Kesalahan-kesalahan pemberitaan menyoroti keragaman di ruang redaksi

NEW YORK (AP) - Alexis Johnson menyadari bahwa dia bukan pecundang ketika Pittsburgh Post-Gazette mengatakan dia tidak bisa meliput protes yang dipicu oleh kematian George Floyd. Pembacanya menolak perspektif wanita kulit hitam dengan latar belakang keluarga dalam bidang penegakan hukum yang bekerja di kota kelahirannya.

Tidak ada yang menduga hal itu akan menyebabkan pemberontakan staf dan menjadi cerita nasional, bagian dari pekan yang luar biasa di mana kemalasan media dalam membangun ruang redaksi yang beragam menjadi bagian dari percakapan nasional.

Para editor kehilangan pekerjaan di New York Times, Philadelphia Inquirer, majalah Bon Appetit, dan situs Refinery29. Sekalipun latar belakang setiap kasus berbeda namun keberagaman menjadi salah satu faktornya.

"Komunitas kami berubah dan demografi kami berubah dan kami sebagai industri berita telah melakukan pekerjaan yang buruk dalam mengenalinya," kata Katrice Hardy, editor eksekutif Indianapolis Star dan kepala komite keragaman untuk News Leaders Association.

Itu bukan keluhan baru. Komisi Kerner yang menyelidiki penyebab kerusuhan 1967 di kota-kota Amerika menggambarkan tidak adanya jurnalis kulit hitam di ruang redaksi pada saat itu sebagai sesuatu keterbelakangan yang mengejutkan.

Ketika seorang pengawas dari News Leaders Association menilai keragaman lapangan kerja di surat kabar pertengahan tahun 1970-an, organisasi itu menetapkan target yang ingin dicapai pada 2000. Tahun itu berlalu tanpa target tercapai, sehingga jangka waktunya diperpanjang hingga 2025, kata Richard Prince, yang menulis blog tentang masalah minoritas di industri itu.

"Itu juga tidak akan tercapai," kata mantan editor koran itu.

Asosiasi itu bahkan kesulitan mengisi survei keragaman tahunannya. Hanya 293 dari 1.700 ruang redaksi yang menjawab survei. Empat organisasi berita melaporkan memiliki persentase jurnalis minoritas yang lebih tinggi daripada komunitas yang mereka liput.

Di media elektronik, 12 persen jurnalis elektronik adalah berkulit hitam, mirip dengan angka populasi nasional yaitu 13 persen. Tetapi hanya 5,5 persen direktur pemberitaan -pemimpin- yang berkulit hitam. Representasi minoritas tumbuh lebih lambat di tingkat nasional secara keseluruhan, menurut penelitian Universitas Hofstra.

“Setiap kali saya hadir dalam sebuah pertemuan para pemimpin media, saya dikejutkan oleh kurangnya keragaman,” kata Dean Baquet, editor eksekutif kulit hitam pertama New York Times, kepada Prince pada 2015. “Ini menakjubkan, mengingat bahwa kita seharusnya menangkap budaya, dan kesulitan dalam masyarakat. ”

Baquet menolak permintaan wawancara.

Media yang sukses termasuk The Times mempekerjakan 43 persen jurnalis kulit berwarna pada 2018. Gannett, rantai surat kabar tempat Hardy bekerja, telah bekerja dengan baik karena memenuhi tujuan keragaman adalah bagian dari evaluasi manajer, kata Prince.

Lebih dari satu dari lima wartawan Associated Press AS merupakan kelompok kulit berwarna, kata organisasi berita itu.

"Ini sederhana dan mudah," kata Cheryl W. Thompson, reporter NPR dan presiden lembaga nirlaba Investigative Reporters and Editors. “Anda harus berusaha. Anda harus melakukannya. Itu tidak rumit. "

Di Inquirer pekan lalu, wartawan kulit hitam memimpin protes setelah penggunaan judul tidak sensitif, "Bangunan Penting, Juga," pada sebuah cerita tentang arsitektur yang rusak ketika protes berubah menjadi kekerasan.

"Kesalahan seperti ini menghilangkan pekerjaan bertahun-tahun untuk mencoba membuat nara sumber dan pembaca mempercayai dan membaca koran," tulis kolumnis Inquirer Jenice Armstrong.

Hardy curiga bahwa kecurigaan terhadap media arus utama seperti itu merupakan alasan dibalik penolakan dalam sebuah protes baru-baru ini, di mana pengunjuk rasa di Indianapolis mengatakan wartawan Star tidak diterima. Dia mendesak wartawan yang meliput protes untuk membangun jembatan serta melaporkan berita - untuk kembali dengan nama dan kontak untuk cerita masa depan.

Di Pittsburgh, Johnson melanggar aturan terkait sosial media, di mana wartawan diminta untuk tidak beropini di media sosial dan lainnya. Banyak ruang redaksi memiliki kebijakan media sosial yang ketat untuk memastikan nara sumber merasa diperlakukan dengan adil.

Dia mencuit lelucon, menunjukkan foto-foto tempat parkir yang penuh sampah dan menulis, "Adegan mengerikan dan akibat dari para PENJARAH egois yang tidak peduli tentang kota ini! ... oh tunggu, maaf, bukan. Ini adalah foto-foto dari konser Kenny Chesney. ”

Dia diberitahu bahwa dia tidak bisa meliput protes, dan begitu juga rekan-rekannya yang me-retweet cuitannya sebagai bentuk solidaritas. Editor eksekutif surat kabar itu, Keith C. Burris, menulis dalam kolom pada Rabu bahwa Johnson telah melewati batas yang memisahkan pelaporan dan komentar.

Johnson tidak percaya cuit itu menghalangi dia untuk meliput berita secara adil, atau bahwa pembaca akan menganggapnya bias.

"Ini benar-benar konyol," katanya. “Ini semacam penghinaan terhadap pengalaman dan profesionalisme saya sebagai wartawan. Bukan hanya menghina saya, tapi juga jurnalis kulit hitam di seluruh negeri. ”

Kegagalan untuk melibatkan wartawan dari berbagai latar belakang yang berbeda berarti cerita yang hilang. Hardy, yang baru saja meninggalkan pekerjaannya di Greenville, S.C., mengatakan bahwa tanpa jurnalis kulit hitam di sana, cerita-cerita tentang lingkungan yang keras akan menjadi tak tersampaikan.

Sapuan protes nasional setelah kematian George Floyd membuat para pemimpin berita berbicara kepada staf mereka tentang bagaimana kisah itu mempengaruhi mereka.

Sebuah memo jujur yang dikirim oleh editor eksekutif Los Angeles Times Norman Pearlstine pada Jumat muncul setelah anggota staf menunjukkan contoh ketidakadilan rasial. Pearlstine mengakui bahwa surat kabar itu memiliki sejarah panjang mendorong rasisme di kota itu berkembang. Dia mengatakan koran itu tidak memiliki cukup penulis dan manajer minoritas dan menguraikan langkah-langkah untuk memperbaikinya.

"Cakupan kami tidak hanya mengabaikan orang kulit berwarna, itu secara aktif tidak memanusiakan mereka," tulis Pearlstine. "Baru-baru ini, kita bersalah karena fokus pada basis pelanggan kulit putih ketika kota menjadi mayoritas non-putih."

Sejumlah masalah menyebabkan pemecatan editor halaman editorial New York Times James Bennet atas opini Senator AS Tom Cotton yang dinilai salah. Sebuah protes internal atas esai itu tidak terlihat sampai sejumlah jurnalis kulit hitam mencuit bahwa argumen Cotton yang mendukung penggunaan pasukan federal untuk memadamkan kekerasan membuat mereka merasa tidak aman.

Editor Bon Appetit, Adam Rapoport, mengundurkan diri setelah foto dirinya dengan kostum Halloween yang secara rasial tidak sensitif muncul. Pada Rabu, majalah itu menjanjikan perubahan besar.

Dorongan untuk menyampaikan keprihatinan atas organisasi berita mereka kepada publik adalah salah satu alasan untuk percaya bahwa saat ini, kekhawatiran tentang keragaman tidak akan dilupakan dalam waktu dekat.

"Sebelumnya, itu tetap menjadi masalah internal," kata Thompson. "Sekarang ini ada di luar sana. Dan ada kekuatan di media sosial. "

Johnson, yang merasa tidak nyaman dan sedikit kaget dengan perhatian yang diterima kasusnya, mengatakan bahwa dia berharap dengan berbicara secara terbuka ia dapat menekan bosnya untuk berubah pikiran.

Pada usia 27 tahun, dia tidak ingin tidak dilibatkan dari meliput kisah hak-hak sipil terbesar di generasinya.

Sebaliknya, dia menjadi bagian dari itu.