Kesalehan sosial dan ibadah kita

·Bacaan 5 menit

"I'm nobody's child…I'm nobody's child, just like a flower I'm growing wild
No mummy's kisses, and no daddy's smile, nobody wants me. I'm nobody's child".

Demikian refrain dari lagu Nobody’s Child yang dipopulerkan oleh Karen Young pada tahun 1969.

Lagu tersebut ditulis oleh Cy Coben dan Mel Foree setelah perang dunia kedua, saat dunia dalam keadaan krisis akibat perang, menceritakan perasaan seorang anak perempuan buta yang tinggal di sebuah penampungan anak yatim, yang tidak pernah dilirik oleh pengunjung panti asuhan hanya karena dia tunanetra.

Perang, pandemi, bencana alam, korupsi, dan ketidakadilan lainnya telah banyak melahirkan anak-anak yatim piatu, yang kebahagiaan dan keceriaannya direnggut sejak dini.

Perang telah melahirkan banyak anak yatim piatu di wilayah Palestina, Syiria, Yaman, Kashmir, dan baru-baru ini Ukraina.

Negara-negara Eropa dan Barat ketika Rusia menyerbu Ukraina menyerukan pesan kemanusiaan, terutama untuk anak-anak di Ukraina, tetapi tidak melakukan hal yang sama ketika pembantaian yang terjadi di Palestina, Syiria, Yaman, Irak, dan Libya membuat banyak anak menjadi yatim piatu.

Pandemi juga melahirkan banyak anak yatim piatu.

Di Indonesia saja menurut anggota Dewan Pertimbangan Presiden M. Mardiono hingga 6 Januari 2022 korban jiwa akibat COVID-19 mencapai 144.116 orang dan jumlah anak yang menjadi yatim, piatu, dan yatim piatu karena orang tuanya meninggal karena penyakit itu per September 2021 jumlahnya mencapai 30.766 orang menurut siaran berita DW.com yang diakses 17 April 2022.

Jumlah anak yatim, piatu, dan yatim piatu juga bertambah banyak akibat kejahatan para koruptor, yang dengan sengaja merampas hak-hak korban perang dan pandemi demi kekayaan pribadi, keluarga, dan golongan.

Keserakahan manusia menguras kekayaan alam tanpa memperhatikan keseimbangan alam juga telah melahirkan banyak bencana alam di dunia ini, dan menjadi penyumbang kenaikan angka anak-anak yatim piatu.

Kondisi-kondisi yang demikian kiranya membuat kita merenungkan kembali makna yang terkandung dalam setiap ritual ibadah kita memasuki sepuluh hari kedua bulan Ramadhan ini.

Lima rukun Islam yang meliputi syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji pada dasarnya mencakup tauhid, penghormatan kepada sesama makhluk Allah SWT, dan kebermanfaatan kita bagi sesama.

Para wali ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa menggunakan tokoh-tokoh wayang untuk menyampaikan rukun Islam. Tokoh wayang Yudisthira misalnya, digunakan sebagai perumpamaan dalam menyampaikan bacaan dua kalimat syahadat.

Yudisthira adalah sulung dari Pandawa yang merupakan anak dari Hyang Dharma. Yudisthira menunjukkan sifat dan sikap ikhlas, sabar, tidak suka berselisih, dan lebih suka perdamaian.

Orang yang membaca Syahadatain semestinya juga bisa melahirkan sifat dan sikap sabar, tenang, tidak suka ribut, dan selalu mendamaikan dalam aktivitas keseharian.

Namun, apabila ada yang tersakiti dan menyangkut esensi dari beragama, berkemanusiaan, dan bernegara, maka Yudisthira akan berubah menjadi seorang raksasa yang sangat kuat bernama Dewa Amral atau Dewa Mambang.

Yudistira mempunyai umur yang panjang, dan mempunyai ajimat Kalimasada yang membawa kepada ketenangan, ketentraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan hakiki. Siapa yang memegang teguh ajimat Kalimasada akan bisa mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dunia akhirat.

Para wali menceritakan bahwa Yudistira akan meninggal apabila ada orang yang bisa membaca ajimat Kalimasada ini. Setelah ada yang membaca Kalimasada, bacaan syahadat Asyahadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah maka Yudistira kemudian meninggal dunia.

Yudistira menikah dengan Dewi Drupadi, anak dari Prabu Drupada. Secara resmi dia merupakan istri dari Yudistira, tapi dalam kehidupannya Drupadi adalah istri dari seluruh Pandawa Lima. Itu digunakan untuk melambangkan bahwa semua ibadah dalam rukun Islam harus menyatu dalam tauhid.

Pandawa yang kedua adalah putra dari Batara Bayu yang bernama Werkudara atau Bima. Bima mempunyai kuku Pancanaka dan senjata gada yang bernama Rujak-Polo atau Lukitasari. Bima berbadan gagah perkasa, bersuara keras, berbahasa ngoko, sangat disiplin, dan memegang teguh prinsip.

Para wali menggunakan Bima yang sangat disiplin dan memegang teguh prinsip untuk melambangkan shalat lima waktu, yang tidak bisa ditawar-tawar, kapan pun dan dimana pun harus dilaksanakan kalau sudah masuk waktunya.

Selain itu di dalam shalat tidak ada tingkatan sosial karena semuanya sama di hadapan Allah SWT. Ini dilambangkan dengan bahasa Bima yang ngoko, melambangkan bahwa manusia dan makhluk lain di alam raya ini "biasa dan sama saja" di depan Allah SWT.

Oleh karena itu, orang yang shalat harus bisa menempatkan manusia sebagai manusia serta menghormati dan menyayangi makhluk Allah lainnya karena kedudukannya sama saja di hadapan Allah SWT.

Bentuk wayang Bima adalah wayang bagus (ksatria) yang selalu melihat ke bawah dengan tangan dan kaki yang siap sedia.

Orang yang shalat juga harusnya selalu melihat ke bawah, selalu siap sedia memberi pertolongan dengan ikhlas kepada yang membutuhkan. Dan, kesiagaan untuk menolong kepada sesama makhluk Allah menghadirkan wajah bagus dan ksatria.

Bima mempunyai tiga anak, yakni Antareja, Gatot Kaca, dan Antasena.

Suatu saat, Bima melawan ular raksasa di laut. Berperang hingga di dasar laut, ia mendapatkan banyu Suci Perwitasari dan bertemu dengan Dewa Ruci, kejadian mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan bagi Pandawa.

Dalam menggapai tujuan dari shalat itu sebagai tanha anil fahsyaai wal munkar (pencegah perbuatan keji dan mungkar), orang harus berjuang membantu orang-orang lemah, orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Pandawa yang ketiga adalah Janaka atau Arjuna, putera dari Batara Endra. Arjuna mempunyai watak yang sangat halus, sangat ganteng, lembut, tanpa cacat, dan dijuluki sebagai Lananging Jagad.

Puasa di bulan Ramadhan bisa menyehatkan dan mencerahkan wajah orang-orang yang menjalankannya secara ikhlas, membuat jiwa menjadi halus. Kalau ada yang menyakiti, dia akan berkata, "saya sedang berpuasa".

Berpuasa juga bisa mempertajam pemikiran dan akal budi karena saat raga diistirahatkan, rasa dikembangkan.

Para wali melambangkan ketajaman berpikir orang-orang yang berpuasa dengan panah Arjuna yang bernama Sarutama.

Kecantikan dan kegantengan akan lahir ketika kita ikut merasakan penderitaan orang-orang miskin dan anak yatim piatu. Bukan cuma ikut merasakan, tetapi menimbulkan cinta yang sangat mendalam kepada kaum fakir miskin dan anak-anak yatim piatu.

Pandawa keempat Nakula, nama aslinya adalah Pinten. Para ahli mengatakan pinten berasal dari kata "pintar" dan "telaten", artinya bahwa untuk bisa membayar zakat, manusia harus pintar dan telaten.

Tidak cukup hanya dengan pintar, tetapi juga dengan telaten untuk mendapatkan rezeki agar bisa membayar zakat. Selain itu, dorongan untuk menunaikan zakat juga dilandasi oleh perhatian dan kepedulian kepada orang yang membutuhkan bantuan.

Pandawa yang kelima Sadewa nama aslinya Tang Sen, yang berasal dari kata tanggung jawab dan risen (risih). Sadewa adalah orang yang bertanggung jawab dan mempunyai rasa malu yang besar apabila sudah berharta, tapi tidak mempunyai kepedulian terhadap fakir miskin dan anak yatim piatu.

Oleh karena zakat maupun haji hanya setahun sekali dilaksanakan, maka ia menjadi anak kembar. Tetapi semangat untuk berbagi kepada orang miskin dan anak-anak yatim piatu harus dilaksanakan sepanjang waktu.

*) Nanang Sumanang adalah guru Sekolah Indonesia Davao, Filipina.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel