Kesalahan Terbesar saat Mengajari Anak Tentang Kebaikan

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 1 menit

VIVA – Mengajari anak tentang kebaikan harus dilakukan sedini mungkin, agar nilai-nilai kebaikan sudah tertanam pada anak sejak kecil hingga terbawa hingga dewasa kelak.

Namun, menanamkan kebaikan pada anak juga ada triknya lho, bun. Jangan sampai niat baik yang ingin diajarkan pada anak malah berujung sebaliknya.

Psikolog Anak, Fathya Artha Utami, MPsi, mengungkap ada beberapa kesalahan terbesar orangtua ketika mengajarkan anak tentang kebaikan. Apa saja?

"Terlalu pushy, tapi anak sendiri ternyata belum siap atau tahap perkembangan usianya belum pada kapasitas yang betul-betul berbuat kebaikan itu memang dia belum mengerti konsepnya. Jadi, terlalu memaksakan ke arah itu," ujarnya saat webinar Bebelac Tunjukkan Hebatmu, Kamis, 25 Maret 2021.

Kesalahan terbesar kedua menurut Fathya adalah, terkait dengan feedback yang orangtua berikan, apakah terlalu mengkritisi atau memberikan pujian yang salah.

"Memberikan pujian yang sebetulnya malah membuat anak merasa, 'Oh, kalau aku berbuat kebaikan karena aku akan dibilang menjadi anak hebatnya mama'. Tapi bukan karena kebaikan dan rasa senang yang dia rasakan," kata dia.

Oleh karena itu, Fathya memperingatkan hendaknya orangtua berhati-hati saat memberikan pujian pada anak atas kebaikan yang telah mereka lakukan.

"Jadi, misalnya ketika anak memberi, yang bisa kita kasih pujiannya adalah bukan cuma 'Kamu baik' atau ‘Kamu hebat', tapi lebih kepada 'Senang ya kita bisa berbagi' atau 'Lihat deh kalau kita berdonasi apa sih manfaatnya,'" pungkas dia.

Dengan demikian, menurut Fathya, yang dipuji adalah prosesnya. Sehingga anak merasa bangga dan hebat dari dalam hati, bukan karena mengharapkan pujian dari orang lain.

"Itu sebenarnya yang perlu diperhatikan. Kalau hal-hal lainnya ketika mengajarkan kebaikan, selagi itu memang sejalan dengan value keluarga, itu sebetulnya udah jadi pegangan yang sederhana yang bisa dilakukan," tutur Fathya Artha Utami.