Kesaksian Lengkap Sopir Ambulans Bawa Jasad Yosua dari Rumah Ferdy Sambo ke RS Polri

Merdeka.com - Merdeka.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Ahmad Syahrul Ramadhan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan pembunuhan berencana, Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Beri kesaksian untuk ketiga terdakwa Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf. Ahmad membeberkan sejumlah fakta selama proses evakuasi jasad Brigadir J saat hendak dibawa ke rumah sakit (RS) Polri Kramat Jati, dari TKP rumah dinas Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Berawal dari pengakuan Ahmad sebagai sopir ambulans dari PT Bintang Medika, dia bercerita mendapatkan panggilan untuk meluncur ke TKP sekitar pukul 19.08 Wib lewat kiriman lokasi dari kantornya.

"Lalu saya prepare untuk jemput lokasi. Saya belum tahu saat itu lokasi maps, lalu jam 19.13 Wib ada nomor tak dikenal WA saya minta share lokasi, lalu jam 19.14 saya kirim share loc, lalu saya mundurin mobil sambil main HP saya masukin ke google maps," ujar Ahmad saat sidang di PN Jakarta Selatan, Senin (7/11).

"Saudara dari mana," tanya hakim

"Pancoran Barat. Kemudian saya jalan dari Tegal Parang menuju ke lokasi penjemputan yang dikirim lalu sampai di Siloam Duren Tiga ada orang enggak dikenal ketok kaca mobil. 'Mas mas, sini mas saya yang pesan ambulans' beliau naik motor, masuk komplek ada gapura di situ ada anggota Provos lalu saya disetop," jawab Ahmad.

Begitu memasuki Komplek Polri, Ahmad diminta mematikan sirine ambulans oleh seorang anggota Polri.

"Mau kemana dan tujuan apa 'permisi saya dapat arahan untuk jemput titik lokasi saya kasih unjuk lihat' katanya yasudah mas masuk saja lurus minta tolong matikan sirine dan protokol ambulansnya dimatikan," tambah Ahmad.

Setelah sampai di lokasi, Ahmad lantas memarkirkan mobilnya di garasi. Namun, saat hendak menurunkan tandu jenazah, rupanya tidak muat karena terhalang oleh dua mobil yang terparkir di garasi.

"Saya bilang izin karena enggak muat saya bawa tandu saja. Terus langsung masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam rumah saya kaget karena ramai dan banyak juga kamera," ujar Ahmad.

Posisi Jenazah Brigadir J alias Yosua

Lalu, Ahmad menceritakan posisinya yang saat itu berada dekat kolam ikan menunggu arahan untuk proses evakuasi yang sampai saat itu tidak mengetahui kalau dia akan mengevakuasi jasad Brigadir J.

"Saya bilang yang sakit yang mana pak, katanya ikutin saja. Saya ikuti police line. Lalu saya terkejut di samping tangga ada jenazah," ujar Ahmad.

"Jenazah sudah di kantong?" tanya hakim ketua Wahyu Iman Santosa.

"Belum, masih tergeletak berlumuran darah Yang Mulia," jawab Ahmad.

"Setelah itu apa yang saudara lakukan setelah melihat ada jenazah?" tanya kembali hakim.

"Saya disuruh salah satu anggota untuk cek nadinya. Saya cek sudah tidak ada nadinya. Emang sudah tidak ada (nadi) yang mulia," timpal Ahmad.

Pakai Masker Hitam

Ahmad menceritakan dan menggambarkan kondisi jenazah Brigadir J. Yakni, berlumuran darah, terlentang di sudut rumah serta wajah masih mengenakan masker berwarna hitam.

"Masih seperti itu posisinya terlentang cuma pake baju yang mulia," kata Ahmad.

"Posisinya gini (sambil tunjukan foto)," tanya hakim.

"Iya yang mulia dan wajahnya ditutupi masker yang mulia," jawab Ahmad.

"Warna?" kata Hakim

"Hitam," jelas Ahmad.

Dimasukan Ke Kantong Jenazah

Setelah mengecek nadi beberapa kali, Ahmad lalu diminta untuk mengevakuasi jasad Brigadir J untuk dimasukan ke dalam kantong jenazah yang tersimpan di dalam mobil ambulansnya.

"Pakai sarung tangan karet yang mulia. Saya bilang sudah enggak ada nadinya. Saya bilang izin pak sudah tidak ada. Lalu dibilang 'pasti mas?' 'Pasti pak'. Lalu dibilang yaudah mas minta tolong dievakuasi, terus saya bilang izin saya ambil kantong jenazah," ujar Ahmad sambil tirukan percakapan kala itu dengan petugas.

"'Emang ada kamu kantong jenazah?' Saya bilang ada. Yasudah saya gelar kantong jenazah di situ ada tulisan Korlantas polri. Saya bilang izin 'saya dari mitra Kepolisian Satlantas Jakarta Timur untuk evakuasi TKP kecelakaan'. Katanya 'oh mitra polisi, yaudah minta tolong ini dievakuasi'," tambah dia.

"Tadi saudara mengatakan saudara memegang kepala, ada keluar darah?" tanya hakim.

"Saat saya angkat saya memegang tangan yang mulia," jawab Ahmad.

"Bukan kepala?" timpal Hakim

"Tangan yang mulia dua-duanya (kedua tangan dengan posisi telentang)," kata Ahmad.

"Jadi tangan begini ya oke, dari bawah waktu diangkat kepalanya ngeluarin darah enggak?" tanya hakim lagi.

"Ada yang mulia (keluarkan darah dari kepala belakang)," ujar Ahmad.

"Saya tidak tahu (banyak atau sedikit) darah itu dari badannya atau dari kepala. Itu yang genangan di lantai yang mulia, karena saya tidak ada di TKP, saya hanya melihat jenazah ditutup masker," ujarnya.

Luka Tembak

Meski tidak bisa memperhatikan dengan jelas baik luka maupun darah dari jasad Brigadir J. Namun Ahmad meyakini kalau saat itu luka yang bersarang di tubuh Mantan Ajudan Ferdy Sambo itu berasal dari luka tembak.

"Hanya luka tembak, di badan," ujar Ahmad.

"Tahu dari mana luka tembak?" timpal Hakim.

"Ada bolongan di dada sebelah kiri kalau tidak salah yang mulia," jawab Ahmad.

Berangkat Menuju RS Polri

Ahmad mengatakan jasad Brigadir J sempat dilipat kakinya agar masuk ke kantong jenazah. Dengan melipat kaki sedikit untuk selanjutnya jenazah dibawa dengan tandu ke dalam mobil ambulans.

"Lalu dimasukan ke dalam mobil. Saya masuk mobil. Ketika itu bapak-bapak (polisi) itu (meminta untuk) persiapan. Pas saya mau nyalain lampu ambulans. 'Tahan dulu mas. Nunggu arahan aja. Nanti dikawal'," bebernya.

"Lalu saya jalan di situ ada mobil Provos Pajero saya di belakang. Lalu ada anggota provos turun. Nanya kamu sama siapa mas? Saya sendiri. Akhirnya saya ditemani di dalam mobil. Akhirnya saya jalan," tambah dia.

"Diarahkan bawa jenazah kemana?" kata Hakim.

"RS Polri," jawab Ahmad.

"Sampai sana ga ada hambatan?" tanya hakim.

"Macet yang mulia," timpal Ahmad.

Dimasukan Ke IGD

Ada hal yang terasa janggal. Yakni, jenazah Brigadir J diminta dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit Polri Kramat Jati dari rumah dinas Ferdy Sambo di Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Bukan kamar jenazah.

"Saat itu enggak langsung dibawa ke kamar jenazah dibawa ke IGD. Saya tanya 'pak izin kenapa dibawa ke IGD dulu'. katanya 'saya juga enggak tahu mas. Saya ikuti arahan'. Sampai IGD sudah ramai, datang dah tuh petugas polri korbannya berapa orang?" kata Ahmad tirukan percakapan dengan anggota yang temaninya selama perjalan.

"Saya juga bingung dilihat 'waduh sudah kantong jenazah' ditanya 'korban berapa? Satu, terus ya sudah mas dibawa ke belakang aja kamar jenazah'."

"Lalu saat saya di kamar jenazah ada bapak-bapak anggota bilang 'sebentar dulu ya mas' trus minta tolong dibantu turunkan. Saya langsung turunkan berjalan ke kamar jenazah lalu saya pindahkan ke kamar troli kamar jenazah," lanjut Ahmad.

Diminta Tunggu Hingga Subuh

Setelah memasukan jenazah ke ruang IGD, Ahmad izin pamit. Namun, ditahan oleh seorang anggota polisi di sana untuk menunggu hingga waktu salat Subuh di RS Polri.

"Setelah saya drop jenazah ke troli jenazah. Saya parkir mobil. Terus saya bilang saya izin pamit," kata Ahmad.

"Sama anggota di RS terus bapak-bapak tersebut katanya sebentar dulu ya mas tunggu dulu. Saya tunggu tempat masjid di samping tembok sampai jam mau subuh Yang Mulia," lanjut dia.

"Hah mau Subuh saudara nungguin?" tanya Majelis Hakim.

"Iya yang mulia," kata Syahrul.

"Buset, hanya tunggu jenazah tanpa tahu ada apa-apa," sebut Hakim Wahyu.

"Lalu saya ditanya udah makan belum, akhirnya beli sate, sampai saya makan subuh baru selesai kamar jenazah," ujar Ahmad.

"Kenapa saudara tunggu sampai subuh?," tanya Hakim.

"Enggak tahu," jawab Ahmad.

"Saudara dikasih uang?" tanya Hakim.

"Hanya untuk ambulans sama untuk cuci mobil," kata Syahrul. [rhm]