Kesaksian Warga Myanmar saat Detik-detik Mencekam Kudeta Militer

Mohammad Arief Hidayat, BBC Indonesia
·Bacaan 5 menit

Warga Myanmar mendapat berita bahwa militer telah menguasai negara itu pada Senin pagi.

"Saya pikir saya akan langsung mengunggah tweet tentang kudeta sekarang," tulis mantan jurnalis Reuters, Aye Min Thant di Twitter sebelum pukul 07:00 waktu setempat.

"Keadaan masih cukup sepi untuk saat ini, meskipun orang-orang sudah bangun dan ketakutan. Saya telah menerima panggilan sejak pukul 6 pagi dari teman dan kerabat. Internet mati dan menyala dan kartu SIM saya tidak lagi berfungsi."

Pengambilalihan kekuasaan itu diumumkan dalam pernyataan yang disiarkan di stasiun televisi milik militer.

Dikatakan bahwa komandan militer tertinggi bertanggung jawab dan keadaan darurat satu tahun telah diumumkan.

Pemimpin sipil negara itu, Aung San Suu Kyi, telah ditahan, bersama dengan anggota partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) lainnya.

Langkah itu menyusul kemenangan telak oleh partai Suu Kyi dalam pemilihan November lalu yang diklaim militer dipenuhi kecurangan.

Suu Kyi mendesak para pendukungnya untuk "memprotes kudeta".

Myanmar, juga dikenal sebagai Burma, diperintah oleh angkatan bersenjata hingga 2011, ketika reformasi demokrasi yang dipimpin oleh Suu Kyi mengakhiri kekuasaan militer.

Seorang penduduk kota utama Myanmar, Yangon, mengatakan kepada BBC bahwa dia tengah bersiap untuk jalan-jalan pagi ketika dia menerima pesan dari seorang teman yang memberitahunya tentang penahanan Suu Kyi.

Perempuan berusia 25 tahun, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena takut menerima aksi balasan, langsung mengecek media sosial.

"Bangun tidur dan mengetahui bahwa dunia Anda telah benar-benar terbalik dalam semalam bukanlah perasaan baru, tetapi itu adalah perasaan yang saya pikir sudah kami tinggalkan dan tak perlu kami rasakan lagi," katanya mengenang masa kecilnya di bawah pemerintahan militer.

"Yang paling mengejutkan saya adalah melihat bagaimana menteri daerah semua ditahan. Karena ini artinya mereka benar-benar menahan semua orang, bukan hanya Aung San Suu Kyi," tambahnya.

Penangkapan anggota parlemen daerah, Pa Pa Han, disiarkan langsung di Facebook oleh suaminya.

Aktivis politik, termasuk pembuat film Min Htin Ko Ko Gyi, juga dilaporkan telah ditahan.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) di Myanmar mengatakan kepada BBC bahwa mereka telah mendokumentasikan penangkapan setidaknya 42 pejabat dan 16 aktivis masyarakat sipil.

Dikatakan proses verifikasi nama sedang berlangsung dan beberapa tahanan telah dibebaskan pada hari itu.

`Mobil-mobil militer terlihat di kota`

"Kami terbangun dengan berita kudeta militer di pagi hari dan beberapa teman kami ditahan," kata seorang aktivis lokal, yang identitasnya kami rahasiakan, kepada program Newsday BBC.

"Konektivitas internet sudah tidak ada lagi ... Saya tidak bisa keluar dan menggunakan telepon saya, tidak ada data sama sekali. Ini yang terjadi sekarang. Ada mobil militer yang berkendara di sekitar kota," katanya.

Wartawan lokal Cape Diamond menulis di Twitter bahwa di ibu kota, Nay Pyi Daw, tidak ada sinyal dari pukul 04:00 hingga 11:15 waktu setempat. "Tidak bisa melakukan telepon, tidak ada Wifi," tulisnya kemudian di Twitter.

Saluran TV internasional dan domestik, termasuk stasiun televisi negara, tidak dapat diakses.

Bendera merah cerah NLD diturunkan dari rumah-rumah dan toko-toko di Yangon.

"Tetangga saya baru saja menurunkan bendera NLD-nya ... Ketakutan akan kekerasan itu nyata," tulis jurnalis dan peneliti Annie Zaman di Twitter.

Dia kemudian membagikan video bendera yang diturunkan di pasar lokal.

Orang-orang menimbun persediaan penting dan mengantre di ATM. Bank menangguhkan layanan karena koneksi internet yang buruk tetapi mengatakan mereka akan beroperasi lagi mulai Selasa.

Wartawan BBC Burmese Service Nyein Chan Aye mengatakan suasana di Yangon adalah "ketakutan, kemarahan dan frustrasi".

Dia mengatakan bahwa setelah bergegas membeli kebutuhan pokok, seperti beras, banyak orang yang tinggal di dalam rumah menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

People line up outside a bank branch in Yangon, Myanmar, 1 February 2021.
Warga mengantre di bank setelah mendapat informasi telah terjadi kudeta.

Iklim ketakutan

Ini adalah masa yang sulit secara ekonomi bagi banyak orang di Myanmar dan kudeta membuat banyak orang mengkhawatirkan hal-hal mendasar.

Ma Nan, seorang pedagang di Yangon, mengatakan kepada BBC: "Saya khawatir jika harga [barang] akan naik. Saya khawatir karena putri saya belum menyelesaikan sekolah. Ini baru setengah jalan. Ini juga terjadi waktu pandemi. "

Than Than Nyunt, seorang ibu rumah tangga di Yanong, juga khawatir harga barang akan naik dan "orang-orang akan memberontak".

Ia menambahkan "Saya berharap Aung San Suu Kyi dan rekan-rekannya akan dibebaskan lebih cepat."

Ketakutan akan menjadi nyata jika kudeta ini berarti kembali ke jenis kehidupan di bawah pemerintahan militer tahun 1990-an dan 2000-an.

Military crackdown in Yangon 1988
Peristiwa tahun 1988 di Yangon.

Militer telah melancarkan kudeta berdarah pada tahun 1988, dengan ribuan orang tewas ketika pemberontakan yang dipimpin mahasiswa berupaya melawan pemerintahan satu partai bergaya Soviet.

Suu Kyi menjadi terkenal pada saat itu dan berjuang melawan aturan militer dan pelanggaran hak asasi manusia selama dua dekade, setelah militer menolak untuk menerima kemenangan pemilihannya pada tahun 1990.

Hidup saat itu diwarnai oleh korupsi, harga yang berfluktuasi, penindasan terhadap kehidupan sehari-hari, kekurangan gizi kronis di beberapa daerah dan perselisihan etnis di daerah lain.

Banyak yang sekarang khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Kami saat ini mencoba untuk memberitahu diri kami sendiri bahwa kami akan bergerak maju karena kami telah melewati hal yang lebih buruk sebelumnya," kata warga berusia 25 tahun di Yangon itu kepada BBC.

"Tapi saya harap kita tidak perlu melakukan itu, saya berharap kami tidak harus mengatakan pada diri sendiri untuk menjadi kuat."

`Pasar jalanan buka`

Namun, beberapa pendukung militer merayakan kudeta tersebut, berparade di seluruh kota sambil memainkan musik patriotik.

Griffin Hotchkiss, seorang ekspatriat Amerika yang telah tinggal di Myanmar selama sekitar enam tahun, mengatakan dia melihat "karavan warga sipil pro-militer yang memainkan musik keras dan `merayakan` - sementara orang-orang (yang saya tahu adalah pendukung NLD) tampak marah di jalan-jalan".

Beberapa terkejut bahwa dampaknya tidak lebih ekstrem.

Dalam perjalanan ke Yangon, Hotchkiss mengatakan bahwa "selain beberapa kendaraan tentara di kompleks Balai Kota, tidak ada yang tampak luar biasa".

Military supporters drive-by police trucks parked aside the Streets in Yangon.
Pendukung militer merayakan kudeta yang terjadi

Kemudian pada hari itu, Hotchkiss memperhatikan bahwa sementara terlihat "orang yang jauh lebih sedikit", banyak toko yang tampaknya buka dan beroperasi.

Michael Ghilezan, yang tinggal di Yangon bersama istrinya yang berkebangsaan Burma, mengatakan dia "menduga akan melihat orang-orang berbaris di jalan-jalan untuk melakukan protes dan kendaraan-kendaraan militer ditempatkan di sekitar kota. Tapi hal itu tidak terjadi".