Kesaksian Penumpang Kereta Luput dari Maut Banjir Besar China

·Bacaan 4 menit

Ketika banjir menerjang stasiun kereta bawah tanah yang sedang padat penumpang di China, pada Selasa (20/07), sejumlah penumpang berupaya kabur, sedangkan lainnya tersapu tanpa daya dari peron.

Di salah satu gerbong kereta, air berangsur naik dari pergelangan kaki, ke pinggang, dan leher penumpang.

Dalam keadaan panik, para komuter menjulurkan kepala mereka ke arah atas guna bernapas. Sementara itu, ada penumpang yang berusaha mengangkat tubuh penumpang lain bertubuh pendek agar tidak tenggelam.

China
Tayangan video amatir ketika banjir merendam kereta bawah tanah di Kota Zhengzhou.

Situasi ini terekam dalam tayangan video yang dibagikan di media sosial. Pada tayangan itu tampak beberapa penumpang berdiri di bangku kereta dan menempel pada langit-langit kereta selagi air terus meninggi. Salah satu penumpang berusaha memecahkan jendela, namun belakangan dia tersadar bahwa air di luar kereta lebih banyak.

Ada sejumlah orang yang merekam kejadian itu, sementara lainnya menelepon kerabat mereka atau mengunggah pesan meminta bantuan.

"Saya tidak bisa bicara lagi," tulis seorang perempuan pada jejaring media sosial Weibo. "Jika tidak ada bantuan datang dalam 20 menit, ratusan orang akan kehilangan nyawa."

"Kami semua berdiri di kursi dan air sudah mencapai selutut," kata seorang perempuan bernama Li kepada Elephant News.

"Air sudah mencapai leher beberapa penumpang bertubuh pendek ," tambahnya, sembari menambahkan udara yang tersisa sangat sedikit.

Setelah sekitar satu jam, gerbong kereta mendadak gelap dan ketersediaan oksigen terus menurun.

"Saya benar-benar takut. Tapi hal paling mengerikan bukan air, tapi pasokan udara yang berkurang," kata salah satu penumpang kepada kantor berita Reuters.

Zhengzhou
Pemandangan ketika bannir menggenangi jalan di Kota Zhengzhou.

Kesaksian mengenai apa yang terjadi di kereta bawah tanah diutarakan para penumpang kepada sejumlah media di China.

"Pada awalnya air tidak terlalu banyak, tapi kemudian seperti datang sekaligus," kata seorang perempuan yang berada di kereta bawah tanah kepada media Pear Video.

"Dalam kurun waktu sekitar 30 menit, air sudah setinggi bahu saya. Sulit bernapas, banyak orang pingsan," lanjutnya.

Perempuan yang enggan namanya dipublikasikan itu mengaku terjebak selama lebih dari empat jam dan menangis ketika akhirnya diselamatkan.

"Ada begitu banyak air di peron dan air terus mengalir dari celah-celah pintu kereta," jelas penumpang lain kepada Jiupai News.

"Saya cukup tinggi, namun sekitar lima menit kemudian, air sudah sedada saya. Orang-orang tinggi membantu orang-orang pendek dan anak-anak ke kursi. Saya menggendong anak orang lain."

Dalam sebuah unggahan di Weibo, seorang perempuan menggambarkan kepanikan para penumpang di dalam gerbong kereta.

"Banyak orang mulai menderita kesulitan bernapas. Saya mendengar seorang penumpang berbicara melalui telepon, menyebutkan nomor rekeningnya kepada keluarganya, dan saya berpikir mungkin saya harus melakukan hal yang sama."

"Air terus mengucur dari celah-celah pintu, kami semua berdiri di bangku kereta bawah tanah," sebut unggahan lain.

Zhengzhou
Jalan-jalan utama berubah menjadi sungai tatkala banjir melanda Kota Zhengzhou, China.

Beberapa jam kemudian, di tengah ketakutan dan ketidakpastian, sejumlah anggota regu penyelamat mampu mengakses atap gerbong kereta dan menarik keluar para penumpang.

"Kami pecahkan kaca sedikit [pada atap gerbong]. Lalu kemudian tiba-tiba udara masuk," ujar seorang perempuan yang namanya tidak dipublikasikan, kepada stasiun televisi CCTV.

Ratusan orang akhirnya dapat diselamatkan dari terowongan kereta bawah tanah yang diterjang banjir di Zhengzhou, kota berpenduduk 12 juta jiwa di tepi Sungai Kuning, Provinsi Henan.

Akan tetapi, tidak semuanya selamat. Sedikitnya 12 orang diketahui meninggal dunia dan lima lainnya cedera.

Selama tiga hari sebelum kejadian itu, Kota Zhengzhou dilanda hujan deras. Curah hujan pada Selasa (20/07) tercatat mencapai 624mm, yang sepertiganya mengguyur antara pukul 16.00-17.00. Kondisi itu disebut "memecahkan rekor sejarah".

Musim hujan memang tengah berlangsung di China dan banjir tahunan biasanya terjadi di beberapa tempat.

Namun, para ilmuwan China mengatakan pemanasan global menyebabkan situasinya lebih berbahaya. Mereka memperingatkan cuaca ekstrem bisa terjadi lebih sering di masa mendatang.

Di Provinsi Henan, paling tidak 25 orang meninggal dunia dan lebih dari 200.000 penduduk telah dievakuasi. Jalan-jalan utama berubah menjadi sungai, sedangkan mobil-mobil dan puing-puing terbawa oleh derasnya arus.

Foto-foto dramatis seputar upaya penyelamatan di luar stasiun kereta bawah tanah juga ramai dibagikan di media sosial. Para anggota regu penyelamat memakai tali panjang untuk menarik orang-orang yang terbawa arus.

"Saya beruntung saya di rumah, tapi kami [masih] merasa kami bakal hanyut terbawa arus," kata Wang Qian kepada BBC OS dari Zhengzhou.

"Saya menghubungi semua keluarga saya dan mujur mereka semua selamat. Ada banyak kerusakan di sekitar kami. Saya bisa melihat banjir di mana-mana, banyak mobil, dan air di mana-mana," katanya.

Upaya penyelamatan terus berlangsung di Provinsi Henan, sementara hujan masih mengguyur sepanjang pekan.

"Kami semua menunggu apakah semua baik-baik saja dalam waktu dekat. Kami sangat takut".

Reportase tambahan oleh Kerry Allen dan Gareth Evansh

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel