Kesaksian Korban Gempa Rumah Terangkat lalu Hancur Hitungan Detik

Ezra Sihite, Lucky Aditya (Malang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gempa bumi di Malang dengan magnitudo 6,1 menyisakan luka bagi ribuan warga. Hampir 800 bangunan dilaporkan rusak akibat guncangan gempa pada Sabtu, 10 April 2021. Bahkan, warga harus meninggalkan rumah dan tinggal di posko pengungsian.

"Langsung roboh rumah saya saat gempa langsung ambruk 100 persen. Saat itu saya ada di dalam rumah bersama istri dan kakak Sriamah (75)," kata Sutrisno (63) warga Majang Tengah, Dampit, Kabupaten Malang pada Minggu, 11 April 2021.

Sutrisno tidak menyangka bahwa rumah yang dia tinggali sejak lama itu akan roboh hanya dalam hitungan detik. Saat itu dia berada di dalam rumah. Begitu gempa terjadi dia lari ke luar rumah. Sementara kakaknya berlindung di kamar tidur. Beruntung kakaknya selamat dari reruntuhan karena berlindung di plafon yang jatuh miring ke bawah.

"Saya dan istri lari ke luar rumah, kakak saya bersembunyi di dalam kamar. Beruntung plafon rumah itu jatuh ke bawah tapi miring sehingga bisa sembunyi diantara reruntuhan itu. Jadi dua rumah yang runtuh, punya saya dan Wasila (61) adik saya," ujar Sutrisno.

Kesaksian dia, saat gempa terjadi, rumah yang baru dibangun 15 tahun silam itu seperti terangkat lalu jatuh dan hancur. Setelah ambruk, kondisi sekitar rumah langsung gelap karena debu beterbangan. Istrinya langsung menangis tiada henti mendapati kenyataan rumah ambruk 100 persen.

"Saya melihat gempa hanya beberapa detik seperti di angkat terus jatuh. Sama kaya orang kebakaran debunya itu beterbangan gelap. Kita bertiga di rumah. Semua barang hancur tertimpa bangunan. Anak-anak tidak di rumah. Istri langsung nangis," tutur Sutrisno soal gempa Malang.

Sutrisno ternyata tidak satu kali ini saja mengalami rumah runtuh akibat gempa bumi. Pada tahun 1965 rumah orangtuanya yang berada di depan rumahnya saat ini ambruk. Pria yang bekerja sebagai buruh tani itu kini sibuk membersihkan puing-puing reruntuhan dibantu para relawan.

"Gempa 2 kali tahun 1965 parah juga rumah orangtua roboh itu di depan rumah saya. Punya adik saya roboh dua kali sama tahun 1965 itu. Saya satu kali. Pas ambruk seperti tidak terasa begitu cepat langsung runtuh," kata dia.