerika Serikat, New York Post. Media-media Paman Sam lainnya juga mengangkat hal itu sehingga membuat heboh.

Namun, kabar tersebut langsung dibantah oleh Panitia Olimpiade Tokyo. Atlet senam asal Irlandia, Rhys McClenaghan, juga telah mengungkapkan kebenaran soal kasur tersebut.

McClenaghan mengunggah sebuah video melalui akun sosial media pribadinya. Akun Twitter resmi Olimpiade ikut merespons dengan mengucapkan terima kasih karena McClenaghan membantu mematahkan mitos tersebut.

Dalam tayangan itu, McClenaghan terlihat mengetes kekuatan ranjang itu dengan cara melompat-lompat.

"Pada episode berita hoaks hari ini di Olimpiade, ranjang ini dimaksudkan untuk menjadi anti-seks," tutur McClenaghan dalam videonya.

"Ranjang ini terbuat dari karton, ya. Tapi tampaknya ini dimaksudkan untuk hancur jika ada gerakan tiba-tiba. Ini bohong. Berita bohong," jelasnya.


Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel