Kesaksian Pemain Persebaya Terkepung Kericuhan di Stadion Kanjuruhan

Merdeka.com - Merdeka.com - Tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur pada Sabtu (1/10) menjadi lembar kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sebanyak 125 orang meninggal dunia dan 325 mengalami luka-luka akibat peristiwa tersebut.

Tragedi ini menyisakan satu cerita yang melibatkan para pemain Persebaya Surabaya. Situasinya bermula saat wasit Agus Fauzan Arifin meniup peluit panjang tanda laga antara Arema FC kontra Persebaya berakhir di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10) malam.

Skor akhir 2-3 membuat Arema menelan kekalahan pertama dari tim rival Persebaya. Suporter mulai masuk lapangan yang berusaha dihalau oleh aparat keamanan.

Para pemain Persebaya langsung berlari dari lapangan menuju ruang ganti untuk mengamankan diri. Mereka sempat melakukan perayaan kemenangan ini di ruang ganti sebelum akhirnya diminta segera meninggalkan stadion.

Langsung Dievakuasi

Alwi Slamat dkk langsung dievakuasi untuk mencegah hal yang diinginkan. Para pemain Persebaya digiring untuk masuk kendaraan rantis atau barracuda agar bisa segera diamankan.

Dalam lima menit waktu yang diberikan aparat keamanan, pemain Persebaya berlarian masuk ke mobil barracuda.

Di belakang mereka, suporter Arema terlihat mengejar dan segera dihalau polisi yang berjaga di depan ruang ganti. Tak lama kemudian, ofisial dan pemain Persebaya berlari menuju empat mobil barracuda yang sudah disediakan di depan stadion.

Bek Persebaya, Arief Catur Pamungkas, membagikan cerita mencekam yang dialami oleh timnya. Dia memberikan kesaksian bagaimana para pemain hanya diberi waktu lima menit untuk ganti baju.

Tertahan di Stadion

Para pemain Persebaya pun berhasil masuk ke dalam mobil barracuda, tapi kendaraan tidak kunjung bergerak. Jalan keluar dari stadion penuh oleh suporter.

Arief Catur mengatakan bahwa timnya sempat tertahan selama satu jam di depan stadion.

"Selesai pertandingan kami dikasih waktu lima menit masuk ruang ganti, terus masuk barracuda, tetapi diadang Aremania. Satu jam lebih tidak bisa jalan," ungkap bek kiri berusia 23 tahun tersebut.

Situasi mencekam menyelimuti mobil yang ditumpangi oleh para pemain Persebaya itu. Mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk tiba di Surabaya.

"Sampai Plaza Marina (Surabaya) pukul 3 (pagi), menjelang subuh," ucap Arif Catur Pamungkas, dilansir dari Bola.com.

Gas Air Mata

Berikutnya yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan yang diperbincangkan oleh masyarakat dunia. Kerusuhan pecah usai pertandingan karena suporter menyerbu lapangan.

Tak ada konflik antar kelompok suporter lantaran Bonek, suporter Persebaya, memang tidak diperbolehkan hadir di stadion.

Pihak kepolisian yang kalah jumlah, melakukan bereaksi dengan menembakkan gas air mata ke tribune. Situasi ini memperparah keadaan. Banyak penonton yang saling tindih dan bertumpuk-tumpukan karena panik dengan gas air mata.

Bonek mulanya akan menyambut kedatangan tim Persebaya di Surabaya dengan perayaan euforia kemenangan laga ini. Namun, para pentolan Bonek menyarankan agar hal itu diurungkan untuk menghormati duka yang dialami oleh Arema.

Tidak Dibolehkan FIFA

Sebenarnya pembubaran suporter menggunakan gas air mata tidak diperbolehkan dalam aturan FIFA. Itu tercantum dalam FIFA stadium safety and security regulation.

Di pasal 19, poin b, disebutkan tidak diperbolehkan menggunakan senjata api atau gas pengendali massa.

Namun Kapolda Jatim menjelaskan jika keamanan punya alasan kuat menggunakan gas air mata. Karena suporter sudah mulai berbuat kerusuhan dengan melakukan perlawanan kepada petugas dan melakukan pengrusakan kendaraan.

Liga 1 Dihentikan Sementara Waktu

Duka mendalam tidak hanya dirasakan oleh tim Arema melihat para suporternya menjadi korban jiwa dalam peristiwa ini. Para pemain Persebaya pun ikut bersedih.

"Kejadian yang sangat di sayangkan. Banyak yang meninggal dunia. Sedih lihatnya. Semoga ke depannya tidak terulang lagi hal yang sama. Jadikan ini yang terakhir, karena nyawa dan kemanusiaan di atas segalanya," ucap Arief Catur.

PSSI dan PT LIB masih melakukan investigasi untuk menyelesaikan tragedi mengerikan ini. Terbaru, federasi secara resmi mengumumkan bahwa Liga 1 dihentikan sampai waktu yang tidak ditentukan. [tin]