Kesaksian Sopir Ambulans Saat Angkut Jenazah Brigadir J: Diminta Matikan Sirine

Merdeka.com - Merdeka.com - Sopir ambulans yang membawa jenazah Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J dari rumah dinas Ferdy Sambo ke Rumah Sakit (RS) Polri, Ahmad Syahrul Ramadhan dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara pembunuhan berencana di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (7/11). Ahmad merupakan petugas ambulans dari PT Bintang Medika.

"Saya jalan dari Tegal Parang menuju ke lokasi penjemputan yang dikirim. Lalu sampai di Siloam Duren Tiga ada orang yang enggak dikenal mengetok kaca mobil bilang ‘mas mas, sini mas, saya yang pesen ambulans’, oh langsung saya ikuti. Beliau naik motor," kata Ahmad saat sidang sebagai saksi untuk terdakwa Bharada E, Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Ahmad mengaku kedatangannya ke lokasi tempat kejadian perkara (TKP) atas perintah dari perusahaannya sekitar pukul 19.08 WIB. Dia bermodalkan peta lokasi penjemputan yang selanjutnya dihubungi orang tak dikenal.

Dia diminta orang tak dikenal itu untuk memberi tahu lokasi keberadaannya melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp. "Lalu jam 19.13 WIB ada nomor tak dikenal WA saya minta share lokasi, lalu jam 19.14 saya kirim share loc," ungkapnya.

Saat baru tiba di depan gerbang Komplek Polri, Duren Tiga, Ahmad diberondong pertanyaan dari Anggota Provos Polri yang berjaga. Dia diminta menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya ke kawasan rumah dinas Ferdy Sambo.

"Di situ saya disetop. Lalu ditanya mau ke mana dan tujuannya apa. Saya jelaskan, 'permisi pak, selamat malam. Saya dapat arahan dari kantor saya untuk menjemput di lokasinya ini’. Saya kasih lihat ke anggotanya WA tugasnya," ucap Ahmad.

Saat itulah, Ahmad diminta oleh petugas Provos agar mematikan sirine dan lampu kendaraan. Dia tak tahu pasti alasan di balik permintaan tersebut.

"Lalu beliau (anggota Provos) bilang, nanti ikuti aja, nanti diarahkan. Minta tolong ambulans dan sirine semuanya dimatikan," ungkapnya.

Seolah tak mau repot, Ahmad memilih untuk mengikuti arahan anggota Provos itu. Dia pun masuk ke Komplek Duren Tiga untuk menuju rumah dinas Ferdy Sambo.

"Lalu saya ikuti arahan bapak Provos, saya jalan lagi mengarah ke titik penjemputan," kata Ahmad.

Sekedar informasi, Ahmad dihadirkan JPU bersamaan dengan empat saksi lainnya yakni Petugas Swab di Smart Co Lab, Nevi Afrilia; Petugas Swab di Smart Co Lab, Ishbah Azka Tilawah; Legal Counsel pada provider PT. XL AXIATA, Viktor Kamang; dan Provider PT Telekomunikasi Seluler bagian officer security and Tech Compliance Support, Bimantara Jayadiputro.

Dakwaan Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [tin]